Senin, 15 September 2008

Sarang Kuntilanak: Judul Baru, Gaya Lamaaa (Banget!)



Pemain : Zidni Adam Zawas, Ayu Andhika, Elena Lubis, Ikbal Azhari dan Diah Cempaka Sari

Skenario : Rihanna Prameswari

Sutradara : Ian Jacobs

Produksi : Mitra Pictures

Produser : Evry Wanda

Durasi : 90 menit




Tanpa bermaksud sok tahu, tapi setahu kami kalau mau membuat film apalagi bergenre horor, paling tidak harus punya konsep yang baru. Sekadar informasi, publik Asia saja sudah mulai jenuh dengan pemunculan perempuan berbaju putih dengan rambut tergerai sejak Mbak Sadako alis Samara (versi Amerika) menjadi gunjingan. Atau setan anak kecil ala Ju On, atau Jelangkung versi lokal. Jadi kalau ada film horor dengan setan perempuan berambut panjang atau anak kecil pucat pasi kayaknya bukan hal baru lagi, kecuali didukung dengan promosi yang gila-gilaan. Itulah sebabnya dari puluhan film dedemit made in Indonesia, praktis hanya Jelangkung dan Pocong 2 yang membekas di hati penonton. Sekonyong-konyong hadirlah Sarang Kuntilanak. Figur yang pernah diusung Rizal Mantovani dalam tiga jilid. Tanpa ada press screening dan gembar-gembor sebelumnya. Apakah produser dan sutradara nggak percaya diri dengan karyanya? Takut filmnya mendapat ulasan negatif para kuli flash disc?


Ceritanya sepintas mirip Jelangkung. Norman, Martha, Vero dan Willy, sekelompok mahasiswa yang ingin membuat film dokumenter. Saat menggodok konsep, muncul ide neko-neko mendokumentasikan dusun Kalimati. Sebuah pedesaan yang kini yak lagi berpenghuni lantara semua penduduknya telah tewas. Sebelum bertolak ke dusun angker mereka sudah diperingati Vivian, dosen muda yang diplot miterius dan pendiam. Vivian sebelumnya pernah melakukan penelitian di Kalimati. Imbauan Vivian tak digubris, mereka nekat mengunjungi Kalimati. Endingnya? Anda bisa tebak dengan benar tentunya.


Setelah menuntaskan film ini, kami berpikir tak ada hal baru yang ditawarkan film ini. Kalimati mengingatkan kami pada Ujungsedo, asal muasal Sri Sukma alias Mbah Putri pelantun sekar Durma (Kuntilanak) atau Angkerbatu, sarang Jelangkung. Gaya memunculkan hantu pun sami mawon. Mulai di kamar, rumah kosong, hingga si hantu ikut nonton film di cineplex, yang mengingatkan kami pada Tusuk Jelangkung. Nyaris tak ada yang mengejutkan di sepanjang durasi. Yang baru hanya wajah para pemain, dengan akting yang ya, begitulah. Pada beberapa scene para pemain terlihat panik betulan, panik harus berkating bagaimana. Adegan di air terjun dengan gerimis kecil-kecil kami akui indah. Setting tempat yang dipilih cukup meyakinkan untuk sebuah tema horor. Maaf hanya sebatas itu saja, karena ending film menjadi sebuah boomerang bagi kreator film ini. Tanpa kejutan!


Jelas sudah, Ian Jacobs bertanggung jawab atas beberapa kegagalan dalam film ini. Jelas sudah, menakut-nakuti penonton sama sulitnya dengan membuat penonton tertawa. Ketika banyak film komedi Indonesia malah 'ditertawakan' penonton, ketika banyak penonton mulai 'berani' menonton film horor sendirian, apakah Sarang Kuntilanak mampu membuat nyali para penonton pemberani menciut? Yang jelas, kalau film ini menuai keberuntungan kecil di daerah, kami tidak heran.

Narayana's Popcorn: cukup 1!


Kamis, 04 September 2008

Asoy Geboy: Kalau Sekadar Ber-asoy geboy Sih Dapet...


