Sabtu, 14 Juni 2008

Tikaman!

Beberapa hari yang lalu saya mendapat semprotan keras dari seorang rekan kerja. Perihal gaya mengetik saya yang lamban. Saya tak terima! Maklum, saya mengettik di program komputer yang sama sekali baru dan belum pernah saya pelajari sebelumnya. Bukan Ms.Word, atau OpenOffice yang kini jadi primadona di kantor. Tapi di InDesign Cs, “Ngetik lu lambat banget, lama!” semprot teman saya. Hari itu hari deadline. Dengan wajah tertekan, saya menjawab pelan, “Ya, maaf...” Disusul serentetatan kejadian tak mengenakkan, dan saya malas menceritakannya pada Anda.

Sehari kemudian, saya ke toilet kantor. Saya tak perlu menjelaskan pada Anda apa yang saya lakukan di toilet cowok bukan? Secara saya juga cowok, yang jelas saya tidak melakukan oral atau hubungan terlarang. Rekan kerja yang kemarin mengkritik tanpa saya minta itu berada di situ. Dia sedang gosok gigi. Kran wastafel di toilet kantor kami menyala dengan sistem ditekan. Jika kita berhenti menekan, air pun berhenti mengucur. Saya yang masih dongkol mencoba mengawali perbincangan.

“Mau nginep kantor mas?”

“Iya,” jawabnya sembari berkumur.

“Tolong dong, tekanin krannya,” pintanya lagi.

Saya membantunya. Sebuah bantuan yang amat sangat kecil dan mudah dilupakan. Dan setelah itu, saya pikir saya tidak sedang membantu. Hanya melakukan yang saya bisa. Tak lebih.

Malam harinya, saya mendapat kabar tentang beberapa orang yang menggunjingkan saya dibelakang saya. Para penggunjing itu, selama ini ramah dan murah senyum pada saya. Mereka menggunjing kebiasaan saya yang nggak bisa melihat cowok manis, atau apapun itu. Kedekatan saya pada sejumlah cowok, dan gaya saya yang sering berlebay pada cowok. Mereka yang didepan saya tampak permisif pada sikap welcome saya pada sesama jenis, ternyata menggunjing dibelakang saya. Hati saya kolaps, lantaran ditikam dari belakang. Kenapa nggak berani ngomong langsung di depan saya? Mengapa mereka yang sering mengomentari saya ini bencong, malah berlaku seperti bencong?

Saya baru sadar. Rekan kerja yang mengkritik ketikan saya lambat, jauh lebih baik daripada mereka yang menggunjing saya dibelakang. Menyuarakan pemikiran dengan lantang, jauh lebih baik daripada memasang wajah yang tak sesuai dengan kata hatinya. Bertopeng? ya. Munafik? Bisa dibilang begitu. Atau bahasa lain yang lebih tepat menurut saya: menikam dari belakang! Lalu saya mulai mencoba mendefinisikan beberapa hal:

  1. Gentle atau jantan. Saya mengartikannya sebagai sikap ksatria. Apa itu ksatria? Berani bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. Misalnya, berani berbuat keliru, berani meminta maaf. Berani bersuara, berani bertanggung jawab atas apa yang telah disuarakan. Apa yang dirasakan, itulah yang diucapkan. Kalau di depan orang, kita berucap: ya! Lalu dibelakang orang itu kita berucap: nggak juga goblok! Artinya kita nggak jantan, menyuarakan satu hal saja tidak berani. Menyeragamkan hati dan mulut saja tak becus.

  2. Jujur juga identik dengan sikap ksatria. Sekali lagi menyuarakan apa yang ada dalam hati. Kalau lain dibibir, lain dihati? Berarti kita menipu diri sendiri. Sesuatu yang sangat tragis, lebih tragis dari koruptor. Menipu kok diri sendiri. Diri sendiri kok di tipu. Kalau jujur pada diri sendiri saja tak bisa, gimana mau jujur pada orang lain?

  3. Kalau bersikap jantan pada diri sendiri saja tak bisa, bagaimana mau menjantani orang lain? Entah itu menjantani lawan jenis atau sesama jenis, itu terserah Anda. Itu urusan Anda. Jangan bisanya cuma menjantani diri sendiri alias onani. Kalau cuma itu, saya juga bisa!

  4. Seringkali kita menghina bencong alias waria. Tapi sadarkah kita bahwa mereka lebih jantan? Mereka berani mengungkap jati diri dan identitas di depan khalayak. Berani mengekpresikan apa yang mereka rasakan. Dengan jujur, apa adanya. Bagaimana dengan mereka yang suka bergunjing di belakang orang lain? Mereka kalah dari waria. Mengungkapkan isi hati di depan satu orang saja impotent. Bagaimana mengungkapkan isi hati di depan orang banyak? Maka sebelum menista waria, cobalah belajar satu sisi positif dari mereka. Menyuarakan apa yang Anda rasakan pada orang lain. Atau kalau masih belum berani juga, masih demen bergunjing juga, silakan anda yang mengaku pria tulen bergunjing sembari memakai gincu!

Tidak ada komentar: