Tampilkan postingan dengan label a heart's screen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label a heart's screen. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 September 2008

Sarang Kuntilanak: Judul Baru, Gaya Lamaaa (Banget!)



Pemain : Zidni Adam Zawas, Ayu Andhika, Elena Lubis, Ikbal Azhari dan Diah Cempaka Sari

Skenario : Rihanna Prameswari

Sutradara : Ian Jacobs

Produksi : Mitra Pictures

Produser : Evry Wanda

Durasi : 90 menit




Tanpa bermaksud sok tahu, tapi setahu kami kalau mau membuat film apalagi bergenre horor, paling tidak harus punya konsep yang baru. Sekadar informasi, publik Asia saja sudah mulai jenuh dengan pemunculan perempuan berbaju putih dengan rambut tergerai sejak Mbak Sadako alis Samara (versi Amerika) menjadi gunjingan. Atau setan anak kecil ala Ju On, atau Jelangkung versi lokal. Jadi kalau ada film horor dengan setan perempuan berambut panjang atau anak kecil pucat pasi kayaknya bukan hal baru lagi, kecuali didukung dengan promosi yang gila-gilaan. Itulah sebabnya dari puluhan film dedemit made in Indonesia, praktis hanya Jelangkung dan Pocong 2 yang membekas di hati penonton. Sekonyong-konyong hadirlah Sarang Kuntilanak. Figur yang pernah diusung Rizal Mantovani dalam tiga jilid. Tanpa ada press screening dan gembar-gembor sebelumnya. Apakah produser dan sutradara nggak percaya diri dengan karyanya? Takut filmnya mendapat ulasan negatif para kuli flash disc?


Ceritanya sepintas mirip Jelangkung. Norman, Martha, Vero dan Willy, sekelompok mahasiswa yang ingin membuat film dokumenter. Saat menggodok konsep, muncul ide neko-neko mendokumentasikan dusun Kalimati. Sebuah pedesaan yang kini yak lagi berpenghuni lantara semua penduduknya telah tewas. Sebelum bertolak ke dusun angker mereka sudah diperingati Vivian, dosen muda yang diplot miterius dan pendiam. Vivian sebelumnya pernah melakukan penelitian di Kalimati. Imbauan Vivian tak digubris, mereka nekat mengunjungi Kalimati. Endingnya? Anda bisa tebak dengan benar tentunya.


Setelah menuntaskan film ini, kami berpikir tak ada hal baru yang ditawarkan film ini. Kalimati mengingatkan kami pada Ujungsedo, asal muasal Sri Sukma alias Mbah Putri pelantun sekar Durma (Kuntilanak) atau Angkerbatu, sarang Jelangkung. Gaya memunculkan hantu pun sami mawon. Mulai di kamar, rumah kosong, hingga si hantu ikut nonton film di cineplex, yang mengingatkan kami pada Tusuk Jelangkung. Nyaris tak ada yang mengejutkan di sepanjang durasi. Yang baru hanya wajah para pemain, dengan akting yang ya, begitulah. Pada beberapa scene para pemain terlihat panik betulan, panik harus berkating bagaimana. Adegan di air terjun dengan gerimis kecil-kecil kami akui indah. Setting tempat yang dipilih cukup meyakinkan untuk sebuah tema horor. Maaf hanya sebatas itu saja, karena ending film menjadi sebuah boomerang bagi kreator film ini. Tanpa kejutan!


Jelas sudah, Ian Jacobs bertanggung jawab atas beberapa kegagalan dalam film ini. Jelas sudah, menakut-nakuti penonton sama sulitnya dengan membuat penonton tertawa. Ketika banyak film komedi Indonesia malah 'ditertawakan' penonton, ketika banyak penonton mulai 'berani' menonton film horor sendirian, apakah Sarang Kuntilanak mampu membuat nyali para penonton pemberani menciut? Yang jelas, kalau film ini menuai keberuntungan kecil di daerah, kami tidak heran.

Narayana's Popcorn: cukup 1!


Jumat, 22 Agustus 2008

Oh Baby: Membuka Topeng Cinta Laura

Pemain : Cinta Laura Kiehl, Randy Pangalila, Ridwan Ghany, Tio Pakusadewo, dan Andy /Rif

Skenario : Cassandra Massardi

Sutradara : Cassandra Massardi

Produksi : MD Pictures

Produser : Dhamoo Punjabi dan ManojPunjabi

Durasi : 90 menit



Kontes Tari SMA telah memilih tiga besar. Saat itulah gadis bertopeng yang dijuluki Phantom (Kiehl) unjuk gigi di atas panggung dan melengserkan satu kontestan lain. Wizard (Andi) mencium bakat Phantom dan menawari kontestan putus sekolah itu masuk ke SMU Pekerti Luhur. Di sekolah unggulan inilah Phantom alias Baby menjadi loser. Nilai jeblok membuatnya terancam dikeluarkan dari sekolah. Kepala sekolah, PakYudo (Pakusadewo) menyuruh ketua Pengawas Harmoni Pendidikan (PHP) Benny (Ghany) mengawasi Baby selama menjalani bimbingan belajar. Kedekatan Benny membuatnya mengenal sosok Baby lebih dalam. Diam-diam Baby juga dilirik dan didekati Zarro (Pangalila), siswa ganteng, rival Baby di tiga besar. Menjelang grand final, Baby menyadari dirinya dalam bahaya.


Opening film meyakinkan penonton bahwa inilah suguhan musikal dengan latar siswa-siswi SMA yang enerjik dengan pergerakan cinta dinamis. Apalah daya, suguhan musikal yang ditawarkan Massardi terjebak dalam alur drama anak-anak SMA yang sangat sering dijajakan sinetron stripping pencandu rating belakangan ini. Untuk memancing tawa penonton, rumus yang dipakai Massardi sangat slapstick dan (agak) mengabaikan logika. Meracik drama musikal sepertinya tak perlu diembel-embeli gaya slapstick, kalau mau memancing tawa pakai saja kelincahan dialog dan situasi yang sedikit konyol. Belum lagi background Baby yang dilakoni Cinta sebagai orang susah rupanya tak benar-benar hidup susah. Baju-baju yang dipakai masih masuk kategori mewah. Padahal, opanya saja digaji dengan buku, tidak dengan duit. Aksen ojheck bechek belum juga ditinggalkan.


Dari sisi akting, sama saja kedodoran. Ridwan Ghany diplot kaku, dan memang terasa kaku. Sementara Randy juga belum mendapat karakter menantang. Anehnya, aktor sekelas Tio Pakusadewo pun terlihat kurang leluasa membawakan Yudo yang otoriter, sementara Andi /Rif tetap dengan gaya nyentriknya. Cara membangkitkan rasa haru pun terasa kuno, dengan mendatangkan hujan. Mengapa harus hujan? Moment seperti ini terlalu sering dipakai FTV dan lagi-lagi sinetron stripping kita! Yang patut dipuji dari film ini, setting tempatnya bagus, tata cahaya yang lebih bergaya dan nggak monoton, editing-nya rapi, dan tak bertele-tele dari segi durasi. Ringkas saja!


Kami sih membayangkan dan berharap Oh Baby jadi Step Up versi putih abu-abunya Indonesia. Apa daya, ide sebagus ini eksekusinya masih begitu-begitu saja. Tapi setidaknya, pesan moral yang disampaikan film ini jelas. Tentang memaknai betapa beruntungnya mereka yang masih bisa mengenyam pendidikan dan secara verbal karakter Zarro mengingatkan Baby: Selamat datang di dunia sekolah yang penuh topeng. Masalahnya, siap tidak Anda melihat mereka yang bersembunyi dibalik topeng? Bagi yang masih demen pakai topeng, beranikah Anda menunjukkan siapa diri Anda sesungguhnya? Mbak Cinta aja berani lho...


Narayana's Popcorn: dua cukup...

Jumat, 01 Agustus 2008

Kick 'N Love: Tendangan Yang Kurang 'Nendang'!

Pemain : Shareena Gunawan, Oka Antara, dan Ibnu Jamil

Skenario : Nico Hermanu

Sutradara : Heru Effendy dan Dennis Adhiswara

Produksi : Prominent Asia Pictures

Produser : Ika Sastrosoebroto

Durasi : 84 menit


Mendengar kata kick sebagai salah satu elemen judul, anda tentu membayangkan sebuah film dengan paduan sportivitas dan cinta. Ya, Nico Hermanu merancang skenario tim futsal D' Nagas, dengan Tyo (Jamil) sebagai bintang lapangan yang digilai banyak cewek. D' Nagas yang selama ini dikenal sebagai tim tangguh merekrut Budi sebagai pemain bayaran. Bersama Budi, D' Nagas memetik beberapa kemenangan. Gita (Shareena) yang hanya lulusan SMU bekerja di sebuah butik. Budi, mahasiswa dengan IP 1,5 terpacu melihat keuletan pacarnya, Gita dalam menggapai cita-citanya menjadi seorang desainer. Tanpa disengaja, Tyo bertemu Gita di butik saat menjemput ibunya di butik. Gita tampak tak suka, persoalan di masa lalu bergulir. Konflik merumit saat, Budi memergoki Gita diantar pulang Tyo. Amarah Budi berbuntut pada pengkhianatan tim.


Belakangan futsal menjadi tren tak terbantah. Dari anak-anak SMP sampai mahasiswa, futsal begitu diminati dan kerap dikompetisikan. Ide Hermanu melirik futsal boleh juga. Tapi patut dipertanyakan pemilihan Ibnu Jamil dan Oka Antara yang baru menikah. Meski akting mereka tak mengecewakan, imej ketuaan kok belum bisa ditepikan ya? Shareena Gunawan untuk ukuran pendatang baru tampil manis. Jika ditilik seluruh castnya, semua karakter dibawakan secara wajar. Masalahnya, hubungan antar karakter dan konflik yang dimunculkan kurang tajam. Lihat saja, kebencian Gita pada Tyo karena sepupu Gita terjerat narkoba. Rasanya, akan lebih tajam jika ada penjelasan tanpa kata, dengan kata lain gambar yang 'bicara'. Itu kalau kami boleh menyarankan lho. Belum lagi hubungan Tyo dan Gita yang terasa tanggung, cinta segitiga bukan ya?


Citarasa olah raga futsal sepertinya kurang pekat. Penggambaran kompetisinya sih dapet. Maaf kalau kami terlalu banyak kata tapi, unsur dramatisnya masih kurang. Jika berkaca pada film-film Hollywood, di setiap pertandingan dalam film selalu ada tone-tone tertentu yang 'sengaja' dinaikkan untuk kebutuhan film. Di bagian itulah perasaan penonton 'dipermainkan', penonton dibuat gemas lalu berakhir dengan dua kemungkinan, kelegaan kemenangan atau malah sebaliknya. Heru dan Dennis mencoba menjajalnya, dan kurang menukik. Ending film berlalu begitu saja. Cinta dan sportivitas terlalu jauh untuk dikaitkan, bukan berarti takmungkin disatukan. Beberapa sineas luar negeri berhasil mengemasnya. Anda ingat Tin Cup (1996) milik Kevin Costner dan Rene Russo, meski tak terlalu laris berhasil membuat juri-juri Golden Globe angkat topi. Bahkan lawakan para waria dalam drama volly Iron Lady pun tak meninggalkan sesi haru biru dan pesan yang ingin disampaikan. Positifnya, film ini yang sangat drama ini bersih dari unsur seks dan elemen-elemen tak penting lainnya. Gambar-gambar yang ditampilkan cukup efektif dan durasi tak dilama-lamakan. Untuk ukuran produksi pertama, Kick 'n Love tergolong lumayan (dengan sejumlah catatan diatas). J wyn/foto: dokumentasi Prominent

popcorn: 2 saja ah...plus satu botol air mineral



Karma: Adakah Daya Untuk Menghindar?


Pemain : Dominique Diyose, Joe Taslim, Hengky Solaiman, Him Damsyik, dan Jenny Chang

Skenario : Salman Aristo

Sutradara : Allan Lunardi

Produksi : Credo Pictures

Produser : Elvin Kustaman

Durasi : 90 menit


Sandra (Dominique) syok. Betapa tidak, saat bertemu dengan calon mertua ia disambut lemparan gelas Tiong Guan (Damsyik) calon kakek mertuanya. Sandra dan Armand (Taslim) berencana menikah dalam waktu dekat. Sebagai ayah, Phillip (Hengky) menyarankan kedua calon mempelai agar segera pindah rumah setelah menikah, tanpa alasan yang masuk akal. Armand menolak, bisnis keluarga yang sedang kacau menjadi salah satu alasannya. Belakangan, dari gunjingan para pembantu Sandra menyadari sesuatu yang buruk tengah mengancamnya. Belum lagi beberapa sosok wanita terus meneror Sandra selama ditinggal calon suami ke Batam. Melalui tukang foto langganan keluarga Guan, Sandra yang ketakutan mengungkap selubung misteri keluarga mertua. Ternyata tak ada sosok ibu yang hidup di keluarga Guan! Lalu tiba saatnya Sandra melahirkan. Dalam perjuangan antara hidup dan mati itu, wanita bergaun pengantin menyambanginya di rumah sakit...


Semula kami pikir sudah tidak ada yang bisa digali lagi untuk genre i-horror di negeri ini. Ternyata dugaan kami keliru! Kita lupa, bahwa saudara-saudara kita etnis Cina juga punya kepercayaan dan mitos yang belum banyak disentuh sineas negeri ini setelah Ca Bau Kan dan May tempo hari. Itu pun bukan horor. Salman Aristo menjajalnya. Mitos mengumpat saat menyetir mobil, tradisi menikahi mayat Cina kuno dan pertanda jasad yang belum rela pergi tergali cukup rapi. Bagusnya, Salman masih sempat menyisipkan selera humor yang kalem dan sedikit sentilan sosial. Karma menjadi salah satu horor elegan yang tak banyak mengobral teriakan kepanikan dan hantu yang banci tampil.


Melihat daftar cast-nya, Karma masih mengandalkan nama-nama lawas. Mencari wajah oriental yang bisa akting beneran bukan perkara mudah. Him Damsyik tampil total, minim dialog dengan gesture efektif membuat sosok Guan konsisten bikin penasaran. Dominique yang kurang meyakinkan dalam Berbagi Suami kini menunjukkan progress lumayan bagus. Film ini menjajikan sejak awal karena opening grafisnya yang apik, dan alur flash back foto yang tak lazim. Sayang, konsistensi flash back foto ini kurang dipertahankan.


Horor yang cerah untuk jiwa yang lelah pada tema film Indonesia yang belakangan makin seragam. Karma tampil dalam suasana siang yang tak kalah mencekam. Hantunya jarang muncul karena unsur drama yang ditabur Lunardi cukup pekat. Irama film macam begini akan mengingatkan kita pada bidan drama horor Asia, The Ring. Anda yang cermat mengikuti alur film tak akan kelelahan. Pada beberapa scene, Karma terkesan lengang. Semakin lengang lantaran setting rumah yang dipakai terdesain kaku dan tegas. Belum lagi jika Aksan Sjuman sang penata musik 'sengaja malas' membiarkan sebuah scene berlangsung sunyi. Lalu perlahan, suara gemerincing bertalu kuat, maka anda harus menyiapkan perhatian ekstra. Awas, jangan sampai.... J wyn/foto: Publicist Credo Pictures

popcorn: 3 dari 5



Kamis, 17 Juli 2008

Doraemon The Movie-Nobita's Dinosaur: Indahnya Persahabatan Mereka...


Skenario : Kozo Kusube dan Ayumu Watanabe

Sutradara : Ayumu Watanabe

Produksi : Fujiko-Pro

Produser : Daisuke Yoshikawa, Kumi Ogura dan Tatsuji Yamazaki

Durasi : 92 menit


Hati-hati kalau mau sesumbar! Melihat Suneo pamer fosil kuku Tyrannosaurus, Nobita yang tak mau kalah sesumbar akan menunjukkan fosil dinosaurus utuh. Tanpa disengaja, Nobita menemukan fosil telur. Kain pembungkus waktu milik Doraemon memperlihatkan bahwa fosil terlur itu berisi bayi Futabasuzukisaurus. Setelah menetas, Nobita menamainya Pisuke dan diam-diam memeliharanya di rumah. Pisuke dewasa membuat kehebohan di Jepang. Nobita dan Doraemon berupaya mengembalikan Pisuke ke zaman Cretaceous dengan mesin waktu. Celakanya, ada oknum lain yang membuntuti dan menyerang Nobita Cs saat memasuki mesin waktu. Bersama Giant, Suneo dan Shizuka, dimulailah petualangan Nobita-Doraemon di alam purba yang mahaganas. Belum lagi mesin waktu Doraemon yang rusak memperkecil kemungkinan mereka pulang ke rumah.


Bukan Doraemon kalau tidak aneh-aneh dalam berpetualang. Kali ini formula yang di racik Kozo Kusube dan Ayumu Watanabe benar-benar memutar balik waktu. Dari era Jepang Megapolitan menjadi Jepang purba. Paparan pembuka menuju konflik terkesan detail, kalau tak mau dibilang bertele-tele. Meski sudah mengedarkan lebih dari lima seri film di bioskop Indonesia, Doraemon masih saja setia memainkan ekpresi wajah untuk memancing tawa. Slapstick! Terkesan Basi? Tunggu dulu, pasar yang disasar film ini adalah anak-anak kecil hingga mereka yang masih dibangku SD. Jadi jangan heran mereka akan tetap tertawa lepas. Jangan heran pula, kalau orang dewasa masih saja bisa ketawa. Ingat, amunisi Doraemon terletak pada usia serial kartunnya. Di Indonesia saja, tayangan kartunnya tahun ini memasuki usia 18 tahun. Tentu Doraemon selalu menarik perhatian mereka yang selama ini menjadi penggemar loyal si robot kucing.


Sekedar mengingatkan, menurut penulis komik ini Fumiko Fujio (70) Doraemon lahir pada tanggal 31 September 2112, dengan berat badan 129,3 kg dan tinggi badannya sama 129,3 Cm ini sengaja dikirim oleh cicitnya cicit Nobita, Sewashi untuk membantu Nobita mengatasi sifat malasnya. Pertama kali terbit tahun 1969, dan pada 1973 serial animasinya beredar. Bisa dibayangkan, ikon robot ini sangat 'mendarah daging' dikalangan pemirsa negeri matahari terbit. Setiap akhir pekan, Doraemon masih setia menyambangi pemirsanya. Gaya bertuturnya seolah tak mampu tertembus perubahan jaman. Artinya, Anda pun akan merasa aneh jika kemasan Doraemon mendadak berubah.


Dari segi teknik animasi, Nobita's Dinosaur tak jauh berbeda dengan jilid sebelumnya. Sangat klasik, dan cenderung enggan beranjak dari pakemnya. Termasuk cara Dopraemon mengolah ending film secara dramatis disertai tetes air mata. Petualangan di tempat asing akan selalu disertai moment perpisahan. Semakin mengiris, lantaran musik pengiring ditimpali orkestrasi spesialis penyayat hati. Satu lagi yang khas, Doraemon tak pernah bisa lepas dari pesan moral persahabatan. Saat Suneo tertarik pada tawaran musuh, pulang ke Jepang secara instan, Giant memilih tetap setia pada Nobita yang menyelamatkan nyawanya saat akan jatuh ke jurang. Bahkan seorang Giant yang preman pun masih punya sisi baik yang layak dibanggakan. Begitulah Doraemon! Pintar mengemas sesuatu yang klasik menjadi suguhan yang selalu dinanti dan bisa dinikmati penggemar loyalnya. Tak banyak serial kartun yang selegendaris penggila Dorayaki.


Narayana's PopCorn: 2 cukup beda rasa tapi...sesuai dengan filmnya klasik tapi lain packaging!

Anda Puas, Saya Loyo: Sepertinya, Inilah Sampah Audio Visual!


Pemain : Yeyen Lidya, Andi Soraya, Komeng, Bowby Tince, Sandy Tumiwa&Ryan Syehan

Skenario : KK. Dheeraj

Sutradara : KK Dheeraj

Produksi : K2K Production

Produser : KK Dheeraj

Durasi : 90 menit


Alkisah, Inem (Lidya) yang hobi main sepak bola dipaksa menikah ayahnya (Mastur), namun yang terjadi malah insiden lantaran Inem menyuruh Sisi banci (Tince) menggantikannya sebagai mempelai. Inem akhirnya disuruh merantau ke Jakarta menjadi pembantu Wisnu (Tumiwa). Belakangan sahabat Wisnu, Rendra (Seyhan) menyukai Inem. Jalinan kasih beda kasta pun terajut. Di lain pihak, Kang Cut (Komeng) pulang kampung dan menggaet adiknya Inem, Tarjin (Bedu) dan Bejah (Onshu) untuk bekerja ke Jakarta. Di sanalah Trajin dan Bejah menjadi pegawai Tante Tetty Qadi Pinky (Soraya). Jakarta mempertemukan kakak beradik berlogat Jawa.


Cerita klasik dekade 70-an tentang pembantu yang (kebetulan) bernama Inem pernah diangkat ke layar lebar. Kala itu, generasi bunga Titik Puspa dibawah arahan Nya Abbas Akup menyabet piala Antemas FFI 1977 lewat Inem Pelayan Sexy sampai dibuat trilogy termasuk versi lain bikinan Mochtar Soemodimedjo, Inem Nyonya Besar. Entah apakah KK Dheeraj bisa mengulang sukses yang sama. Tapi dari judulnya saja Anda tentu bisa menebak Anda Puas Saya Loyo akan melawak di area sekwilda (Sekitar Wilayah Dada). Nama-nama yang hendak dijual antara lain aktris sensasional Andi Soraya dan spesialis 'Bisik-Bisik' dini hari Yeyen Lidya. Cukup memprihatinkan melihat para pemain berbakat seperti mereka seolah dibiarkan begitu saja. Tak terarah, begitulah kesan yang membekas saat anda menonton. Nama lama seperti Ryan Seyhan dan Sandy Tumiwa berakting tak ubahnya pendatang baru yang belum terpoles. Entah apa yang terjadi di lokasi syuting.


Kalau maunya menggarap film komedi, (slapstick pula!) kenapa tak total berkutat pada adegan-adegan konyol sekalian? Pengembangan unsur drama yang maunya menyentuh, dengan memasukkan elemen Ryan Seyhan-Sandy Tumiwa tak memberi hentakan apa pun dan malah mengkhianati unsur komedi. Jika mau berkaca pada Dono-Kasino-Indro, nyaris semua adegan mereka terangkai slapstick. Kadang maksa malah. Tapi jualan kekonyolan dan konsistensi mereka pada adegan salah ini salah itu mentahbiskan mereka sebagai legenda slapstick yang dikenang sepanjang masa. Unsur drama yang dipercikkan tak sampai menggugurkan fondasi slapstick. Musik bikinan Kasino Cs pun memperkuat imej slapstick. Mereka nggak maksain memasukkan unsur pop demi menaikkan kelas dan pamor.


Kami sangat sadar membuat karya seni berjenis film layar lebar tidak gampang. Baiklah, kami berhenti bernyinyir ria dan mencoba berfikir positif (dan menemukan sisi positif) begini, ada nama Komeng, Bedu dan Ruben Onshu di film ini. Merekalah tiga senapan tawa yang bisa dibidik mengocok perut penonton. Bedu dan Ruben cukup leluasa mengembangkan unsur komedi dan bukan Komeng namanya kalau tak becus berimprovisasi. Ia terbukti lihai melucu. Ialah penyelemat muka film ini. Tak terbayang jika tanpa Komeng, apa jadinya film ini? Sepertinya, KK Dheeraj terlalu PD menggarap skenario, film dan merogohkocek untukfilm macam begini! Dengan track record dua film sebelumnya Genderuwo dan Skandal Cinta Babi Ngepet, anda bisa memprediksi sendiri seperti apa eksekusi Anda Puas Saya Loyo. Awas, jangan sampai Anda loyo beneran sekeluar bioskop!


Narayana's Pop Corn: i have no pop corn for this movie!

Jumat, 11 Juli 2008

Liburan Seruuu...!!: Pakai Sepatu Anak-anak Yuukkk?!


Pemain : Ken Nala Amrytha, Raja Intan Permata, Arsenna Moch. Rahadi&Quinsha Jasmine Haq

Skenario : Tian Pranyoto Gafar

Sutradara : Sofyan D Surza

Produksi : Alenia Pictures

Produser : Ari Sihasale&Nia Sihasale Zulkarnaen

Durasi : 97 menit


Nala (Amrytha) dan Tama (Permata) berlibur bersama kedua sepupu mereka Reno (Arsenna) dan Inka (Jasmine) ke rumah Tante Canda (Cinthya Lamusu). Petualangan mereka dimulai sejak berangkat dari stasiun Gambir, mereka ketinggalan kereta karena keteledoran Momo (Minus C. Karoba). Petualangan mereka semakin seru setelah Nala menerima peta misterius dari Baja dan Inka diculik. Dengan kecerdasan Nala Cs, Inka berhasil dibebaskan dan berupaya melapor polisi. Namun belum sempat niat itu diwujudkan, Nala dan sahabat-sahabatnya terjebak di sarang para penculik. Di sinilah upaya Nala, Baja, Tama, Inka, Reno dan Tante Canda diuji. Peta misterius itu mengantarkan mereka pada sebuah penemuan yang tak terduga.


Rindu juga melihat ayah bunda dan si buah hati nyamil pop corn sembari duduk menghadap ke layar lebar. Sebuah fenomena langka paskasukses Petualangan Sherina. Maklum, semenjak itu nyaris semua tema film diperuntukkan remaja ABG, lajang, hingga kaum berumur. Apalagi mengharap acara sehat di layar kaca. Meski banderol acara menggunakan kata 'cilik', 'junior' dan 'anak', tetap saja lagu yang dibawakan dan kemasan acaranya sekian tahun lebih tua dari elemen pendukungnya. Alenia melirik sempitnya space untuk anak-anak dengan menggelindingkan Denias dan kini Liburan Seruuu...!! Apa senjata yang dimiliki Liburan Seruuu...!! untuk menyaingi summer movie dan film Indonesia lainnya?