Pemain : Raffi Ahmad, Indah Kalalo, Uli Auliani, Alia Rosa, Rizky Mocil, Argo “aa Jimmy

Skenario : Aviv Elham

Sutradara : Arie Azis

Produksi : MD Pictures

Produser : Manoj dan Dhamoo Punjabi

Durasi : 90 menit




Perpindahan penduduk dari desa ke kota disebut urbanisasi. Itu yang sering Anda dan kami pelajari semasa Sekolah Dasar dulu, arti sederhana itu kemudian menjadi lebih rumit di bangku SMP dan SMU. Sama halnya dengan Asoy Geboy yang dirilis MD Pictures pekan lalu. Dasar ceritanya simpel, tiga sekawan Didi (Ahmad), Asep (Mocil) dan Hilman (Jimmy) berangkat ke Jakarta demi meraih sarjana dan diharapkan, gelar itu bisa memperbaiki nasib desanya. Nah, 15 menit setelah cerita dasar dibangun, muncul trio stripper penghuni asrama Salma (Auliani), Lolyta (Kalalo) dan Memey (Rosa). Di sinilah cerita mulai rumit runyam. Salma mengejar Hilman yang paling alim bak ulama muda. Didi terobsesi pada Lolyta yang maniak lolipop, sementara Memey menuntut pertanggungjawaban Asep.


Kabarnya, sebelum menjadi Asoy Geboy film ini dibanderol Salome kependekan dari nama tiga tokoh stripper Salma, Lolyta, Memey. Perubahan judul ini dipicu gonjang-ganjing judul ML (Mau Lagi) yang tak hanya melibatkan LSF dan Mahasiswa, tapi juga beberapa organisasi Islam. Pertimbangan lain, Salome lantas diidentikan dengan akronim beraroma mesum, Satu Lobang Rame-Rame. Terlepas dari kabar dibalik layar yang beredar, Asoy Geboy hanyalah film yang ingin melucu ala Warkop DKI. Sedikit slapstick disini dan sedikit slapstick di sana. Dibalut racikan musik jadul ala Pancaran Sinar Petromak atau PMR (Pengantar Minum Racun)-nya Bung Jony Iskandar tempo doeloe, ditambah satu lagu pop rancak masa kini yang lagi ini. Sebuah hal yang pernah dilakukan Rako Prijanto lewat Tri Mas Getir. Bedanya, Tri Mas Getir menggaet Makhluk Tuhan Paling Sexy, Mulan Jameela sebagai soundtrack. Sementara Arie Azis memilih Dewi-Dewi feat Mulan, Sakit Bukan Main.


Tak terlalu sakit menyaksikan film ini. Beberapa jurus lawas ala Tessy dan Srimulat kembali muncul dan penonton mau tak mau kembali tertawa. Bisa ditebak sih bagaimana konsep melawaknya. Kalau sudah ada Tessy dan Tarzan. Kalau filmnya saja menggunakan profesi stripper, pasti tak akan jauh-jauh dari area seksual. Asoy Geboy menambah panjang daftar komedi berbumbu esek-esek di negeri ini. Untungnya, trio Raffi-Rizky-aa' Jimmy tampil gila sekaligus mampu menambal beberapa celah garing dan adegan nggak masuk akal lainnya. Hampir tak ada yang baru dari film ini. Masih menjadikan banci sebagai bahan lelucon, masih menjadikan cewek barbaju minim sebagai 'mainan', dan simbol-simbol 'dewasa' untuk bercanda. Masih manjur sih untuk mengundang senyum dan (kalau bisa) tawa penonton. Untungnya, Arie Aziz membuat ending yang cukup variatif. Tiga klarakter utana berada di garis akhir yang berbeda. Surprise!


Tapi jujur, kami masih bisa menangkap pesan moral yang disebar sejak pertengahan hingga akhir film. Kami tergelitik ketika Didi dan Hilman baku hantam habis nonton car wash show. Mereka saling menyalahkan saat menyadari tetangga mereka yang cantik-cantik ternyata punya show eksklusif. Muncul pertanyaan siapa yang salah? Mengapa ada profesi stripper? Mengapa ada yang mau menonton gituan? Kami jadi berpikir soal hukum permintaan dan penawaran. Kalau nggak ada permintaan, nggak mungkin ada cewek yang mau menawarkan. Atau dibalik saja, kalau nggak ada yang menawarkan diri nggak mungkin ada om-om yang mau 'jajan'? Dalem 'kan?

pop corn: dua pop corn ajah, seret nggak pake minum juga tak ape!

