Kamis, 04 September 2008

Asoy Geboy: Kalau Sekadar Ber-asoy geboy Sih Dapet...


Pemain : Raffi Ahmad, Indah Kalalo, Uli Auliani, Alia Rosa, Rizky Mocil, Argo “aa Jimmy

Skenario : Aviv Elham

Sutradara : Arie Azis

Produksi : MD Pictures

Produser : Manoj dan Dhamoo Punjabi

Durasi : 90 menit




Perpindahan penduduk dari desa ke kota disebut urbanisasi. Itu yang sering Anda dan kami pelajari semasa Sekolah Dasar dulu, arti sederhana itu kemudian menjadi lebih rumit di bangku SMP dan SMU. Sama halnya dengan Asoy Geboy yang dirilis MD Pictures pekan lalu. Dasar ceritanya simpel, tiga sekawan Didi (Ahmad), Asep (Mocil) dan Hilman (Jimmy) berangkat ke Jakarta demi meraih sarjana dan diharapkan, gelar itu bisa memperbaiki nasib desanya. Nah, 15 menit setelah cerita dasar dibangun, muncul trio stripper penghuni asrama Salma (Auliani), Lolyta (Kalalo) dan Memey (Rosa). Di sinilah cerita mulai rumit runyam. Salma mengejar Hilman yang paling alim bak ulama muda. Didi terobsesi pada Lolyta yang maniak lolipop, sementara Memey menuntut pertanggungjawaban Asep.


Kabarnya, sebelum menjadi Asoy Geboy film ini dibanderol Salome kependekan dari nama tiga tokoh stripper Salma, Lolyta, Memey. Perubahan judul ini dipicu gonjang-ganjing judul ML (Mau Lagi) yang tak hanya melibatkan LSF dan Mahasiswa, tapi juga beberapa organisasi Islam. Pertimbangan lain, Salome lantas diidentikan dengan akronim beraroma mesum, Satu Lobang Rame-Rame. Terlepas dari kabar dibalik layar yang beredar, Asoy Geboy hanyalah film yang ingin melucu ala Warkop DKI. Sedikit slapstick disini dan sedikit slapstick di sana. Dibalut racikan musik jadul ala Pancaran Sinar Petromak atau PMR (Pengantar Minum Racun)-nya Bung Jony Iskandar tempo doeloe, ditambah satu lagu pop rancak masa kini yang lagi ini. Sebuah hal yang pernah dilakukan Rako Prijanto lewat Tri Mas Getir. Bedanya, Tri Mas Getir menggaet Makhluk Tuhan Paling Sexy, Mulan Jameela sebagai soundtrack. Sementara Arie Azis memilih Dewi-Dewi feat Mulan, Sakit Bukan Main.


Tak terlalu sakit menyaksikan film ini. Beberapa jurus lawas ala Tessy dan Srimulat kembali muncul dan penonton mau tak mau kembali tertawa. Bisa ditebak sih bagaimana konsep melawaknya. Kalau sudah ada Tessy dan Tarzan. Kalau filmnya saja menggunakan profesi stripper, pasti tak akan jauh-jauh dari area seksual. Asoy Geboy menambah panjang daftar komedi berbumbu esek-esek di negeri ini. Untungnya, trio Raffi-Rizky-aa' Jimmy tampil gila sekaligus mampu menambal beberapa celah garing dan adegan nggak masuk akal lainnya. Hampir tak ada yang baru dari film ini. Masih menjadikan banci sebagai bahan lelucon, masih menjadikan cewek barbaju minim sebagai 'mainan', dan simbol-simbol 'dewasa' untuk bercanda. Masih manjur sih untuk mengundang senyum dan (kalau bisa) tawa penonton. Untungnya, Arie Aziz membuat ending yang cukup variatif. Tiga klarakter utana berada di garis akhir yang berbeda. Surprise!


Tapi jujur, kami masih bisa menangkap pesan moral yang disebar sejak pertengahan hingga akhir film. Kami tergelitik ketika Didi dan Hilman baku hantam habis nonton car wash show. Mereka saling menyalahkan saat menyadari tetangga mereka yang cantik-cantik ternyata punya show eksklusif. Muncul pertanyaan siapa yang salah? Mengapa ada profesi stripper? Mengapa ada yang mau menonton gituan? Kami jadi berpikir soal hukum permintaan dan penawaran. Kalau nggak ada permintaan, nggak mungkin ada cewek yang mau menawarkan. Atau dibalik saja, kalau nggak ada yang menawarkan diri nggak mungkin ada om-om yang mau 'jajan'? Dalem 'kan?

pop corn: dua pop corn ajah, seret nggak pake minum juga tak ape!

Tidak ada komentar: