Tampilkan postingan dengan label a heart's speak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label a heart's speak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 September 2008

Tip Mencegah Pemalakan

Saya mau berbagi tips kepada Anda, bukan sok menggurui karena ini berdasarkan pengalaman saya saat antre tiket kereta api tambahan Argo Lawu di Stasiun Gambir, Senin 1 September kemarin. Ceritanya begini. Saya datang ke Gambir jam 12.45. Sesampainya di ruang utama, antrean panjang tiga deret menyambut kedatangan saya. Sekarang saya tahu rasanya, betapa menderitanya ibu-ibu yang antre beras tiga Kilo dan minyak tanah tiga Liter. Menjelang loket, saya baru sadar kalau nggak bawa tunai. Niatnya sih mau beli dengan debit. Secara 21 dan XXI saja melayani pembelian tiket dengan debit, masak PT KAI yang sudah puluhan tahun mengabdi ibu pertiwi masih gaptek? Akhirnya saya menitipkan tas ke orang yang baru saja saya kenal, tapi bisa dipercaya lalu ke ATM BCA.

Baru saja saya mengambil uang dan belum sempat mengambil kartu, tiba-tiba seorang pria merangsek masuk. Saya kaget bukan main, kaget minta ampun! “Mas tolong, saya mau minta uang 50 ribu!” serunya pada saya yang masih terbengong-bengong. Saya bingung, lalu melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mata saya yang sudah empat ini terbelalak. Parahnya, kartu ATM saya nggak mau keluar. Begitulah kalau sudah keenakan masuk, lupa keluar. Lalu saya bilang dengan si Mas tak dikenal ini, “Sebentar dong Mas, ini kartu ATM saya kegigit.” Lalu saya minta tolong pada Pak Polisi untuk menangani ATM saya, berhasil! Tapi saya tak berani bilang pada Pak Polisi kalau pria yang masuk ke ruang ATM saya itu minta duit 50 ribu.

Setelah keluar dari ATM, pria sawo matang ini terus membuntuti saya. “Kalau mas nggak bisa ngasih saya 50 ribu, 30 ribu juga nggak papalah. Tolong, Mas saya mau pulang kampung ke Makasar tapi duit saya kurang Mas,” pintanya dengan wajah sememelas mungkin. Saya tahu, itu ekspresi memelas yang so artificial. Secara saya dijuluki Hillary Swank, hanya dua kali masuk nominasi Oscar dan 'hanya' dua kali menang! Saya menyibukkan diri kesana kemari, tapi si Mas yang tinggi tegap ini terus membututi. Risih, begitulah rasanya. “Kalau begitu 20 ribu saja, Mas. Kalau uang Mas 50 ribuan, sini saya tukarkan. Saya nggak akan lari kok, Mas,” kali ini si Mas yang entah namanya siapa itu merajuk.

Lama-lama saya sebal. Padahal saya hampir saja menaruh iba, tapi perasaan itu pupus begitu melihat si Mas mendapat recehan ribuan dari seorang perempuan. Solusinya sebagai penukar uang kilat membuat saya jadi makin sebal. Saya ingin melawan, tapi takut kalau ternyata dia diam-diam membawa senjata tajam atau apa. Kalau senjata tumpul, pastilah! Lalu saya mulai menantangnya begini.

“Kalau saya kasih kamu duit sekian puluh ribu, kamu mau ngasih saya apa?” tanya balik saya sambil menatap langsung mata si Mas. Saya mengubah air muka saya sedikit garang, segarang wajah Mbak Agnes Monica dalam video klip Godai Aku Lagi.

“Maksud, Mas?” tanya si Mas tak mengerti.

“Saya mau kasih duit 25 ribu, 30 ribu malah. Tapi saya minta sesuatu dari kamu,” jawab saya. Kali ini jantung saya deg-degan. Wajah saya terasa panas.

“Saya mau mengoral kamu!” kata saya lagi. Hasilnya?

Si Mas langsung bengong, dia mundur satu langkah.

“Mas, jangan begitulah. Saya kan lagi puasa, biar Allah yang membalas budi baik Mas,” katanya pelan.

Saya langsung berpikir, mana ada orang puasa kok tingkah lakunya ngompasin orang-orang yang lagi kesusahan nyari tiket pulang kampung?

“Sama saya juga lagi puasa, tapi saya mau ngisep kontolmu, kamu mau apa. Mau nggak? Kalau nggak, jangan harap dapat duit dari saya,” kali ini saya bekata tegas. Si Mas langsung mundur teratur. Saya nggak peduli kalau dimatanya wajah saya jadi mirip dengan wajah Mas Ryan, sehingga si Mas takut malak dan memilih mundur teratur. Lalu saya melenggang keluar stasiun menuju halte busway. Damn! I am beautiful, I am superpower girl! Bagi Anda Mas dan Mbak, juga adik-adikku di Kine, jangan takut dipalak. Gunakan jurus oral saya, dijamin mujarab. Saya buktinya!

Ketika saya menceritakan pengalaman saya ini pada teman saya, Sofie wartawan Metro TV (Saya sebut dia wartawan, bukan wartawati karena saya masih meragukan kewatiannya) , Saya bilang begini, "Makanya jeung, kalau kamyu dipalak preman atau siapapun itu. kamu bilang, aja begini: saya kasih kamu duit tapi saya mau oral kamu dulu. Pasti pria itu mundur teratur!"

Dengan kurang ajar Sofie menajwab begini, "Tapi Njik, kalau nanti si preman malah mau kuoral gimana?"

Saya berpikir, Cuih kok PD banget ya ada preman yang mau kamu oral. Ya Nggak?

Jumat, 11 Juli 2008

Janji di Atas Ingkar, Berjanjilah...

Yovie Widianto banget ya? Tapi ini adalah cerita yang baru saja saya alami. Pagi tadi saya bangun kepagian, jam 9. Saya mandi dan pastinya keramas, terserah Anda mengartikan apa soal keramas ini. Lalu saya mencukur jenggot dan kumis yang mulai tumbuh, mengenakan minytak wangi, body lotion dan tabir surya. Rambut saya minyaki dan dibuat mohawk atau sasakan gaya Artalyta-Rakhee Punjabi menurut pemimpin redaksi saya. Setelah itu saya memakai kaus kaki baru, kaus favorit dan (yang ini nggak penting, sumpah!) celana dalam favorit. Lalu berangkat dengan semangat juang kebangkitan nasional. Mengapa saya tampak necis hari ini? Karena saya akan bertemu narasumber favorit saya habis maghrib nanti.

Menjelang maghrib, si narasumber meng-SMS saya, Wayan, ternyata flash disc-nya ada virusnya ya? Padahal sebelum saya berikan padanya, sudah diformat ulang oleh redaktur fotografer. Barulah saya sadar bahwa selama hampir dua bulan ini flash disc itu baru dibukanya. Jadi salah siapa kalau kena virus? Salah gue? Salah temen-temen gue? Dia hanya bilang, nanti saya kabari lagi. Seperti SMS-nya yang sudah-sudah. Firasat saya makin tak enak. Lalu saya dan driver menembusi macetnya Jakarta menuju kediaman beliau. Saya meng-SMS dia, kalau posisi kami sudah on the way. Ternyata jawabnya pun seperti yang sudah-sudah, wah saya stuck diluar, besok pagi saya titip di resepsionis ya. Saya terdiam. Lalu melihat ke jalanan dari balik kaca mobil. Mulut mengumpat, tapi apalah untungnya bagi saya? Dengan mengumpat pun tak akan membuat flash disc saya pulang sesegera mungkin.

Padahal tadi pagi, saya sudah merangkai banyak kata membuat biografi singkatnya untuk mengisi salah satu rubrik saya. Rontok sudah ide brilian itu. Begini rasanya dipermainkan hanya dengan kata-kata. Rumusnya sama pula. Berjanji besok habis maghrib. Lalu menjelang jam J, dibatalkan dengan sejumlah alasan via SMS. Sebagai pengobat kecewa untuk janji yang dibatalkan, dibuatlah janji baru. Untuk kemudian diingkari dengan cara yang hampir sama. Atau kalau tidak, diberikannya solusi alternatif yang masih sumir, apakah itu cukup solutif? Apakah itu nyaman bagi pihak yang teringkari? Hampir dua bulan saya seperti hamster. Terjebak pada pola perputaran yang sama. Dan ironisnya, saya tak sadar sedang naik komidi putar tanpa terpikir menyudahinya.

  1. Saya teringat dua tahun silam, ketika saya berjanji dengan teman saya yang PNS itu untuk menginap rumah teman saya yang lain, di Mojosongo Solo. Tak dinyana siangnya, saya ketemu gebetan masa SMU dulu. Dia menawarkan nonton The Da Vinci Code, lalu saya mengamininya. Alhasil, PNS murka karena saya lebih mementingkan mantan gebetan ketimbang memenuhi janji. Sebagai tebus dosa, saya mentraktir dia nonton Lentera Merah di studio4. Sementara saya asyik bersama sang gebetan di Studio 1. Apa bedanya saya dengan narasumber saya kini? Begini rasannya diingkari janji. PNS dongkol, sama seperti saya kini mencari pelampiasan kekecewaan.

  2. Menurut saya janji tetaplah utang. Pepatah jaman jebot itu tetap berlaku sekarang. Why? Karena sekarang banyak pengemplang utang yang merasa melupakan utang itu sah-sah saja. Jadi kalau anda suka mewartakan kasus kredit macet dan buron pengemplang utang sementara anda suka mengingkar janji, maka anda sebelas dua belas dengan para pengemplang itu. Saya tegaskan, janji adalah utang. Utang adalah janji. Kalau anda mengemplang janji berarti anda mengemplang utang. Kalau Anda mengemplang utang sekian rupiah sementara anda sudah janji akan membayarnya, maka jelas sudah orang macam apa Anda.

  3. Saya sudah menempati kedua posisi itu, mengingkari janji dan jadi korban ingkaran janji. Keduanya sama-sama nggak mengenakkan. Saat mengingkari janji kita seperti dikejar-kejar sesuatu. Saat jadi korban ingkaran janji rasanya ingin sekali membubuhkan serbuk racun ke dalam gelas yang akan diminum si narasumber.

  4. Kalau anda mengingkari janji tapi tak merasa bersalah saya sangat salut. Salut pada muka tebal anda. Salut pada begitu banyaknya stok malu yang anda punya. Bisa-bisanya berkali-kali ingkar janji, berkali-kali malu, akhirnya kebal malu. Ada lagi yang perlu saya saluti dari orang macam begini?

Jumat, 27 Juni 2008

Mengapa Anjing Peliharaan Malah Lebih Galak Dari Majikannya?

Kemarin saya mewawancara seorang artes. Saya janjian dua minggu sebelumnya. Maklum artes yang satu ini baru saja mengundurkan diri dari trio vokal terkenal dan berada dibawah manajemen kondang di negeri ini. Akhirnya saya sampai di studio tempat kami nge-date. Karena si artes belum datang, saya menunggu sembari duduk-duduk dibawah, tak diberi sambutan apapun, meski sudah saya jelaskan siapa saya dan ada kepentingan apa. Lantaran artes belum juga datang, saya naik ke lantai atas, karena wawancara yang dijanjikan berada di lantai atas. Maksudnya, biar nggak usah naik turun dan si artis (yang juga langsung ke lantai atas) bisa langsung diinterview. Lebih ringkas buat saya dan waktu si artis termanfaatkan secara efektif.

Saya mengucap permisi pada dua karyawati yang sedang bergosip di lantai atas. Lalu saya duduk dengan tenang sambil melayangkan pandangan pada puluhan wajah artis yang terpampang di cover majalah dan dipigura di dinding-dinding studio. Salah satu dari dua karyawati penggosip ini menelepon seseorang. Saya tak tahu apa yang digunjingkan di telepon, sampai seorang pria berkaus loreng (entah dia satpam salah kostum, entah preman pasar tanpa identitas) melabrak saya begini:

“Mas! Bisa turun ke bawah nggak mas!”

Saya syok, dengan 'sapaan' pria ini.
“Siapa yang ngijinin mas naik ke atas! Mas tuh harusnya nunggu dibawah! Kalau saya bilang tunggu dibawah ya dibawah! Saya pikir situ masuk ke dalam mau kencing, nggak tahunya naik keatas! Saya sampai ditelepon orang atas, woi ada orang asing masuk ke atas kenapa didiemin!”

Belum sempat saya jelaskan, pria 'santun' ini berdendang lagi.

“Mas ini benar-benar nggak bisa menghormati orang bawah! Sekarang mas turun!”

Saya hanya menuruti 'petunjuk' sang pria sembari mengucap maaf, menahan tensi emosi.

Sampai dibawah, pria itu masih berceloteh sambil meninggalkan saya yang masih syok.

“Gue kirain masuk ke dalam mau ke kamar kecil nggak tahunya nyusup keatas!”

Sungguh, saya syok. Padahal dibawah saya jelaskan saya dari media ini dan sudah janjian dengan sang artis plus manajemennya. Tak sadarkah orang-orang ini bahwa salah satu majikan mereka mendapat kesempatan emas untuk saya publikasikan secara tak langsung? Tak sadarkah bahwa tamu siapa pun itu, entah wartawan atau tidak, berhak mendapat perlakuan yang layak. Tak bisakah mereka mengganti kata-kata mereka dengan begini misalnya, “Maaf mas, karena mbak XXXX dan manajernya berlum datang, silakan mas menunggu dulu di lantai bawah, karena lantai atas khusus untuk ini dan itu.”?

Yang lebih membuat saya syok, ketika sang manajer datang dan saya menyapa, mbak manajer bilang begini, “Oh mas dari tabloid ini ya, naik aja keatas mas kenapa malah dibawah?” Terpercik dalam benak saya untuk mengadukan perbuatan tak menyenangkan yang saya alami beberapa menit silam. Tapi saya sadar akan ada efek buruk yang pastinya menimpa para bawahan tadi. Begitu saya naik ke atas, dua karyawati keparat itu hanya tersenyum menunduk tanpa berucap satu kata pun. Mbak manajer bahkan menawari saya minuman botol, sembari berucap maaf karena artesnya masih di jalan tol. Selang berapa lama, si artes datang dengan senandung suaranya yang khas. Begitu melihat saya, dia langsung meminta maaf atas keterlambatannya dan kami mengobrol dengan hangatnya, bahkan bergosip ini itu dan tukeran nomor HP pribadinya.

Saya jadi teringat saat di Solo dulu, ada rumah orang kaya yang gerbang pintunya diberi warning: Awas Anjing Galak. Kenapa nggak ditulisi: Awas yang punya rumah galak? Saya jadi membandingkan dengan kejadian yang baru saja saya alami. Seandainya dua karyawati comel dan satu pria 'ramah' tadi adalah anjing galak, mengapa majikannya malah tidak lebih galak dari anjingnya? Mengapa peliharaan lebih galak dari yang memelihara? Mengapa karyawati dan si pria yang notabene bukan siapa-siapa malah lebih sadis dari tuan rumahnya? Saya membayangkan, dua karyawati anjing dan si pria anjing 'ramah' ini, belum jadi artes saja tingkahnya sangat 'santun', apa kabarnya kalau mereka jadi artes kaya dan dikenal publik ya?

Kamis, 19 Juni 2008

Dia kan 'yuuukkkk' juga...

Saya mendapat tugas mewawancara artes sinetron yang albumnya diganjar platinum. Yang film-filmnya tak bisa dibilang gagal secara angka penonton. Bungah sekali perasaan saya. Termasuk saat bertatap muka dengan sang artes yang selama ini hanya saya lihat di TV dan bioskop. Sebagai 'bonus', saya juga bertemu dengan sedap-sedapan mata yang lumayan banyak. Salah satunya, ada yang penampilannya tak jelek. Body lumayan cakep, pokoknya termasuk tipe saya. Anda tentu tahu tipe-tipe saya sangat berkelas! Si sedap-sedapan mata ini salah satu kru dari mbak artes sekaligus penyanye ini. Saya mulai belingsatan dan menyentil temen rekan kerja saya.

Jeung yang kaus merah lucyuuuu juga ya,” kilah saya.

“Yang mana sih?” tanya balik teman saya.

“Yang itu tuh...tu, baru saja keluar dari pintu, secara body oke lho bo'!”

“Oh, itu kan si !@#$%^*, dia ininya mbak artes sekaligus penyanyi kita,”

“Duh lucyuuuu deh, biar kata gak perfect body tapi teteup oks lho,”

“Ih...dia kan yuuuukkk juga!”

Nah, itu dia yang bikin saya senang tapi dahi mengernyit. Statement terakhir jeung rekan kerja! “Dia kan 'yuuukkkk' juga”. Maksudnya? Saya jadi teringat dengan salah satu acara gosip yang kini sudah tutup episode. Anchor-nya Jeung Peggy dan 'Jeung' Tata Dado. Jargon acaranya begini, “Ngegos Yuuukkk? Yuuukk ya, yuuukkk”. Apa maksudnya 'Yuuukkkk'?

Kalau 'Yuuukkkk' diartikan pernyataan setuju pada sebuah ajakan? Tidak keliru. Misalnya: ML yuk? Lalu saya menjawab ajakan tersebut: Yuuukkkk.....!

Tapi saya kok memaknai kata 'Yuuukkkk juga' yang meluncur dari mulut Jeung rekan kerja berkonteks negatif ya. Saya hanya mengatakan dia lucyuuu. Tapi teman saya menterjemahkan 'lucyuuu' versi saya sebagai pertanda naksir, berhasrat, dan bernafsu pada si sedap-sedapan mata. Kalaunaksir sih nggak. Berhasrat? Nyaris sih. Bernafsu? Iya banget! Sementara kata 'juga' dibelakang 'yuuukkkk' menandakan si sedap-sedapan mata sama dengan yang menaksir dalam hal ini saya. Bukan sama naksirnya tapi maksudnya lebih kepada sejenis dengan saya.

Saya bertanya lagi. Sejenis saya? Artinya saya juga termasuk kategori 'yuuukkkk' bikinan teman saya dong! Lalu kategori 'yuuukkkk' itu kategori yang bagaimana? Saya ini sejenis apa? Apakah Anda 'yuuukkkk' juga (sama seperti saya)?


Selasa, 17 Juni 2008

Dunia Milik Berdua

Saya tergelak saat teman saya memamerkan cara dia memanaje waktu. Ia mengaku tak pernah pacaran pada malam minggu dan hari Minggu. Saya hampir salut, sampai akhirnya dia bilang pacaran dia 'hanyalah' Senin sampai Jumat. Lumayan basi sih bercanda macam begini. Tapi semakin basi saat saya melihat sekretariat kampus saya dulu dipakai oleh segelintir mahasiswa untuk 'merenda kasih' dengan lawan jenisnya. Itu baru yang siang hari. Itu baru yang kelihatan. Itu baru yang lawan jenis, dan sejumlah catatan lain yang terlalu panjang kalau harus saya tulis.

Beberapa hari yang lalu saya melihat gaya pacaran yang membuat saya ingin muntah. Bukan karena saya iri lantaran sampai sekarang saya tak kunjung laku. Padahal harga diri saya sudah di diskon 50% plus ini dan itu. Sewaktu saya pulang kantor melewati trotoar, saya melihat seorang gadis duduk diatas pot tanaman yang berderet rapi menghiasi trotoar. Area pejalan kaki yang sumpek kalau dilewati dua orang berjajar itu semakin sumpek lantaran dihadapan si gadis (masih gadis nggak ya?) ada seorang jejaka (masih perjaka nggak ya?). Si pemuda berlutut dihadapan sang gadis sambil meletakkan tanggannya di paha pujaan hati, layaknya adegan dua sejoli saling rayu di film India. Gaya dan posisi mereka menghalangi saya yang hendak berjalan menuju pangkalan angkot.

Anehnya, mereka tak peduli pada saya (dan saya-saya yang lain, yang hendak melewati trotoar yang lebarnya tak lebih dari satu meter itu. Dengan dongkol, saya melintasi tanpa permisi. Saya heran. Tak adakah tempat lain untuk memadu kasih selain daripada trotoar? Belum lagi kalau ada pengendara motor yang ogah terjebak macet. Trotoar menjadi juruselamat untuk membebaskan mereka dari antrean panjang. Lalu apa kabarnyapara pejalan kaki? Mereka mungkin berpikir salah sendiri nggak punya motor. Salah sendiri nggak naik taksi. Salah sendiri nggak naik mobil. Bukan tidak mungkin para pejalan kaki sebenarnya punya alat transportasi, hanya saja mereka ingin mengurangi tingkat polusi Jakarta yang makin mencekik. Kalau saya, emang bener-bener nggak punya motor, apalagi mobil!

Saya ingin menyarankan pada dua sejoli yang hobi menjadikan trotoar sebagai taman cinta. Ada beberapa alternatif tempat kencan hemat tanpa harus menyunat hak parapejalan kaki:

  1. Kebun. Bagi orang-orang yang nekat, kebun bisa disulap jadi taman cinta. Apalagi kalau kebun itu terkenal angker sehingga tak ada yang sudi merambahinya. Kebun itu bisa jadi kamar darurat bagi anda yang sudah 'kebelet' banggetsss.

  2. Kios-kios kosong. Pagi hingga sore pemilik kios meraup untung. Malam hari, saat pemilik 'lengah', giliran anda yang meraup untung. Tanpa bermaksud menakut-nakuti, hati-hati pada razia pak polisi di kios-kios kosong. Jangan sampai niat anda mencari 'manfaat' menjadi mudarat gara-gara aparat. Ujung-ujungnya anda hanya bisa bilang: keparat!

  3. Kampus. Nah, buat anda yang mengaku kaum intelek jangan sok naif deh. Jangan hanya menghujat para ayam kampus kalau ternyata anda suka makan dagingnya. Kamar mandi kampus? Ruang kuliah?atau laboratorium? Tapi anda harus menutup telinga, apalagi kalau ada cerita-ceriti mistis seputar lahan kampus. Oh No!

  4. Tepi sungai. Agak maksa sih, tapi kalau menonton film Telaga Angker-nya Jeung Suzzanna anda akan tahu 'seni berpetualang out door'. Tapi jangan tanya kenapa kalau anda terkena azab sama seperti dalam film tersebut, mati gancet. Amit-amit 'kan?

  5. Kamar kos. Oh yessss! Ada segelintir orang berpikir, percuma dong bayar kos mahal tapi tak 'dimanfaatkan' secara optimal? Apa gunanya komputer, TV, dan tape? Mereka bisa mengaburkan desahan dan lenguhan dengan mengeluarkan alunan nada yang menghentak. Bukan begitu? Kalau anda bukan anak kos dan sedang mengencangkan ikat pinggang, anda bisa pinjam kamar kos teman dengan sejumlah 'kompensasi' pastinya.

  6. Pematang sawah. Nah, ini alternatif lain bagi anda yang gemar berpetualang out door. Hantu telaga sudah ada, hantu kebun tebu juga sudah diangkat dalam film Dukun A.S-nya WawanWanisar. Tapi hantu pematang sawah mungkin belum. Mau jadi pemerannya? Atau korbannya?

  7. Tempat piknik, kebun binatang misalnya? Kuburan? Atau ada ide lain yang lebih segar?

Minggu, 15 Juni 2008

Vodka!

Baru saja saya menyetrika baju. Lalu ada sms dari teman saya di Solo. Saya tak akan menyebut jenis kelaminnya apa. Di jaman serba susah dan serba gila ini, laki-laki yang manly pun belum tentu hanya doyan pada perempuan. Begitu pula sebaliknya. Dia bercerita tentang kejadian tak mengenakkan sehabis karaoke. Benar-benar karaoke di salah satu klub karoke berkelas, karena buka cabang di beberapa kota, jadi bukan ‘karaoke’. Saat bayar bon, alangkah syoknya teman saya karena di dalam kertas nota tertera pemesanan vodka. Padahal dia dan teman-temannya yang konon bebas alcohol itu, tak pernah pesan vodka. Alasan yang disampaikan para pelayan karoke simple. Mereka sepertinya melihat salah satu dari geng teman saya mengambil vodka. Dari ‘sepertinya melihat’ itu mereka menyimpulkan telah terjadi pemesanan vodka. Padahal teman saya tidak ambil satu botol pun. Mereka bahkan tak tahu bau vodka itu seperti apa. Untung tak jadi ribut, dan teman saya masih bisa menahan emosi. Adilkah ini untuk teman saya? Divonis untuk sesuatu yang masih ‘sepertinya melihat’?

Saya jadi ingat kejadian yang baru saja saya alami dan tulis di sini. Saya dituduh brondong saya kongkalingkong sama some body else demi mengorek informasi soal si brondong. Alasannya pun simple, dia menyimpulkan beberapa indikasi yang masih sumir. Adilkah ini untuk saya? Divonis untuk sesuatu yang masih ‘indikasi’? Sama halnya sewaktu beberapa bulan silam, dua teman saya si X dan si Y bertandang kerumah. Si X memperkenalkan pacarnya pada saya. Lalu saya memandangi pacar teman saya dengan detail dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan rambut lain yang bisa saya lihat pun tak luput dari perhatian saya. Lalu diam-diam si Y mengatakan pada si X bahwa saya mengincar pacarnya. Adilkah ini untuk saya? Divonis hanya gara-gara melihat dengan seksama sesuatu yang belum pernah saya lihat? Jadi bagaimana caranya agar kita bisa menjatuhkan vonis yang valid dan tepat sasaran?
  1. Biasanya kita menghakimi orang karena kita melihat gejala. Perhatikan dengan seksama dulu gejala itu dan berapa banyak gejala yang ada. Kalau cuma satu, itu tak cukup. Apalagi baru gejala, artinya hanya tanda-tanda, perlu bukti yang lebih kuat, misalnya anda melihat sendiri.
  2. Berapa orang yang melihat gejala yang anda lihat. Kalau cuma anda, itu tak cukup. Kalau ada orang lain, satu, dua atau tiga? Dan pastikan orang lain yang itu buta atau bisa melihat beneran. Kalau ternyata bisa melihat dengan jelas, pastikan juga apakah persepsi orang lain itu sama dengan persepsi anda? Kalau beda, itu juga tak cukup kuat untuk menghakimi orang.
  3. Kalau gejala banyak, saksi banyak dan persepsi sama, jangan buru-buru menghakimi. Seandainya karaoke tempat anda bekerja punya sistem delivery, pelanggan tentu tak sampai divonis mengemplang vodka. Setahu saya, masing-masing ruang karaoke punya telepon internal. Jadi kalau tamu yang sedang bernyanyi mau pesansesuatu tinggal telpon, dan pesanan diantar petugas dengan senyum. Dan kejadian seperti salah bon tak perlu terjadi.
  4. Dalam kasus saya, tuduhan kongkalingkong dan merebut pacar orang tak perlu terjadi jika semua dikomunikasikan dengan baik. Tak ada salah paham. Tak ada prasangka buruk pada teman sendiri. Lebih baik ribut didepan daripada kisruh dan membekaskan dendam dibelakang.

Sabtu, 14 Juni 2008

Tikaman!

Beberapa hari yang lalu saya mendapat semprotan keras dari seorang rekan kerja. Perihal gaya mengetik saya yang lamban. Saya tak terima! Maklum, saya mengettik di program komputer yang sama sekali baru dan belum pernah saya pelajari sebelumnya. Bukan Ms.Word, atau OpenOffice yang kini jadi primadona di kantor. Tapi di InDesign Cs, “Ngetik lu lambat banget, lama!” semprot teman saya. Hari itu hari deadline. Dengan wajah tertekan, saya menjawab pelan, “Ya, maaf...” Disusul serentetatan kejadian tak mengenakkan, dan saya malas menceritakannya pada Anda.

Sehari kemudian, saya ke toilet kantor. Saya tak perlu menjelaskan pada Anda apa yang saya lakukan di toilet cowok bukan? Secara saya juga cowok, yang jelas saya tidak melakukan oral atau hubungan terlarang. Rekan kerja yang kemarin mengkritik tanpa saya minta itu berada di situ. Dia sedang gosok gigi. Kran wastafel di toilet kantor kami menyala dengan sistem ditekan. Jika kita berhenti menekan, air pun berhenti mengucur. Saya yang masih dongkol mencoba mengawali perbincangan.

“Mau nginep kantor mas?”

“Iya,” jawabnya sembari berkumur.

“Tolong dong, tekanin krannya,” pintanya lagi.

Saya membantunya. Sebuah bantuan yang amat sangat kecil dan mudah dilupakan. Dan setelah itu, saya pikir saya tidak sedang membantu. Hanya melakukan yang saya bisa. Tak lebih.

Malam harinya, saya mendapat kabar tentang beberapa orang yang menggunjingkan saya dibelakang saya. Para penggunjing itu, selama ini ramah dan murah senyum pada saya. Mereka menggunjing kebiasaan saya yang nggak bisa melihat cowok manis, atau apapun itu. Kedekatan saya pada sejumlah cowok, dan gaya saya yang sering berlebay pada cowok. Mereka yang didepan saya tampak permisif pada sikap welcome saya pada sesama jenis, ternyata menggunjing dibelakang saya. Hati saya kolaps, lantaran ditikam dari belakang. Kenapa nggak berani ngomong langsung di depan saya? Mengapa mereka yang sering mengomentari saya ini bencong, malah berlaku seperti bencong?

Saya baru sadar. Rekan kerja yang mengkritik ketikan saya lambat, jauh lebih baik daripada mereka yang menggunjing saya dibelakang. Menyuarakan pemikiran dengan lantang, jauh lebih baik daripada memasang wajah yang tak sesuai dengan kata hatinya. Bertopeng? ya. Munafik? Bisa dibilang begitu. Atau bahasa lain yang lebih tepat menurut saya: menikam dari belakang! Lalu saya mulai mencoba mendefinisikan beberapa hal:

  1. Gentle atau jantan. Saya mengartikannya sebagai sikap ksatria. Apa itu ksatria? Berani bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. Misalnya, berani berbuat keliru, berani meminta maaf. Berani bersuara, berani bertanggung jawab atas apa yang telah disuarakan. Apa yang dirasakan, itulah yang diucapkan. Kalau di depan orang, kita berucap: ya! Lalu dibelakang orang itu kita berucap: nggak juga goblok! Artinya kita nggak jantan, menyuarakan satu hal saja tidak berani. Menyeragamkan hati dan mulut saja tak becus.

  2. Jujur juga identik dengan sikap ksatria. Sekali lagi menyuarakan apa yang ada dalam hati. Kalau lain dibibir, lain dihati? Berarti kita menipu diri sendiri. Sesuatu yang sangat tragis, lebih tragis dari koruptor. Menipu kok diri sendiri. Diri sendiri kok di tipu. Kalau jujur pada diri sendiri saja tak bisa, gimana mau jujur pada orang lain?

  3. Kalau bersikap jantan pada diri sendiri saja tak bisa, bagaimana mau menjantani orang lain? Entah itu menjantani lawan jenis atau sesama jenis, itu terserah Anda. Itu urusan Anda. Jangan bisanya cuma menjantani diri sendiri alias onani. Kalau cuma itu, saya juga bisa!

  4. Seringkali kita menghina bencong alias waria. Tapi sadarkah kita bahwa mereka lebih jantan? Mereka berani mengungkap jati diri dan identitas di depan khalayak. Berani mengekpresikan apa yang mereka rasakan. Dengan jujur, apa adanya. Bagaimana dengan mereka yang suka bergunjing di belakang orang lain? Mereka kalah dari waria. Mengungkapkan isi hati di depan satu orang saja impotent. Bagaimana mengungkapkan isi hati di depan orang banyak? Maka sebelum menista waria, cobalah belajar satu sisi positif dari mereka. Menyuarakan apa yang Anda rasakan pada orang lain. Atau kalau masih belum berani juga, masih demen bergunjing juga, silakan anda yang mengaku pria tulen bergunjing sembari memakai gincu!

