
Pemain : Kevin Julio, Esa Sigit, Irshadi Bagas, Sakurta Ginting, Yuki Kato, dan Meriam Bellina.
Skenario : Nucke Rahma, S.H
Sutradara : M. Haikal
Produksi : Starvision Pictures
Produser : Chand Parwez Servia
Durasi : 90 menit
Masih ingatkah Anda, kapan pertama kali Anda mengalami mimpi basah? Kami tidak bermaksud jorok lho, karena faktanya setiap pria akan mengalami hal begituan. Inilah yang diributkan Didot (Sigit), Dimas (Bagas), Alvin (Julio) dan Ojan (Ginting). Empat remaja tanggung ini salah kaprah tentang wet dream. Mulai dari mitos terkena kanker prostat, nggak bisa tinggi, kerempeng hingga tak merasakan kenikmatan ML. Mitos-mitos sumir ini membuat Didot yang diawasi superketat oleh omanya (Bellina) sangat cemas. Berbagai cara dicoba Didot and the gank demi mencapai nikmatnya wet dream. Main mata sama cewek, buka situs-situs biru, hingga menyambangi rumah bordil House of Love milik Mama Mia (Ivan Gunawan) dan Mbak Juve (Perez). Demi 'bercengkerama' dengan bunga malam, mereka rela menjual barang-barang berharga milik mereka. Hasilnya? Anda bisa menyaksikan sendiri.
Kalau mau jujur, ide mengangkat mimpi basah dengan menampilkan empat remaja puber jelas masuk akal. Ada banyak hal yang bisa dikembangkan dari empat lakon utama beda latar belakang keluarga ini. Yang patut dikritisi, penampilan empat bintang utamanya. Sakurta 'Kipli' jelas mengundang tawa, gayanya yang asal nyablak seperti yang sudah-sudah memang menjadi cirinya. Masalahnya, Kevin, Esa dan Bagas di beberapa scene kurang bisa menimpali. Ada beberapa adegan dimana mereka tampak saling menunggu ketika dialog seharusnya segera bergulir, jadi terkesan lama dan kurang lincah. Di sinilah durasi proses reading dan keterampilan sutradara dalam mengarahkan pemain dituntut lebih panjang. Dan bukan Meriam Bellina namanya kalau tak becus improvisasi. Kombinasi aksen Belanda-Sunda-nya berkali-kali membasahkan suasana garing. Belum lagi ada Jaja Miharja, Inggrid Wijanarko dan Derry Drajat. Kalau ada Julia Perez, Ivan Gunawan dan Aura Kasih tentu bukan bonus yang mengecewakan. Yang sedikit mengecewakan, barangkali ending bikinan Bung Haikal yang kurang smooth. Kekonyolan demi kekonyolan yang ditebar sepanjang film berakhir begitu saja. Kalau ending dibuat dengan tone yang agak meninggi bisa jadi lebih asik dan mengesankan. Lagu-lagu di sepanjang film agaknya terlalu panjang dan dibawakan dengan kurang meyakinkan.
Lalu apa bedanya Basahhh... dibanding komedi esek-esek sebelumnya? Tema besarnya. Mengangkat mimpi basah di kalangan remaja puber bukanlah mengada-ada. Kalau toh beberapa banyolan menyerempet area sensual, itu pun masih bisa ditolerir mengingat tema logisnya mimpi basah remaja puber. Banyak kelucuan justru muncul dari dialog para pemain, jadi bukan obral slapstick semata. Dialog semakin berisi berkat sisipan pesan moral yang dikemas lugas dan ringan. Sangat cocok untuk pangsa pasar ABG. Dr. Boyke juga bersedia 'turun' ke tingkat pemahaman remaja SMP dalam menyampaikan penjelasan ilmiah seputar seks dan kondisi psikologis remaja puber. Dari segi teknis penggarapan Basahhh... cenderung standar, tak ada yang istimewa. Seandainya saja Bung Haikal mau lebih detail dan sabar, Basahhh... bisa jadi tampil lebih klimaks. Semoga bisa terwujud dalam karya Haikal selanjutnya.
Narayana's popcorn: Cukup dua, titik!