Jumat, 22 Agustus 2008

Basahhh... : Jangan Khawatir, Tak 'Sebasah' Judulnya Kok...


Pemain : Kevin Julio, Esa Sigit, Irshadi Bagas, Sakurta Ginting, Yuki Kato, dan Meriam Bellina.

Skenario : Nucke Rahma, S.H

Sutradara : M. Haikal

Produksi : Starvision Pictures

Produser : Chand Parwez Servia

Durasi : 90 menit




Masih ingatkah Anda, kapan pertama kali Anda mengalami mimpi basah? Kami tidak bermaksud jorok lho, karena faktanya setiap pria akan mengalami hal begituan. Inilah yang diributkan Didot (Sigit), Dimas (Bagas), Alvin (Julio) dan Ojan (Ginting). Empat remaja tanggung ini salah kaprah tentang wet dream. Mulai dari mitos terkena kanker prostat, nggak bisa tinggi, kerempeng hingga tak merasakan kenikmatan ML. Mitos-mitos sumir ini membuat Didot yang diawasi superketat oleh omanya (Bellina) sangat cemas. Berbagai cara dicoba Didot and the gank demi mencapai nikmatnya wet dream. Main mata sama cewek, buka situs-situs biru, hingga menyambangi rumah bordil House of Love milik Mama Mia (Ivan Gunawan) dan Mbak Juve (Perez). Demi 'bercengkerama' dengan bunga malam, mereka rela menjual barang-barang berharga milik mereka. Hasilnya? Anda bisa menyaksikan sendiri.


Kalau mau jujur, ide mengangkat mimpi basah dengan menampilkan empat remaja puber jelas masuk akal. Ada banyak hal yang bisa dikembangkan dari empat lakon utama beda latar belakang keluarga ini. Yang patut dikritisi, penampilan empat bintang utamanya. Sakurta 'Kipli' jelas mengundang tawa, gayanya yang asal nyablak seperti yang sudah-sudah memang menjadi cirinya. Masalahnya, Kevin, Esa dan Bagas di beberapa scene kurang bisa menimpali. Ada beberapa adegan dimana mereka tampak saling menunggu ketika dialog seharusnya segera bergulir, jadi terkesan lama dan kurang lincah. Di sinilah durasi proses reading dan keterampilan sutradara dalam mengarahkan pemain dituntut lebih panjang. Dan bukan Meriam Bellina namanya kalau tak becus improvisasi. Kombinasi aksen Belanda-Sunda-nya berkali-kali membasahkan suasana garing. Belum lagi ada Jaja Miharja, Inggrid Wijanarko dan Derry Drajat. Kalau ada Julia Perez, Ivan Gunawan dan Aura Kasih tentu bukan bonus yang mengecewakan. Yang sedikit mengecewakan, barangkali ending bikinan Bung Haikal yang kurang smooth. Kekonyolan demi kekonyolan yang ditebar sepanjang film berakhir begitu saja. Kalau ending dibuat dengan tone yang agak meninggi bisa jadi lebih asik dan mengesankan. Lagu-lagu di sepanjang film agaknya terlalu panjang dan dibawakan dengan kurang meyakinkan.


Lalu apa bedanya Basahhh... dibanding komedi esek-esek sebelumnya? Tema besarnya. Mengangkat mimpi basah di kalangan remaja puber bukanlah mengada-ada. Kalau toh beberapa banyolan menyerempet area sensual, itu pun masih bisa ditolerir mengingat tema logisnya mimpi basah remaja puber. Banyak kelucuan justru muncul dari dialog para pemain, jadi bukan obral slapstick semata. Dialog semakin berisi berkat sisipan pesan moral yang dikemas lugas dan ringan. Sangat cocok untuk pangsa pasar ABG. Dr. Boyke juga bersedia 'turun' ke tingkat pemahaman remaja SMP dalam menyampaikan penjelasan ilmiah seputar seks dan kondisi psikologis remaja puber. Dari segi teknis penggarapan Basahhh... cenderung standar, tak ada yang istimewa. Seandainya saja Bung Haikal mau lebih detail dan sabar, Basahhh... bisa jadi tampil lebih klimaks. Semoga bisa terwujud dalam karya Haikal selanjutnya.

Narayana's popcorn: Cukup dua, titik!

Oh, My God!: Populerkah Anda?


Pemain : Desta, Revalina S. Temat, Ringgo Agus Rahman, Maia Estianty dan Inggrid Wijanarko

Skenario : Raditya dan Key Mangunsong

Sutradara : Rako Prijanto

Produksi : Oreima Films dan Peach Blossom Media

Produser : Reza Hidayat, Indra Birowo, Daniel Rahmad, Vena Annisa

Durasi : 112 menit


Jangan tertipu posternya! Melihat ekspresi empat wajah pemainnya, orang akan berpikir Oh My God film komedi. Anda yang berharap mendapat banyak lawakan di film ini bisa jadi akan kecewa. Rako Prijanto saja menyebut karya teranyarnya ini 80 persen drama, jadi anda bisa bayangkan eksekusinya. Slamet Arifin alias Ipin (Desta) sosok pecundang kelas. Usia boleh 22 tahun, tapi masih saja duduk di bangku kelas dua SMU. Sebagai anak tukang laundry, ia naksir Tiara (Revalina) anak ketua Yayasan sekolah Mutiara Bangsa, yang memberi bea siswa pada Ipin agar bisa melanjutkan sekolah. Selain itu, Ipin harus menghadapi pacar Tiara, Marco (Ringgo) ketua geng D Ningrat, cowok paling populer, model dan dibesarkan dari keluarga tajir. Bagaimana Ipin dengan wajah tuwir-nya merebut hati Tiara?


Mendengar ceritanya, nyaris tak ada ide baru yang ditawarkan. Setengah jam pertama, terasa berat apalagi jika anda berharap bisa tertawa lepas. Bisa jadi film ini hanya membuat anda tersenyum atau tertawa kecil saja. Tapi penonton tak akan kecewa melihat totalitas Desta yang tampil ndeso. Muka dan gaya jadulnya, baju-bajunya yang berwarna suram membuat penampilannya terbilang gemilang. Reva memperlihatkan pergerakan akting yang cukup dinamis. Setelah tampil pucat pasi karena diteror Pocong Rudi Soedjarwo, di film ini ia nyaman dengan sosok Tiara. Maia beruntung mendapat karakter ibu cantik tapi judes, entah kenapa juteknya Maia tampak natural di film ini, entah jika mood jutek itu didapat dari kasus berbelitnya di pengadilan agama. Ah, sudahlah! Kami tak ingin berspekulasi dalam hal ini. Scene stealer film ini tentu Inggrid Wijanarko, dialah biang keladi unsur komedi.


Tema yang diangkat sangat sepele, tak jauh dari konsep si cantik dan si buruk rupa. Dalam wacana bule beauty and the beast. Tapi Key Mangunsong dan Radit meramu beberapa jurus yang membuat Oh My God teteup enak diikuti. Adegan komunikasi morse SOS dari balik cermin mempermanis cerita yang terkesan klasik. Oh ya, kapan terakhir kali anda menonton layar tancep dan berkaroke lagu Broery Pesulima? Rako mengajak penonton mengenang memori dengan menghadirkan ornamen 80 dan 90-an itu di pertengahan film, dalam kemasan editing yang rapi.


Kalau anda tak tertarik dengan kisah cinta beda kasta yang dijajakan film ini, coba lihat pesan moral yang ditawarkan. Secara verbal, Ipin mengingatkan kawan-kawannya bahwa diskriminasi di sekolah bukanlah hal yang layak ditoleransi. Mengapa harus ada kelompok populer disekolah yang menguasai lahan kantin? Mengapa pesta ulang tahun siswa berorang tua tajir tak patut dihadiri siswa nontajir? Mengapa sekolah di negeri yang gemah ripah loh jinawi seolah hanya untuk kelompok tajir bin populer sementara si miskin harus memanipulasi umur dan mengais remah rejeki untuk menyekolahkan anak? Lalu anda dan kami akan dibawa pada sebuah perenungan, bahwa jalan mulus tersedia bagi mereka yang memiliki kekuasaan dan pangkat. Dengan mudah, mereka yang mengklaim diri famous bisa menyunat hak si miskin dalam memperoleh pendidikan. Pada fase genting, mereka yang terpingirkan dan dianggap tak populer oleh segelintir kaum populer itu membuat gerakan dan mendobrak dominasi. Dengan bersemangat, mereka yang tak populer berkata: saya adalah mayoritas! Coba renungkan pesan berat yang dikemas ringan Rako Prijanto ini, setelah anda keluar dari bioskop.

narayana's popcorn: dua saja plus soft drink!


Oh Baby: Membuka Topeng Cinta Laura

Pemain : Cinta Laura Kiehl, Randy Pangalila, Ridwan Ghany, Tio Pakusadewo, dan Andy /Rif

Skenario : Cassandra Massardi

Sutradara : Cassandra Massardi

Produksi : MD Pictures

Produser : Dhamoo Punjabi dan ManojPunjabi

Durasi : 90 menit



Kontes Tari SMA telah memilih tiga besar. Saat itulah gadis bertopeng yang dijuluki Phantom (Kiehl) unjuk gigi di atas panggung dan melengserkan satu kontestan lain. Wizard (Andi) mencium bakat Phantom dan menawari kontestan putus sekolah itu masuk ke SMU Pekerti Luhur. Di sekolah unggulan inilah Phantom alias Baby menjadi loser. Nilai jeblok membuatnya terancam dikeluarkan dari sekolah. Kepala sekolah, PakYudo (Pakusadewo) menyuruh ketua Pengawas Harmoni Pendidikan (PHP) Benny (Ghany) mengawasi Baby selama menjalani bimbingan belajar. Kedekatan Benny membuatnya mengenal sosok Baby lebih dalam. Diam-diam Baby juga dilirik dan didekati Zarro (Pangalila), siswa ganteng, rival Baby di tiga besar. Menjelang grand final, Baby menyadari dirinya dalam bahaya.


Opening film meyakinkan penonton bahwa inilah suguhan musikal dengan latar siswa-siswi SMA yang enerjik dengan pergerakan cinta dinamis. Apalah daya, suguhan musikal yang ditawarkan Massardi terjebak dalam alur drama anak-anak SMA yang sangat sering dijajakan sinetron stripping pencandu rating belakangan ini. Untuk memancing tawa penonton, rumus yang dipakai Massardi sangat slapstick dan (agak) mengabaikan logika. Meracik drama musikal sepertinya tak perlu diembel-embeli gaya slapstick, kalau mau memancing tawa pakai saja kelincahan dialog dan situasi yang sedikit konyol. Belum lagi background Baby yang dilakoni Cinta sebagai orang susah rupanya tak benar-benar hidup susah. Baju-baju yang dipakai masih masuk kategori mewah. Padahal, opanya saja digaji dengan buku, tidak dengan duit. Aksen ojheck bechek belum juga ditinggalkan.


Dari sisi akting, sama saja kedodoran. Ridwan Ghany diplot kaku, dan memang terasa kaku. Sementara Randy juga belum mendapat karakter menantang. Anehnya, aktor sekelas Tio Pakusadewo pun terlihat kurang leluasa membawakan Yudo yang otoriter, sementara Andi /Rif tetap dengan gaya nyentriknya. Cara membangkitkan rasa haru pun terasa kuno, dengan mendatangkan hujan. Mengapa harus hujan? Moment seperti ini terlalu sering dipakai FTV dan lagi-lagi sinetron stripping kita! Yang patut dipuji dari film ini, setting tempatnya bagus, tata cahaya yang lebih bergaya dan nggak monoton, editing-nya rapi, dan tak bertele-tele dari segi durasi. Ringkas saja!


Kami sih membayangkan dan berharap Oh Baby jadi Step Up versi putih abu-abunya Indonesia. Apa daya, ide sebagus ini eksekusinya masih begitu-begitu saja. Tapi setidaknya, pesan moral yang disampaikan film ini jelas. Tentang memaknai betapa beruntungnya mereka yang masih bisa mengenyam pendidikan dan secara verbal karakter Zarro mengingatkan Baby: Selamat datang di dunia sekolah yang penuh topeng. Masalahnya, siap tidak Anda melihat mereka yang bersembunyi dibalik topeng? Bagi yang masih demen pakai topeng, beranikah Anda menunjukkan siapa diri Anda sesungguhnya? Mbak Cinta aja berani lho...


Narayana's Popcorn: dua cukup...

Jumat, 01 Agustus 2008

Kick 'N Love: Tendangan Yang Kurang 'Nendang'!

Pemain : Shareena Gunawan, Oka Antara, dan Ibnu Jamil

Skenario : Nico Hermanu

Sutradara : Heru Effendy dan Dennis Adhiswara

Produksi : Prominent Asia Pictures

Produser : Ika Sastrosoebroto

Durasi : 84 menit


Mendengar kata kick sebagai salah satu elemen judul, anda tentu membayangkan sebuah film dengan paduan sportivitas dan cinta. Ya, Nico Hermanu merancang skenario tim futsal D' Nagas, dengan Tyo (Jamil) sebagai bintang lapangan yang digilai banyak cewek. D' Nagas yang selama ini dikenal sebagai tim tangguh merekrut Budi sebagai pemain bayaran. Bersama Budi, D' Nagas memetik beberapa kemenangan. Gita (Shareena) yang hanya lulusan SMU bekerja di sebuah butik. Budi, mahasiswa dengan IP 1,5 terpacu melihat keuletan pacarnya, Gita dalam menggapai cita-citanya menjadi seorang desainer. Tanpa disengaja, Tyo bertemu Gita di butik saat menjemput ibunya di butik. Gita tampak tak suka, persoalan di masa lalu bergulir. Konflik merumit saat, Budi memergoki Gita diantar pulang Tyo. Amarah Budi berbuntut pada pengkhianatan tim.


Belakangan futsal menjadi tren tak terbantah. Dari anak-anak SMP sampai mahasiswa, futsal begitu diminati dan kerap dikompetisikan. Ide Hermanu melirik futsal boleh juga. Tapi patut dipertanyakan pemilihan Ibnu Jamil dan Oka Antara yang baru menikah. Meski akting mereka tak mengecewakan, imej ketuaan kok belum bisa ditepikan ya? Shareena Gunawan untuk ukuran pendatang baru tampil manis. Jika ditilik seluruh castnya, semua karakter dibawakan secara wajar. Masalahnya, hubungan antar karakter dan konflik yang dimunculkan kurang tajam. Lihat saja, kebencian Gita pada Tyo karena sepupu Gita terjerat narkoba. Rasanya, akan lebih tajam jika ada penjelasan tanpa kata, dengan kata lain gambar yang 'bicara'. Itu kalau kami boleh menyarankan lho. Belum lagi hubungan Tyo dan Gita yang terasa tanggung, cinta segitiga bukan ya?


Citarasa olah raga futsal sepertinya kurang pekat. Penggambaran kompetisinya sih dapet. Maaf kalau kami terlalu banyak kata tapi, unsur dramatisnya masih kurang. Jika berkaca pada film-film Hollywood, di setiap pertandingan dalam film selalu ada tone-tone tertentu yang 'sengaja' dinaikkan untuk kebutuhan film. Di bagian itulah perasaan penonton 'dipermainkan', penonton dibuat gemas lalu berakhir dengan dua kemungkinan, kelegaan kemenangan atau malah sebaliknya. Heru dan Dennis mencoba menjajalnya, dan kurang menukik. Ending film berlalu begitu saja. Cinta dan sportivitas terlalu jauh untuk dikaitkan, bukan berarti takmungkin disatukan. Beberapa sineas luar negeri berhasil mengemasnya. Anda ingat Tin Cup (1996) milik Kevin Costner dan Rene Russo, meski tak terlalu laris berhasil membuat juri-juri Golden Globe angkat topi. Bahkan lawakan para waria dalam drama volly Iron Lady pun tak meninggalkan sesi haru biru dan pesan yang ingin disampaikan. Positifnya, film ini yang sangat drama ini bersih dari unsur seks dan elemen-elemen tak penting lainnya. Gambar-gambar yang ditampilkan cukup efektif dan durasi tak dilama-lamakan. Untuk ukuran produksi pertama, Kick 'n Love tergolong lumayan (dengan sejumlah catatan diatas). J wyn/foto: dokumentasi Prominent

popcorn: 2 saja ah...plus satu botol air mineral



Karma: Adakah Daya Untuk Menghindar?