Jumat, 13 Juni 2008

Lari

Kamis malam saya keluar kantor dalam kondisi lemas.
Bukan karena habis mengoral teman sekantor, tapi saya
capek pikiran. Saya yang dikenal nggak punya otak pun
bisa capek pikiran. Hebat ya? Malam itu saya berpikir
tentang teman sekantor saya yang menganggap
rekan-rekan kerjanya sebagai kompetitor. Saking
kompetitifnya, sampai dia nggak mau kalah dan
mendekati seniornya (atau menjilat?) demi mendapat
link-link jajaran selebritas. Kalau apa yang
diincarnya tak didapat ia curhat termehek-mehek pada
saya (yang juga dianggap rival ini). Kalau masalah itu
yang menimpa saya, it's ok! Memang beginilah yang
namanya kerja.
Tapi kondisi ini diperparah dengan masalah yang
menurut saya konyol! Sehari sebelumnya, dipagi buta
(pagi buta versi saya jam 08.15 WIB-Waktu Indonesia
bagian Banci-). Saya dituduh brondong berkongkalikong
dengan seseorang, dan itu menyakiti hatinya. Dia
memutus pertemanan kami. OMG, tak adakah masalah yang
lebih layak daripada sekadar brondong dengan
tuduhannya yang gak masuk akal? Ini bagi saya gak
penting lagi konyol! Ironisnya, ritme kerja saya jadi
agak ngelantur gara-gara dua persoalan beda kasta ini.
Saat translate gosip Hollywood saya melupakan esensi
dasar dan mendapat koreksi terparah dalam karir 3
bulan saya bekerja.
Hujan deras. Para malaikat 'bermain-main' blitz di
langit sana. Sesaat kemudian langit 'bersendawa'
dengan kerasnya. Jam 22.45. Saya naik taksi. Ndilalah,
seharian ini orang rumah tidak menelepon atau SMS.
Saya duduk di jok belakang. Ingin menangis, tapi malu.
Apa kata pak sopir, kalau ternyata penumpang yang
sepintas pria itu termehek-mehek. Sejatinya, hubungan
saya dengan brondong inipun masih abu-abu, tapi
mengapa ia harus marah? Mengapa saya jadi gundah bila
dia marah.
Hujan berlanjut, intensitasnya tanggung. Saya berada
pada titik paling sentimentil. Saya.ingin curhat pada
teman di tv1 atau PNS BPN, takut merepotkan secara
malam sudah larut. Ingin memutar MP3, koleksi lagu
saya berdarah-darah semua. Tampak dari balik kaca
jalanan melengang. Di jalanan yang saya lihat dengan
keempat mata saya, Tuhan seolah memutar pita seluloid
dosa-dosa termanis yang pernah saya buat. Dengan si
brondong, si arab, pak dosen UGM, si ini dan si itu.
Di bioskop Tuhan XXI itu, saya melihat diri Wayan
berperan sebagai lonte. Saya membuang muka. Lagi-lagi
saya berpikir Tuhan masih enggan membiarkan saya
tenang. Saya sadar, kepergian saya ke ibu kota hanya
untuk menghindari mereka yang wajahnya saya lihat di
'pita seluloid' tadi. Saya rasanya ingin mati di kamar
kos saja. Jakarta ternyata tak cukup menjadi tempat
pelarian saya. Lalu saya harus lari kemana?
1.Untuk mengusir sedih, beberapa hari ini saya lari ke
duania 3G. Di sana saya melihat kenalan saya coli.
Puas? ya. Saya puas. Tapi setelah mani itu tumpah,
perasaan sedih saya tak tumpah sama sekali. Mengendap
sampai pagi tiba. Tuhan tak ada di situ.
2.Keesokkannya, saya lari ke situs-situs biru, meski
warnanya tak sepenuhnya biru. Cokelat malah, dengan
bulu di sana-sini. Saya larut. Tapi apakah masalah ini
larut bersama situs-situs itu? Tak! bahkan sampai
pagi, dan pulsa hampir nol, kekonyolan itu tak pernah
tiba di titik nol.
3.Saya kangen dengan keluarga. Entah mereka sedang
apa. Lalu HP berdering. Seseorang yang entah namanya
siapa mengaku kenal saya dari chatting. Saya
menceritakan masalah konyol itu. Lalu dia bilang: Sini
aku peluk. Cukupkah itu? Setelah satu jam kami ngoceh,
masalah saya tak pernah jatuh dalam pelukannya.
4.Akhirnya saya berada di titik bingung. Antara
kesepian dan tak ingin ditinggalkan. Jakarta yang saya
harapkan bisa menjadi tempat pelarian ternyata masih
terlalu sempit. Karena teror itu masih membutunti saya
dari Nusukan ke Mega Kuningan. Akhirnya saya berpikir,
sudah saatnya berhenti melarikan diri. Dan
menghadapinya dengan segenap hati. Beranikah saya yang
kata mamanya Sofi bermental tempe ini?
“Lurus pak, sebelum apartemen Casablanca belok kiri,”
perintah saya mencoba menepis perasaan tadi.
Telepon berbunyi. Gerimis masih menitik. Dari ujung
sana, Wida teman saya bertanya, “Hey Jeung, udah
nyampai kos? Jij naik apa? Ik masih di bis neh...”
Thank God, i'm never alone.