Tampilkan postingan dengan label heart story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label heart story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Juli 2008

B3rtiga

Seharian di depan komputer membuat kepalaku terasa pusing. Kalau sudah begini biasanya aku mulai menjambak-jambak rambutku sendiri pelan-pelan. Setiap remasan kubidikkan di pusat kepeningan. Entah tersugesti atau apa, biasanya pusing itu reda sesaat. Capai juga menyelesaikan dua berita. Seharian ini pun aku tak ingat pada Mas Legawa. Sedang di rumahkah bersama mbak Asta? Atau tengah pelesir ke bioskop? Tak peduli. 10 bulan sudah aku dan Mas tak ketemu. Bertambah kuruskah dia, atau semakin gemuk lantaran istrinya hamil, praktis tak ada lagi yang mengurusnya mendetail. Masa bodoh. Daripada mengurus Mas yang tak lagi mengurusiku, tak lagi mendeteksi apa film terakhir yang aku tonton, lebih baik meng-update berita tentang seorang ibu Noersyaidah yang dijuluki manusia kawat. Kok bisa ya, kawat-kawat sepanjang 10 sampai 12 sentimeter menembus keluar perutnya? Belum juga pertanyaan itu terjawab oleh tim dokter, belum juga hati nuraniku mencoba mencari jawaban. Ponselku menjerit sekuatnya. Sial!

“Hey bo', ngapain lu?”

Tere seperti biasanya. Enaknya, jadi pegawai negeri. Sabtu-Minggu, seperti kata Shandy Cannester menjadi hari untuk pasangan dan diri sendiri. Tak seperti aku yang jadi kuli tinta. Eh, kuli disket. Eh, disket udah nggak jaman ding, kuli flash disc, maksudnya.

“Kenapa Jeung? Jangan bilang kamu nelpon sambil 'ngibadah', ya? tanya balikku.

“Aih, gue yang menjanda gini aku ngibadah sih bo', entar kalau lubang tambah nganga lu mau tanggung jawab? Gini, gue mau ngajakin lu ajojing ntar malam. Mau gak? Kalau mau cap cus jam 9 malam gue jemput. Jangan bilang kamu nggak bisa gara-gara masih ngantor atau lagi pusing mikirin Legawa yang selalu bikin dirimu terpaksa legowo ya? Gue gaplok lu entar, gue jedotin muka lu di monitor komputer di kantor lu. Yuk mariiiii”.

Ya, begitulah Tere. Belum juga mengiyakan atau menidakkan tawaran telepon sudah ditutup. Kelabing? Bukan tipeku. Lebih baik running watch di bioskop ampe goblok daripada ke GX-Club. Tapi apa boleh buat? Kemarin nonton, hari ini nonton rasanya bukan pilihan hiburan yang pas. Baiklah.

“Nah, gitu dong. Begaul makanya. Siapa tahu di GX ada sedap-sedapan mata yang bisa kau cube”.

“Diem lu,” sambarku ketus sambil membanting pintu Feroza-nya yang belakangan makin terlihat jadul.

“Lu tu ye, hari-hari masuk kerja. Minggu habis ketemuan sama Yang Di Atas, teteup aja maksain nyambung ke kantor. Gue kasih tahu ya bo' nggak segitunya kali buat ngelupain si Tai Kucing itu”.

“Legawa,” Jawabku datar.

Whatever-lah Jeung. Yang jelas gue juga sama kayak lu dan Jeung KD. Gue juga menghitung hari hari. Udah sepuluh bulan ini sejak Legawa brengsek itu menikah, dan lu diundang. Dengan berdarah-darah lu datang ke resepsi pernikahannya dan dengan berdarah-darah pula lu mau mangkat dari kehidupan Legawa. Dia bilang ma lu kalau hubungan kalian.....aaaauuuww.....! Anjing! Tai lu ya!!!”

Umpat Tere sambil melongok keluar jendela mobil, yang tak pernah ditutupnya. Sebuah Kijang hampir menubruk mobil kami. Untung si Tere terkenal gesit sejak dulu dalam berkompromi dengan maut.

“Nyetir ya nyetir, ceramahnya entar,” sahutku sambil menutupi rasa deg-degan. Setengah meter lagi kaca depan mobil kami dapat dipastikan rontok, jika Mirza tak banting setir ke kiri.

“Gak bisa berhenti bo' gue mesti lanjut. Dia bilang hubungan kalian akan tetap berjalan, tapi gimana kenyataannya. Kayaknya si Legawa udah ketagihan memek jadi lupa ama kubangan semula.”

“Berapa kali ya gue mesti bilang, itu jalan terbaik Jeung!” jawabku dengan nada meninggi.

“Kalau itu yang terbaik buat kalian berdua. Sekali lagi, berdua! Pipi lu nggak bakalan setirus ini, Cong!” Mirza tak mau kalah.

