
Pemain : Cinta Laura Kiehl, Randy Pangalila, Ridwan Ghany, Tio Pakusadewo, dan Andy /Rif
Skenario : Cassandra Massardi
Sutradara : Cassandra Massardi
Produksi : MD Pictures
Produser : Dhamoo Punjabi dan ManojPunjabi
Durasi : 90 menit
Kontes Tari SMA telah memilih tiga besar. Saat itulah gadis bertopeng yang dijuluki Phantom (Kiehl) unjuk gigi di atas panggung dan melengserkan satu kontestan lain. Wizard (Andi) mencium bakat Phantom dan menawari kontestan putus sekolah itu masuk ke SMU Pekerti Luhur. Di sekolah unggulan inilah Phantom alias Baby menjadi loser. Nilai jeblok membuatnya terancam dikeluarkan dari sekolah. Kepala sekolah, PakYudo (Pakusadewo) menyuruh ketua Pengawas Harmoni Pendidikan (PHP) Benny (Ghany) mengawasi Baby selama menjalani bimbingan belajar. Kedekatan Benny membuatnya mengenal sosok Baby lebih dalam. Diam-diam Baby juga dilirik dan didekati Zarro (Pangalila), siswa ganteng, rival Baby di tiga besar. Menjelang grand final, Baby menyadari dirinya dalam bahaya.
Opening film meyakinkan penonton bahwa inilah suguhan musikal dengan latar siswa-siswi SMA yang enerjik dengan pergerakan cinta dinamis. Apalah daya, suguhan musikal yang ditawarkan Massardi terjebak dalam alur drama anak-anak SMA yang sangat sering dijajakan sinetron stripping pencandu rating belakangan ini. Untuk memancing tawa penonton, rumus yang dipakai Massardi sangat slapstick dan (agak) mengabaikan logika. Meracik drama musikal sepertinya tak perlu diembel-embeli gaya slapstick, kalau mau memancing tawa pakai saja kelincahan dialog dan situasi yang sedikit konyol. Belum lagi background Baby yang dilakoni Cinta sebagai orang susah rupanya tak benar-benar hidup susah. Baju-baju yang dipakai masih masuk kategori mewah. Padahal, opanya saja digaji dengan buku, tidak dengan duit. Aksen ojheck bechek belum juga ditinggalkan.
Dari sisi akting, sama saja kedodoran. Ridwan Ghany diplot kaku, dan memang terasa kaku. Sementara Randy juga belum mendapat karakter menantang. Anehnya, aktor sekelas Tio Pakusadewo pun terlihat kurang leluasa membawakan Yudo yang otoriter, sementara Andi /Rif tetap dengan gaya nyentriknya. Cara membangkitkan rasa haru pun terasa kuno, dengan mendatangkan hujan. Mengapa harus hujan? Moment seperti ini terlalu sering dipakai FTV dan lagi-lagi sinetron stripping kita! Yang patut dipuji dari film ini, setting tempatnya bagus, tata cahaya yang lebih bergaya dan nggak monoton, editing-nya rapi, dan tak bertele-tele dari segi durasi. Ringkas saja!
Kami sih membayangkan dan berharap Oh Baby jadi Step Up versi putih abu-abunya Indonesia. Apa daya, ide sebagus ini eksekusinya masih begitu-begitu saja. Tapi setidaknya, pesan moral yang disampaikan film ini jelas. Tentang memaknai betapa beruntungnya mereka yang masih bisa mengenyam pendidikan dan secara verbal karakter Zarro mengingatkan Baby: Selamat datang di dunia sekolah yang penuh topeng. Masalahnya, siap tidak Anda melihat mereka yang bersembunyi dibalik topeng? Bagi yang masih demen pakai topeng, beranikah Anda menunjukkan siapa diri Anda sesungguhnya? Mbak Cinta aja berani lho...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar