Jumat, 11 Juli 2008

Tri Mas Getir: Sindiran Buat Para Artis Infotainment


Pemain : Tora Sudiro, Indra Birowo, Vincent Club 80's, Titi Kamal, Tino Saroengalo&Cut Mini

Skenario : Rako Prijanto&Monty Tiwa

Sutradara : Rako Prijanto

Produksi : Rapi Films

Produser : Gope T. Samtani&Subagyo S.

Durasi : 97 menit



Ciang Pek (Sudiro) Sugeng (Birowo) dan Ujang (Vincent) tiga bersahabat yang mengidolakan bintang film cantik terkenal, Katrina Katrodipuro (Kamal). Beberapa kali mereka menjajal sebagai figuran di film-film Katrina. Suatu ketika, engkong Ciang Pek meninggal. Di malam pemakamannya, gembong mafia Munar Sapawi (Saroenggalo) menagih hutang Enkong sebesar 200 juta dan mengancam akan menyita perguruan wushu engkong jika gagal melunasinya. Putus asa mencari solusi bayar hutang, Sugeng mengusulkan menculik Katrina. Ia meminjam uang lagi pada Munar untuk membeli peralatan menculik. Sialnya, mereka keliru menculik Fatima (Mini), bintang film yang tak lagi terkenal. Dengan banyak trik Ciang-Ujang-Sugeng ngotot minta uang tebusan pada produser Star Joni (Robby Tumewu).


Kombinasi Tora-Birowo kami khawatirkan membuat Tri Mas Getir menjadi Extravaganza versi layar lebar. Benar saja, setengah jam pertama arah film ini sedikit kabur. Beberapa lawakan terasa kurang nendang. Untungnya, Indra segera menemukan formatnya berkelakar. Ia tampak mengalir hingga pengujung film. Ini tak luput dari lawan mainnya, Emmy Lemu. Vincent yang setia mengenakan kaus bergambar cover album Indonesia klasik tampil polos, beberapa dialog beraksen Padang manjur merilekskan syarat penonton. Scene stealer film ini adalah si mafia utang Tino Saroenggalo yang tampil sok perlente dan nakal. Menjelang akhir film, dengan lincah ia memancing tawa penonton. Patut disayangkan, Titi Kamal yang mejeng di poster film kurang berkontribusi. Ia seolah menjadi bonus bagi mereka yang telah membeli tiket. Malah Cut Mini yang lebih terampil menjaga mood lucu.


Secara cerita, kita bisa berharap dari Monty dan Rako. Duo ini males ribet memikirkan pesan apa yang ingin disampaikan pada penonton. Mereka malah sibuk menyentil tingkah pola artis dan betapa infotainment bergembira saat publik figur mencoba ngeksis. Sentilan yang sebenarnya mampu membuat artis dan wartawan hiburan patut ngilu. Sebagai komedi, Tri Mas Getir belum beranjak dari tradisi menjadikan seks sebagai objek melawak. Adegan macam melempar CD dan BH masih saja jadi jurus andalan, kendati kurang efektif karena trik purba macam begini sudah dirintis sejak zaman Warkop DKI. Dan dilestarikan lagi sejak Quickie Express menangguk sukses. Untunglah, Rako tak berlama-lama bermain di area ini. Selanjutnya dialog dan kekuatan aktinglah yang diandalkan.


Tak banyak hal baru yang dipamerkan Tri Mas Getir selain hiburan konyol dan bahan tertawaan. Sejatinya sebuah film ingin menghibur penikmatnya, Rako pun demikian. Tapi bagi penonton yang merasa menghibur saja tidaklah cukup, barangkali akan mengernyitkan dahi saat keluar bioskop. Sisi dramatis kurang digarap maksimal, meski sengatan kritik sosial menyelip perlahan. Jadi, puas tidaknya Anda pada Tri Mas Getir bergantung pada ekspektasi Anda saat mengantre di loket bioskop. Nah, kami tanya dulu, apa ekspektasi Anda?


Narayana's Pop Corn: 2 pop corns, lumayan buat ngakak-ngakak

Tidak ada komentar: