
Pemain : Shareena Gunawan, Oka Antara, dan Ibnu Jamil
Skenario : Nico Hermanu
Sutradara : Heru Effendy dan Dennis Adhiswara
Produksi : Prominent Asia Pictures
Produser : Ika Sastrosoebroto
Durasi : 84 menit
Mendengar kata kick sebagai salah satu elemen judul, anda tentu membayangkan sebuah film dengan paduan sportivitas dan cinta. Ya, Nico Hermanu merancang skenario tim futsal D' Nagas, dengan Tyo (Jamil) sebagai bintang lapangan yang digilai banyak cewek. D' Nagas yang selama ini dikenal sebagai tim tangguh merekrut Budi sebagai pemain bayaran. Bersama Budi, D' Nagas memetik beberapa kemenangan. Gita (Shareena) yang hanya lulusan SMU bekerja di sebuah butik. Budi, mahasiswa dengan IP 1,5 terpacu melihat keuletan pacarnya, Gita dalam menggapai cita-citanya menjadi seorang desainer. Tanpa disengaja, Tyo bertemu Gita di butik saat menjemput ibunya di butik. Gita tampak tak suka, persoalan di masa lalu bergulir. Konflik merumit saat, Budi memergoki Gita diantar pulang Tyo. Amarah Budi berbuntut pada pengkhianatan tim.
Belakangan futsal menjadi tren tak terbantah. Dari anak-anak SMP sampai mahasiswa, futsal begitu diminati dan kerap dikompetisikan. Ide Hermanu melirik futsal boleh juga. Tapi patut dipertanyakan pemilihan Ibnu Jamil dan Oka Antara yang baru menikah. Meski akting mereka tak mengecewakan, imej ketuaan kok belum bisa ditepikan ya? Shareena Gunawan untuk ukuran pendatang baru tampil manis. Jika ditilik seluruh castnya, semua karakter dibawakan secara wajar. Masalahnya, hubungan antar karakter dan konflik yang dimunculkan kurang tajam. Lihat saja, kebencian Gita pada Tyo karena sepupu Gita terjerat narkoba. Rasanya, akan lebih tajam jika ada penjelasan tanpa kata, dengan kata lain gambar yang 'bicara'. Itu kalau kami boleh menyarankan lho. Belum lagi hubungan Tyo dan Gita yang terasa tanggung, cinta segitiga bukan ya?
Citarasa olah raga futsal sepertinya kurang pekat. Penggambaran kompetisinya sih dapet. Maaf kalau kami terlalu banyak kata tapi, unsur dramatisnya masih kurang. Jika berkaca pada film-film Hollywood, di setiap pertandingan dalam film selalu ada tone-tone tertentu yang 'sengaja' dinaikkan untuk kebutuhan film. Di bagian itulah perasaan penonton 'dipermainkan', penonton dibuat gemas lalu berakhir dengan dua kemungkinan, kelegaan kemenangan atau malah sebaliknya. Heru dan Dennis mencoba menjajalnya, dan kurang menukik. Ending film berlalu begitu saja. Cinta dan sportivitas terlalu jauh untuk dikaitkan, bukan berarti takmungkin disatukan. Beberapa sineas luar negeri berhasil mengemasnya. Anda ingat Tin Cup (1996) milik Kevin Costner dan Rene Russo, meski tak terlalu laris berhasil membuat juri-juri Golden Globe angkat topi. Bahkan lawakan para waria dalam drama volly Iron Lady pun tak meninggalkan sesi haru biru dan pesan yang ingin disampaikan. Positifnya, film ini yang sangat drama ini bersih dari unsur seks dan elemen-elemen tak penting lainnya. Gambar-gambar yang ditampilkan cukup efektif dan durasi tak dilama-lamakan. Untuk ukuran produksi pertama, Kick 'n Love tergolong lumayan (dengan sejumlah catatan diatas). J wyn/foto: dokumentasi Prominent
popcorn: 2 saja ah...plus satu botol air mineral
Tidak ada komentar:
Posting Komentar