Pertama, musik. Elemen ini terasa sangat kuat. Dian HP menjadi 'first lady' dengan menggubah tiga lagu baru I Love U Full, Liburan, dan Holiday. Belum lagi, beberapa lagu karya maestro lagu anak-anak A.T. Mahmud. Terus terang tanpa lagu-lagu tersebut, film ini berpotensi boring. Spirit lagu anak-anak yang riang diterjemahkan dalam gerakan yang sederhana dan lincah oleh Ari Tulang yang juga muncul sebagai cameo. Musik dan tari terasa 'nyatu' banget. Ketika tone film mulai loyo, musik Bu Dian HP menimpali dengan energi positif.


Kedua, casting. Akting anak-anak memang tak bisa dibandingkan dengan lakon senior macam Ira Wibowo dan Berliana Febrianti yang sangat keibuan di film ini. Anak-anak tampak natural, meski cara berdialog mereka di beberapa scene terkesan monoton. Tapi semua kelemahan ini segera tercover nyanyian-nyanyian mereka. Mendengar anak-anak bernyanyi membuat film bersetting Jakarta, Tawang Mangu, Kaliurang, dan Semarang ini sejuk dan teduh. Pesan yang disampaikan Liburan Seruuu...!! nggak ribet, “Yah..dimana-mana orang jahat kan selalu kalah dengan orang baik”. Simple bukan? Dan tak sulit untuk diterima oleh anak-anak. Ketiga, setting tempat. Hampir seluruh lokasi pengambilan gambar berada di alam bebas. Keindahan air terjun Gerojogan Sewu Tawang Mangu dan alam hijau Kaliurang terbingkai menawan. Rupanya film ini hendak mengajak anak-anak kembali ke alam. Tak salah mengajak buah hati ke mal, tapi jangan sampai mereka tak tahu bentuk pohon pinus, buta manfaat hutan, dan suara tetes air dalam gua.


Anggap saja melalui Liburan Seruuu...!! anak-anak mendapatkan kembali 'habitatnya'. Sebuah film yang sangat polos, spontan dan sesuai perkembangan usia mereka. Mengapa kami katakan demikian? Karena film ini tidak mengandung kekerasan, mistis, percintaan dan perilaku seksual. Scene penculikan pun di-design dengan gaya jenaka. Maksudnya, mengajak anak-anak menganalisis masalah, mencari clue dan memperlihatkan pentingnya kerjasama menghadapi persoalan. Film ini sangat anak-anak. Dialognya pun khas dan belum beranjak dari patron kanak-kanak. Anda yang telah dewasa bukan berarti kehilangan hak untuk menyaksikan karya Sofyan D Surza. Tapi Anda diminta untuk menyesuaikan diri dengan mood anak-anak. Bagi orang tua, ending film ini gampang ditebak, tapi bagi buah hati Anda bisa jadi film ini menggemaskan dan sangat dinanti akhir kisahnya. Saatnya Anda memahami dunia anak-anak. Bukankah untuk mengukur seberapa jauh anak Anda melangkah, Anda harus mengetahui dan 'mengenakan' ukuran sepatu mereka?



Narayana's Pop Corn: 2 pop corns, agak ngantuk makanya butuh camilan beneran

Rabu, 25 Juni 2008

Tiren (Mati Kemaren): Suzzanna Era Milenia!


Pemain : Dewi Perssik, Aldi Taher, Renee The, Baron Hermanto, Deriell Jacqueline, dan Kiwil

Skenario : Nestor Katanya

Sutradara : Emill G. Hamp

Produksi : Maxima Pictures

Produser : Ody Mulya Hidayat

Durasi : 90 menit


Alangkah syoknya Ranti (Dewi Perssik), mendapati Leo (Renee The) pacarnya asyik 'bermain-main' diranjang dengan Maya (Deriell Jacqueline). Tak mau mendengar penjelasan Leo, Ranti lari menuruni tangga dan terpeleset. Pendarahan di wajah dan mulut tak ayal membuat Ranti meregang nyawa. Tak terima dengan perlakuan yang dialami anaknya, Herman (Baron Hermanto) sengaja tak melepas tali pocong jasad Ranti. Niatnya, agar Ranti menuntut balas pada mereka yang telah menyakitinya. Selanjutnya, ada bisa menebak pembalasan macam apa yang dilakukan arwah penasaran Jeung Ranti.


Pocong sudah menjadi 'jodoh' si goyang gergaji. Setelah Tali Pocong Perawan merebut perhatian satu juta penonton lebih. Dewi masih belum bergerak dari keseksian dan suara seraknya yang ah... begitulah. Adegan pembuka dengan gaun terusan mini lagi ketat, dibalut kerudung mengingatkan kita pada hantu sexy Si Manis Jembatan Ancol ala Kiky Fatmala dan Diah Permata Sari. Di beberapa adegan, Tiren terasa sangat Suzzanna! Kalau di era Suzzanna ada tokoh Bokir, Dorman, dan S.Bono yang selalu setia mendampingi si ratu horror dalam Petualangan Cinta Nyi Blorong dan lain-lain. Di Tiren generasi Bokir diteruskan Kiwil, Yadhi Sembako dan Budhi. Mereka jadi bulan-bulanan setan yang tak pernah gagal mengundang tawa penonton. Belum lagi adegan perempuan (dengan kaki tak menginjak tanah) membeli sate, “Beli satenya bang...”. Anda ingat adegan Sundel Bolong Suzzanna naik becak? Adegan seram versi 80-an itu dikemas ulang dengan tensi yang bisa Anda rasakan sendiri.


Dari segi akting, berani adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan adegan Dewi Perssik Cs. Maklum, dari segi kekuatan akting, empat karakter utama film ini tak terlalu kuat namun mampu mencuri perhatian penonton lewat keberaniannya. Apalagi ada amunisi tambahan, Sarah Azhari. Tak bisa dibantah lagi kan? Patut diberi kredit tersendiri, beberapa scene 'hangat' yang mengundang sorak-sorai penonton. Cukup banyak scene hangat dan tak sedikit scene itu berujung pada kengerian. Sutradara Emil G. Hamp tampak terampil 'memainkan' empat pemain itu dalam scene-scene 'hangat'. Sekadar catatan, Hamp memiliki riwayat menyutradari sejumlah 'esek-esek' pada dekade 90-an, menjelang mati surinya film Indonesia. Dialah yang mengarahkan sejumlah ikon bom seks Ibra Azhari, Reynaldi, Febby L. Lawrence, dan Windy Chindyana dalam Hukuman Zinah, Lampiasan Nafsu, dan Selingkuh (yuuukkk...).


Pemunculan hantu dalam Tiren sama seperti film-film lain. Klasik dan tak lagi istimewa. Belum juga bergerak dari kamar tidur dan area kamar mandi. Konon, dua tempat tersebut memang lembab dan jadi tempat favorit para lelembut. Kalau toh anda 'terpaksa' kaget, itu karena dentuman aransemen scoring Andi Rianto yang kelewat 'keras'. Cerita yang dibangun Nestor Katanya memang banyak yang melompat-lompat, logika jadi agak terabaikan. Kalau dari genre-nya saja (horror) sudah tanpa logika, skenario karya Nestor pun terasa sah-sah saja. Yang patut disayangkan, adegan di dalam poster kok nggak muncul di sepanjang durasi ya? Juga ending film yang terkesan bertele-tele, seolah ingin menggenapkan durasi menjadi 90 menit pas. Lucu dan menyegarkan sih, tapi kurang efektif untuk memperkuat citarasa horor.


Secara keseluruhan, Tiren seru dan sangat menghibur. Meski agak bingung juga merunut pesan apa yang Anda dapat sekeluar dari bioskop. Kalau Dewi Perssik mengkhususkan diri dalam genre pop corn renyah macam Tiren, bisa jadi dia akan menjadi the next Suzzana. Yang harus diingat, legenda horror sekelas Suzzana pun bisa bermain serius dan masuk nominasi Piala Citra dalam Pulau Cinta. Inilah PR bagi janda Saipul Jamil untuk terus mengasah kemampuan beraktingnya, agar tak melulu dipandang sebelah mata. Sanggupkah dirimu Dewi?



Narayana's Pop Corn: 2 pop corns, mau 3? Bilang sama penjualnya gini: Bang, beli pop cornnya bang...(Ala sundel bolong Suzzanna) hi...


Sabtu, 14 Juni 2008

Sumpah Pocong Di Sekolah: Sumpah, Nothing Special!


Pemain : Marcel Darwin, Fandy Christian, Hardi Fadhillah, Joshua Pandelaki, dan Alex Komang

Skenario : Abe Ac, dan Awi

Sutradara : Awi

Produksi : Maxima Pictures

Produser : Ody Mulya Hidayat

Durasi : 90 Menit


Gara-gara kepergok mengundang penari telanjang di asrama sekolah, Ramon (Marcell Darwin), Evan (Hardi Fadhillah), dan Dimas (Fandy Christian) terancam dikeluarkan dari sekolah. Tiga anak badung ini menolak tuduhan dan berani disumpah pocong demi membuktikan mereka tak bersalah. Sejak itu, teror dari alam lain menghantui mereka dan menyeret ayah Ramon, Pak Heru (Alex Komang).


Dibutuhkan ide original dan masuk akal, agar tema horor dapat diterima penonton. Celakanya, film ini sama sekali tak menawarkan hal baru. Tema hantu di lingkungan akademisi sudah sering diangkat di layar lebar. Hantu Bangku Kosong, Ada Hantu di Sekolah, Mirror sampai 'lawakan' Gotcha. Rumusnya pun sama, sekelompok siswa merencanakan hal konyol (kalau tak mau dibilang bodoh), terjebak masalah gaib, jatuh korban, dan belakangan ada flash back asal muasal hantu itu ternyata... (anda bisa mengisi titik-titik ini dengan tebakan Anda sendiri). Yang membuat film ini beda, kenekatannya mencomot beberapa ide dari horor Jepang! Jangan kaget, kalau ada adegan setan perempuan berambut panjang keluar dari layar TV, atau saat naik lift ada setan mengintai di kaca-kaca lift, dan adegan keramas di kamar mandi. Atau adegan saat tiga anak badung itu bertemu ibu Sonya, dan menunjukkan ruang yang dicari Bu Guru. Tiga telunjuk menunjuk arah yang berbeda, mengingatkan kita pada adegan mencari gunung payudara dalam film Maskot. Belum lagi kontinuitas gambar adegan yang agak kacau. Entah, cerita ini hanya fiktif belaka, dan kalau ada kesamaan adegan dan nama tokoh hanya kebetulan belaka (kebetulan yang berulang-ulang!)


Berakting dalam film horor bukan hal gampang, ini yang perlu dicatat para bintang muda. Asal kaget, asal teriak bukan satu-satunya jalan mengekspresikan rasa takut. Bahkan, Marcell Darwin pun tak bisa menterjemahkan rasa takut tadi dalam teriakan dan tangis ngeri. Begitu juga barisan aktor pendukung Arief-Rahman-Saleh yang memporakporandakan grand design horror menjadi komedi tak masuk akal saat bertemu hantu. Mimpi liar Ramon dengan guru Bahasa Indonesia cantik juga bukan adegan yang penting, karena diujung film tidak ada hubungan afeksi yang kuat antara ramon dan Bu Sonya. Kalau sudah begini, kita hanya bisa berharap dari Alex Komang dan Henidar Amroe. Porsi mereka yang tak banyak, otomatis tak berfungsi banyak menghidupi jalan cerita. Adegan flash back yang diperani pelakon senior cukup menjanjikan.


Gangguan lain datang dari elemen teknis, editor dan sound pantas bertanggung jawab atas terjadinya pengulangan dialog Marcell Darwin di awal film. Andi Rianto juga agak ber-lebay dalam menggarap score. Adegan yang nggak sebenarnya tidak menyeramkan, dipaksakan terlihat seram dengan dentuman musik Andi. Kesan suram berlebihan juga terlihat dari darah yang tumpah ruah bagai saus fast food bernampan lantai. Sementara pemunculan hantu sendiri datang dari arah yang bisa ditebak dengan tepat oleh penonton sebelumnya. Ah, sudahlah! Tak perlu berpanjang kata, biarkan kecerdasan penonton yang menentukan berapa hari film ini bertahan di bioskop-bioskop kita. Catatan untuk para sineas lain yang ingin menjajal peruntungannya di lahan gaib, please...be original!



Narayana's Pop Corn: 1 pop corn saja! Air putih bawa dari rumah, secara beli juga pakai uang...


Jumat, 13 Juni 2008

Fiksi: Bagaimana Mengakhiri Sebuah Kisah?


Pemain : Ladya Cheryl, Donny Alamsyah, Kinaryosih, Rina Hassim, Soultan Saladin, dan Inong

Skenario : Joko Anwar dan Mouly Surya

Sutradara : Mouly Surya

Produser : Parama Wirasmo, Tia Hasibuan, Sapto Soetarjo

Produksi : Cinesurya Production

Durasi : 90 menit


Alisa (Cheryl), gadis pendiam yang tak pernah dekat pada ayahnya terobsesi pada seorang penulis, Bari (Alamsyah). Ia membuntuti Bari hingga menyewa rumah susun disamping rumah Bari. Cinta Alisa membuatnya kalap. Ia membantu Bari mengakhiri cerita-cerita fiksinya yang tak pernah selesai dengan cara mengejutkan! Setelah berhasil membantu Bari menemukan akhir fiksi-fiksinya, kini giliran Alisa mengakhiri kisah cintanya pada Bari dengan cara yang harus Anda saksikan sendiri.


Semua anggota geng cewek Ada Apa Dengan Cinta? Plus Rangga kini sudah jadi 'orang'. Termasuk Ladya Cheryl yang berwajah sendu disulap menjadi perempuan kalem dengan tabiat yang jauh dari kata kalem. Aktingnya yang sangat depresi begitu memikat. Cheryl berhasil menjadi pusat perhatian sepanjang durasi bergulir. Wajah dan otak Alisa yang berlawanan arah bertemu di gesture Cheryl. Kisah kelam yang dibangun Joko Anwar, berhasil menggairahkan akting para pemain. Lihat bagaimana Donny Alamsyah tampak total, tak kalah dengan penampilan perdananya di 9 Naga. Kinaryosih? Porsinya sebagai supporting actress nyata prima!


Siapkan stamina dan konsentrasi saat 'membaca' adegan demi adegan. Cenderung melelahkan memang, karena Joko bercerita perlahan tapi pasti. Cerita kelam ini makin pekat dengan warna gambar yang tak pernah cerah. Mouly Surya membiarkan penonton ikut 'gila' bersama Alisa. Emosinya begitu negatif. Mengingatkan kita pada kekelaman Million Dollar Baby. Nyaris tanpa harapan. Fiksi mengajak kita berpikir tentang kehidupan yang ternyata sangat dekat dengan kematian. Cinta begitu dekat dengan kegilaan. Semakin kelam Fiksi, dengan musik minimalis Zeke Khaseli yang berulang-ulang dan cenderung monoton. Ini justru jadi kekuatan Fiksi, sangat mewakili kondisi psikologis Alisa. Sangat depresi dan tragis. Terlalu kelam? Biarlah! Inilah bentuk totalitas yang langka di industri film kita.


Sangat riskan, merilis film berat macam Fiksi di tengah hingar bingar summer movie dan liburan movie. Bahwa film harus menghibur? ya! Kami setuju. Tapi jangan lupa, menghibur saja tidak cukup. Harus ada hal baru yang ditawarkan sebuah karya seni. Bagi Anda yang mendamba kesegaran ide ditengah monotonnya tema film Indonesia, Fiksi salah satu jawabannya. Kapan lagi Indonesia punya drama thriller dengan tingkat ketegangan perlahan lalu menukik? Fiksi mempertegas garis regenerasi penulis dan pemain ulung di Indonesia. Masih berkutat pada nama Joko Anwar dan generasi AADC. Jika konsisten menjaga kualitas film yang dihasilkan, Mouly Surya bisa jadi salah satu sutradara muda (wanita) yang kelak patut diperhitungkan. Kita lihat saja kiprah Fiksi di Pusan International Film Festival. Semoga membawa harum nama Indonesia.



Narayana's Pop Corn: 3 dunkz, tambah softdrink oke juga...