Pemain : Dominique Diyose, Joe Taslim, Hengky Solaiman, Him Damsyik, dan Jenny Chang

Skenario : Salman Aristo

Sutradara : Allan Lunardi

Produksi : Credo Pictures

Produser : Elvin Kustaman

Durasi : 90 menit


Sandra (Dominique) syok. Betapa tidak, saat bertemu dengan calon mertua ia disambut lemparan gelas Tiong Guan (Damsyik) calon kakek mertuanya. Sandra dan Armand (Taslim) berencana menikah dalam waktu dekat. Sebagai ayah, Phillip (Hengky) menyarankan kedua calon mempelai agar segera pindah rumah setelah menikah, tanpa alasan yang masuk akal. Armand menolak, bisnis keluarga yang sedang kacau menjadi salah satu alasannya. Belakangan, dari gunjingan para pembantu Sandra menyadari sesuatu yang buruk tengah mengancamnya. Belum lagi beberapa sosok wanita terus meneror Sandra selama ditinggal calon suami ke Batam. Melalui tukang foto langganan keluarga Guan, Sandra yang ketakutan mengungkap selubung misteri keluarga mertua. Ternyata tak ada sosok ibu yang hidup di keluarga Guan! Lalu tiba saatnya Sandra melahirkan. Dalam perjuangan antara hidup dan mati itu, wanita bergaun pengantin menyambanginya di rumah sakit...


Semula kami pikir sudah tidak ada yang bisa digali lagi untuk genre i-horror di negeri ini. Ternyata dugaan kami keliru! Kita lupa, bahwa saudara-saudara kita etnis Cina juga punya kepercayaan dan mitos yang belum banyak disentuh sineas negeri ini setelah Ca Bau Kan dan May tempo hari. Itu pun bukan horor. Salman Aristo menjajalnya. Mitos mengumpat saat menyetir mobil, tradisi menikahi mayat Cina kuno dan pertanda jasad yang belum rela pergi tergali cukup rapi. Bagusnya, Salman masih sempat menyisipkan selera humor yang kalem dan sedikit sentilan sosial. Karma menjadi salah satu horor elegan yang tak banyak mengobral teriakan kepanikan dan hantu yang banci tampil.


Melihat daftar cast-nya, Karma masih mengandalkan nama-nama lawas. Mencari wajah oriental yang bisa akting beneran bukan perkara mudah. Him Damsyik tampil total, minim dialog dengan gesture efektif membuat sosok Guan konsisten bikin penasaran. Dominique yang kurang meyakinkan dalam Berbagi Suami kini menunjukkan progress lumayan bagus. Film ini menjajikan sejak awal karena opening grafisnya yang apik, dan alur flash back foto yang tak lazim. Sayang, konsistensi flash back foto ini kurang dipertahankan.


Horor yang cerah untuk jiwa yang lelah pada tema film Indonesia yang belakangan makin seragam. Karma tampil dalam suasana siang yang tak kalah mencekam. Hantunya jarang muncul karena unsur drama yang ditabur Lunardi cukup pekat. Irama film macam begini akan mengingatkan kita pada bidan drama horor Asia, The Ring. Anda yang cermat mengikuti alur film tak akan kelelahan. Pada beberapa scene, Karma terkesan lengang. Semakin lengang lantaran setting rumah yang dipakai terdesain kaku dan tegas. Belum lagi jika Aksan Sjuman sang penata musik 'sengaja malas' membiarkan sebuah scene berlangsung sunyi. Lalu perlahan, suara gemerincing bertalu kuat, maka anda harus menyiapkan perhatian ekstra. Awas, jangan sampai.... J wyn/foto: Publicist Credo Pictures

popcorn: 3 dari 5