The Clone Wars: Gonjang-Ganjing Lintas Galaksi


Pengisi suara : Matt Lanter, Ashley Drane, Tom Kane, Christoper Lee dan Samuel L. Jackson

Skenario : Henry Gilory, Steven Melching Scott

Sutradara : Dave Filoni

Produksi : Warner Bros. Pictures

Produser : George Lucas dan Chaterine Winder

Durasi : 121 menit




Selamat datang di dunia galaksi. Anakin Skywalker (Lanter) mendapat tugas baru meredam konflik antar penghuni galaksi. Konflik yang dipicu oleh konspirasi penculikan bayi. Kubu Ksatria Jedi dituduh sebagai dalang penculikan. Padahal masalah 'sepele' ini hanyalah salah satu tak-tik gerombolan penjahat yang dipimpin Palpatine (Ian Abercrombie), Count Dooku (Lee) dan pengikutnya. Strategi adu domba ini bermuara pada sebuah rencana besar menguasai seluruh galaksi. Anakin Skywalker tak berjuang sendiri. Ia dibantu Ashoka Tano (Ashley Eckstein), cewek amatir yang terobsesi menjadi ksatria Jedi. Sifat Ashoka yang mau belajar dan berkemauan keras sering memunculkan persilisihan dengan Anakin. Namun itulah proses yang harus dilalui dua petarung tangguh itu.


Siapa yang tak kenal film legendaris Star Wars. Film yang pernah menyabet enam Oscar karya Goerge Lucas ini sangat kondang sejak 1977. Dalam kemasan berbeda, Dave Filoni mengarahkan The Clone Wars menjadi petualangan kartun tanpa beranjak jauh dari pakem dasarnya. Karakter-karakter yang ditampilkan sama persis. Teknik animasinya belum menampilkan sesuatu yang mencengangkan. Bagi para penggemar fanatik Star Wars, bisa jadi kekhasan The Clone Wars menjadi daya tarik tersendiri. Tapi bagi mereka yang baru pertama kali iseng-iseng nonton, nggak akan mendapat pengalaman spektakuler. Belum lagi pengisi suara kurang memberi aksen istimewa pada karakter yang mereka bawakan. Standarlah!


Gaya melucu di tengah peperangan sengaja dipusatkan pada dialog dan memang jarang berhasil melucu. Hanya penonton yang fokus pada naskah yang bisa menikmati selera humor para ksatria. Di lain pihak, Dave Filoni tak mau para penonton cilik pusing mengikuti teks. Kalimat-kalimatnya tak banyak yang 'bersayap', cenderung lugas. Selebihnya The Clone Wars menyuguhkan rentetan adegan baku hantam dengan tensi naik turun. Kemelut satu terselesaikan, langsung disusul kemelut lainnya. Politik mengkambinghitamkan dan mengadu domba pihak lain berpotensi rumit, terlalu rumit bagi anak-anak malah. Solusinya? Menyederhanakan dialog dan memperkaya adegan laga dengan pengambilan gambar yang sangat dinamis. Kilauan pedang dan tembak-menembak antara pesawat pastinya memesona mata. Durasi film yang sedikit lama diakali dengan penyusunan konflik yang rapi. Secara keseluruhan, The Clone Wars tidaklah buruk hanya kurang menghentak. Apalagi di Indonesia dirilis berdekatan dengan Wall-E buah karya duo biang animasi, Disney-Pixar. Pilihan di tangan Anda!

Pop Corn: 2,5 saja plus air mineral botol kecil

Tip Mencegah Pemalakan

Saya mau berbagi tips kepada Anda, bukan sok menggurui karena ini berdasarkan pengalaman saya saat antre tiket kereta api tambahan Argo Lawu di Stasiun Gambir, Senin 1 September kemarin. Ceritanya begini. Saya datang ke Gambir jam 12.45. Sesampainya di ruang utama, antrean panjang tiga deret menyambut kedatangan saya. Sekarang saya tahu rasanya, betapa menderitanya ibu-ibu yang antre beras tiga Kilo dan minyak tanah tiga Liter. Menjelang loket, saya baru sadar kalau nggak bawa tunai. Niatnya sih mau beli dengan debit. Secara 21 dan XXI saja melayani pembelian tiket dengan debit, masak PT KAI yang sudah puluhan tahun mengabdi ibu pertiwi masih gaptek? Akhirnya saya menitipkan tas ke orang yang baru saja saya kenal, tapi bisa dipercaya lalu ke ATM BCA.

Baru saja saya mengambil uang dan belum sempat mengambil kartu, tiba-tiba seorang pria merangsek masuk. Saya kaget bukan main, kaget minta ampun! “Mas tolong, saya mau minta uang 50 ribu!” serunya pada saya yang masih terbengong-bengong. Saya bingung, lalu melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mata saya yang sudah empat ini terbelalak. Parahnya, kartu ATM saya nggak mau keluar. Begitulah kalau sudah keenakan masuk, lupa keluar. Lalu saya bilang dengan si Mas tak dikenal ini, “Sebentar dong Mas, ini kartu ATM saya kegigit.” Lalu saya minta tolong pada Pak Polisi untuk menangani ATM saya, berhasil! Tapi saya tak berani bilang pada Pak Polisi kalau pria yang masuk ke ruang ATM saya itu minta duit 50 ribu.

Setelah keluar dari ATM, pria sawo matang ini terus membuntuti saya. “Kalau mas nggak bisa ngasih saya 50 ribu, 30 ribu juga nggak papalah. Tolong, Mas saya mau pulang kampung ke Makasar tapi duit saya kurang Mas,” pintanya dengan wajah sememelas mungkin. Saya tahu, itu ekspresi memelas yang so artificial. Secara saya dijuluki Hillary Swank, hanya dua kali masuk nominasi Oscar dan 'hanya' dua kali menang! Saya menyibukkan diri kesana kemari, tapi si Mas yang tinggi tegap ini terus membututi. Risih, begitulah rasanya. “Kalau begitu 20 ribu saja, Mas. Kalau uang Mas 50 ribuan, sini saya tukarkan. Saya nggak akan lari kok, Mas,” kali ini si Mas yang entah namanya siapa itu merajuk.

Lama-lama saya sebal. Padahal saya hampir saja menaruh iba, tapi perasaan itu pupus begitu melihat si Mas mendapat recehan ribuan dari seorang perempuan. Solusinya sebagai penukar uang kilat membuat saya jadi makin sebal. Saya ingin melawan, tapi takut kalau ternyata dia diam-diam membawa senjata tajam atau apa. Kalau senjata tumpul, pastilah! Lalu saya mulai menantangnya begini.

“Kalau saya kasih kamu duit sekian puluh ribu, kamu mau ngasih saya apa?” tanya balik saya sambil menatap langsung mata si Mas. Saya mengubah air muka saya sedikit garang, segarang wajah Mbak Agnes Monica dalam video klip Godai Aku Lagi.

“Maksud, Mas?” tanya si Mas tak mengerti.

“Saya mau kasih duit 25 ribu, 30 ribu malah. Tapi saya minta sesuatu dari kamu,” jawab saya. Kali ini jantung saya deg-degan. Wajah saya terasa panas.

“Saya mau mengoral kamu!” kata saya lagi. Hasilnya?

Si Mas langsung bengong, dia mundur satu langkah.

“Mas, jangan begitulah. Saya kan lagi puasa, biar Allah yang membalas budi baik Mas,” katanya pelan.

Saya langsung berpikir, mana ada orang puasa kok tingkah lakunya ngompasin orang-orang yang lagi kesusahan nyari tiket pulang kampung?

“Sama saya juga lagi puasa, tapi saya mau ngisep kontolmu, kamu mau apa. Mau nggak? Kalau nggak, jangan harap dapat duit dari saya,” kali ini saya bekata tegas. Si Mas langsung mundur teratur. Saya nggak peduli kalau dimatanya wajah saya jadi mirip dengan wajah Mas Ryan, sehingga si Mas takut malak dan memilih mundur teratur. Lalu saya melenggang keluar stasiun menuju halte busway. Damn! I am beautiful, I am superpower girl! Bagi Anda Mas dan Mbak, juga adik-adikku di Kine, jangan takut dipalak. Gunakan jurus oral saya, dijamin mujarab. Saya buktinya!

Ketika saya menceritakan pengalaman saya ini pada teman saya, Sofie wartawan Metro TV (Saya sebut dia wartawan, bukan wartawati karena saya masih meragukan kewatiannya) , Saya bilang begini, "Makanya jeung, kalau kamyu dipalak preman atau siapapun itu. kamu bilang, aja begini: saya kasih kamu duit tapi saya mau oral kamu dulu. Pasti pria itu mundur teratur!"

Dengan kurang ajar Sofie menajwab begini, "Tapi Njik, kalau nanti si preman malah mau kuoral gimana?"

Saya berpikir, Cuih kok PD banget ya ada preman yang mau kamu oral. Ya Nggak?

Jumat, 22 Agustus 2008

Basahhh... : Jangan Khawatir, Tak 'Sebasah' Judulnya Kok...


Pemain : Kevin Julio, Esa Sigit, Irshadi Bagas, Sakurta Ginting, Yuki Kato, dan Meriam Bellina.

Skenario : Nucke Rahma, S.H

Sutradara : M. Haikal

Produksi : Starvision Pictures

Produser : Chand Parwez Servia

Durasi : 90 menit




Masih ingatkah Anda, kapan pertama kali Anda mengalami mimpi basah? Kami tidak bermaksud jorok lho, karena faktanya setiap pria akan mengalami hal begituan. Inilah yang diributkan Didot (Sigit), Dimas (Bagas), Alvin (Julio) dan Ojan (Ginting). Empat remaja tanggung ini salah kaprah tentang wet dream. Mulai dari mitos terkena kanker prostat, nggak bisa tinggi, kerempeng hingga tak merasakan kenikmatan ML. Mitos-mitos sumir ini membuat Didot yang diawasi superketat oleh omanya (Bellina) sangat cemas. Berbagai cara dicoba Didot and the gank demi mencapai nikmatnya wet dream. Main mata sama cewek, buka situs-situs biru, hingga menyambangi rumah bordil House of Love milik Mama Mia (Ivan Gunawan) dan Mbak Juve (Perez). Demi 'bercengkerama' dengan bunga malam, mereka rela menjual barang-barang berharga milik mereka. Hasilnya? Anda bisa menyaksikan sendiri.


Kalau mau jujur, ide mengangkat mimpi basah dengan menampilkan empat remaja puber jelas masuk akal. Ada banyak hal yang bisa dikembangkan dari empat lakon utama beda latar belakang keluarga ini. Yang patut dikritisi, penampilan empat bintang utamanya. Sakurta 'Kipli' jelas mengundang tawa, gayanya yang asal nyablak seperti yang sudah-sudah memang menjadi cirinya. Masalahnya, Kevin, Esa dan Bagas di beberapa scene kurang bisa menimpali. Ada beberapa adegan dimana mereka tampak saling menunggu ketika dialog seharusnya segera bergulir, jadi terkesan lama dan kurang lincah. Di sinilah durasi proses reading dan keterampilan sutradara dalam mengarahkan pemain dituntut lebih panjang. Dan bukan Meriam Bellina namanya kalau tak becus improvisasi. Kombinasi aksen Belanda-Sunda-nya berkali-kali membasahkan suasana garing. Belum lagi ada Jaja Miharja, Inggrid Wijanarko dan Derry Drajat. Kalau ada Julia Perez, Ivan Gunawan dan Aura Kasih tentu bukan bonus yang mengecewakan. Yang sedikit mengecewakan, barangkali ending bikinan Bung Haikal yang kurang smooth. Kekonyolan demi kekonyolan yang ditebar sepanjang film berakhir begitu saja. Kalau ending dibuat dengan tone yang agak meninggi bisa jadi lebih asik dan mengesankan. Lagu-lagu di sepanjang film agaknya terlalu panjang dan dibawakan dengan kurang meyakinkan.


Lalu apa bedanya Basahhh... dibanding komedi esek-esek sebelumnya? Tema besarnya. Mengangkat mimpi basah di kalangan remaja puber bukanlah mengada-ada. Kalau toh beberapa banyolan menyerempet area sensual, itu pun masih bisa ditolerir mengingat tema logisnya mimpi basah remaja puber. Banyak kelucuan justru muncul dari dialog para pemain, jadi bukan obral slapstick semata. Dialog semakin berisi berkat sisipan pesan moral yang dikemas lugas dan ringan. Sangat cocok untuk pangsa pasar ABG. Dr. Boyke juga bersedia 'turun' ke tingkat pemahaman remaja SMP dalam menyampaikan penjelasan ilmiah seputar seks dan kondisi psikologis remaja puber. Dari segi teknis penggarapan Basahhh... cenderung standar, tak ada yang istimewa. Seandainya saja Bung Haikal mau lebih detail dan sabar, Basahhh... bisa jadi tampil lebih klimaks. Semoga bisa terwujud dalam karya Haikal selanjutnya.

Narayana's popcorn: Cukup dua, titik!