Aku hanya diam. Apalagi yang harus kubantah. Rasanya tak ada. Adakah gunanya membantah sebuah kebenaran? Bukankah jika sekali lagi kubantah, akan ada bantahan lain yang lebih keras sekaligus mematahkan? Tumben-tumbennan ibu kota tak macet. Tak lebih dari satu jam kami telah sampai di GX. 5 menit untuk gontok-gontokan, 5 menit untuk deg-degan lantaran hampir dijemput maut, dan sisanya kami saling diam.

Bo' gue mau ke toilet dulu ya,” Tere minta ijin.

Suara gemuruh musik dan sorak sorai pengunjung semakin riuh. Entah apa yang dirasakan GX-ers, begitu para pelanggan salah satu kelab malam terkenal di ibu kota ini disebut. Ada laki. Ada perempuan. Ada setengah laki, juga setengah perempuan. Ada yang doyan laki. Ada yang doyan perempuan. Ada yang laki hanya doyan laki. Adapula yang perempuan hanya doyan perempuan. Yang maruk mau dua-duanya juga ada. Begitulah GX menjadi akuarium bagi semua manusia yang menerjemahkan orientasi dan diri mereka secara bebas. Malam ini aku naik ke lantai dua. Di sanalah, para penari mulai merasa busananya terlalu menghalangi gerak tubuhnya. Jadi tak perlu kujelaskan apa yang mereka lakukan terhadap 'para penghalang' tersebut. Yang jelas, aku pribadi merasa solusi yang mereka tempuh maksa banget. Satu persatu para penggemar mulai mengikuti jejak sang 'raja panggung'. Aku sebut raja agar lebih jelas apa kelaminnya. Kelamin? Penting buat para GX-ers? Ck... Seorang penari dengan wajah jalangnya menatapku dari kejauhan. Satu tangannya memegang tiang, sementara yang lain menggosok benda yang masih tertutup kancut. “Do you want to join with me?” Barangkali begitu tanyanya nun jauh di atas panggung. Aku mulai mendekat.

Dugem? Menari? Salah satu kelihaianku. Aku ingat dulu waktu duduk di bangku sekolah. TK, SD, SMP, dan SMA setiap kali ada festival tari, entah itu tradisonal maupun modern semua elemen sekolah yang sering menyebutku banci berubah menjadi sok malaikat. Bersikap ramah, memuji, dan memuja. Maksudnya, agar aku bersedia mewakili sekolah untuk unjuk gigi. Meski pada saat menari tak ada adegan memamerkan barang di dalam mulut yang kadang warnanya kuning itu. Perlahan aku mulai naik diatas panggung. Raja panggung yang 10 menit silam melirikku, melempar ciuman tepat menampar pipiku. Aku jadi seperti kesurupan. Aku menari mengikuti dentuman musik ajep-ajep. Awalnya kaus putihku yang tersingkap.

“Woeeeeee.....” penonton menyambut antusias sensasi kecil yang kubuat, sementara raja panggung berubah mejadi babu dengan memungut kaus ketat putih polos yang baru saja kubeli dengan label sale 50%+20%. Lalu jins biru belel yang ku beli di kota pelajar, dan....

“Whhhoaaaaa......!!!!”

'Pria' mana yang tak menganga melihat barang Indonesia lebih dari 17 senti? Bahkan raja panggung panggung pun mencoba mencuri kesempatan untuk menjamahnya. Aku beringsut ke sayap kiri panggung, secepat kilat menyambar gelas berisi soft drink dan splasssshhh.....wajah sang Raja tersiram sudah. Meski akhirnya kuberi kesempatan memegang tiga detik saja. Saatnya mengakhiri show. Aku menuju belakang panggung. Enam pasang penari pria yang sedianya akan tampil memberi 'sambutan' dengan memilih area penyambutan di tubuhku. Lalu kukenakan jins belel, sementara CD kuselipkan di saku depan. Kaus putih kukenakan sekenanya.

Musik semakin menghentak. Maklum, tiga raja baru memerintah diatas panggung. Penari yang ketiban sampur bir membuntutiku dari belakang. Aku pura pura tak melihat. Aku terus menyusuri lorong menuju toilet pria, menyingkap resleting dan mengeluarkan organ. Pufff...lega sekali rasanya.

“Gaya kamu tadi top banget, sudah sering club to club?”

Suara pria bernada datar menyentak kuping kiriku. Hidungnya menyentuh daun kuping. Aku berusaha melirik, sementara matanya melihat ke arah bawah, tepatnya organ tubuhku yang tengah meluarkan air putih kekuningan.

“Hati-hati kalau bicara,” sahutku setengah berbisik.

“Aku rasa, aku sudah cukup berhati-hati dalam memilih kata,” tangkisnya sembari meletakkan kedua tangannya di kedua pinggangku.

“Sayang sekali, pilihanmu keliru.”

“Oh, ya?”

“Ya, termasuk pilihanmu untuk meletakkan kedua tanganmu di pinggangku Sob...”

Kedua tangan pria ini mulai beringsut. Aku menyalakan air lalu berpindah ke wastafel. Sabun cair kutekan dan membuat busa kecil-kecil di kedua telapak tangan. Dan menyalakan kran air kembali.

“Dharma.”

“Ian,” jawabku sesingkat caranya memperkenalkan namanya.

“Kamu juga sama seperti aku?

“Maksudnya?” tanyaku balik sambil mencomot dua lembar tisu.

“Penari?” sela Dharma.

“Sekali waktu kamu perlu mengikuti perkembangan informasi terkini, Mas Dharma.”

“Maksudmu?”

“Barangkali sebelum kamu berkenalan dengan saya, kamu perlu berkenalan atau setidaknya tahu siapa Artalyta dan mengapa si ratu lobi lulusan SMU itu bisa menghebohkan negerti kita.”

“Peduli setan dengan Artalyta,” sahutnya.

“Barangkali rumus hidup kita berbeda. Buat saya keren tidaknya seseorang bergantung pada besaran isi otaknya. Tapi buat anda keren tidaknya seorang pria bergantung pada besaran isi celana dalamnya?”

“Hati-hati kalau bicara, Ian.” jawabnya perlahan.

“Sekarang anda menempati posisi saya sepuluh menit silam. Sekarang anda tahu rasanya kan?”

Dharma terdiam. Tapi sejenak saja. Tapi matanya tak pernah diam. Sebenarnya dia boleh juga, tapi tak secepat itu aku mengakhiri sebuah penilaian terhadap seseorang. Apalagi belum setengah jam aku mengenalnya. Perlahan dia tersenyum. Entah kagum, entah senyum culas layaknya tante-tante antagonis dalam sinetron stripping yang ceritanya tergantung rating.

“Selamat malam,” pungkasku sembari tersenyum dan keluar dari toilet GX yang sebelas dua belas dengan toilet hotel bintang lima. Aku terus melangkah dan tiba di pintu keluar GX. Duh, Tere kemana lagi ni? Aku mulai celingukan ke beberapa sudut luar GX.

“Gue di sini!”

“Pulang yuk Jeung?” ajakku.

Kami bergegas masuk ke dalam, masuk lift menuju lantai basement. Tak lama kemudian kami masuk mobil yang hampir di terjang Kijang tadi.

“Wajah udah mulai sumringah nih?” sindir Tere dalam perjalanan pulang.

“Udah lu diem aja, jangan sampai ada Kijang kedua dan kamu kurang gesit kayak tadi waktu berangkat ya, Nyet!” kilahku dengan pandangan lurus ke depan.

“Ya sudah, entar kalau kamu ngerasa kangen dan pengen ketemu si Dharma lagi, tinggal tele-tele gue ajah. Atau mau ke GX sendiri?”

“Anjrit, lu masuk ke kamar mandi cowok tadi?” tanyaku. Kali ini aku menoleh ke arah dia.

Seat belt-nya Jeung. Jangan sampai kegaruk polisi lu.”

“Jangan mengalihkan perhatian ya Re,” sembari aku memasang sabuk pengaman.

“Emh...Dharma itu primadona cewek cowok di GX. Lu aja yang nggak tahu. Oh, ya kamu baru kali ini ya ke GX. Gimana? Sebelas dua belas ma Legawa tak?”

“Gue nggak kepikir sampai ngebandingin, Re...”

“It's okey.”

Begitu lancarnya jalanan ibu kota. Labih lancar ketimbang berangkat tadi. Seandainya saja tiap hari begini, tak ada macet tak ada suara klakson menjerit-jerit sepanjang hari. Tere. Dia salah satu cewek penting dalam hidupku. Tanpa dia, mungkin aku tak akan bisa mengalami perubahan fisik sebagus ini. Kegigihannya mengubah aku dari sosok pria feminin menjadi lebih berbentuk, tak akan pernah bisa disilap dengan hal apapun. Meski penampilannya tak lagi selembut dulu. Arion telah mengubah separuh hidupnya menjadi gelap. Perubahan yang tak pernah aku, Flora dan Dara sangka.

“Dah Jeung, sampai ketemu besok ya.”

“Oke, thank you udah bikin mood-ku cheer up!” sahutku sumringah.

Kepalaku terasa agak berat. Mata udah mulai terkatup-katup. Butuh waktu 10 menit untuk mengingat dimana aku menaruh kunci tadi, sebelum akhirnya masuk rumah. Cepat-cepat kubuka sepatu dan menanggalkan jins dan kausku. Beginilah perilakuku di rumah. Tak ada siapa pun kecuali pembantu. Jadi mau ngapain aja itu urusanku, suka-suka aku. Terserah aku. Oh my God, melihat sofa panjang membuat aku berlari kecil, bersiap merebahkan tubuh.

“Darimana kamu?”

Sebuah suara mempertanyakan kepergianku baru saja....