Jumat, 22 Agustus 2008

Oh, My God!: Populerkah Anda?


Pemain : Desta, Revalina S. Temat, Ringgo Agus Rahman, Maia Estianty dan Inggrid Wijanarko

Skenario : Raditya dan Key Mangunsong

Sutradara : Rako Prijanto

Produksi : Oreima Films dan Peach Blossom Media

Produser : Reza Hidayat, Indra Birowo, Daniel Rahmad, Vena Annisa

Durasi : 112 menit


Jangan tertipu posternya! Melihat ekspresi empat wajah pemainnya, orang akan berpikir Oh My God film komedi. Anda yang berharap mendapat banyak lawakan di film ini bisa jadi akan kecewa. Rako Prijanto saja menyebut karya teranyarnya ini 80 persen drama, jadi anda bisa bayangkan eksekusinya. Slamet Arifin alias Ipin (Desta) sosok pecundang kelas. Usia boleh 22 tahun, tapi masih saja duduk di bangku kelas dua SMU. Sebagai anak tukang laundry, ia naksir Tiara (Revalina) anak ketua Yayasan sekolah Mutiara Bangsa, yang memberi bea siswa pada Ipin agar bisa melanjutkan sekolah. Selain itu, Ipin harus menghadapi pacar Tiara, Marco (Ringgo) ketua geng D Ningrat, cowok paling populer, model dan dibesarkan dari keluarga tajir. Bagaimana Ipin dengan wajah tuwir-nya merebut hati Tiara?


Mendengar ceritanya, nyaris tak ada ide baru yang ditawarkan. Setengah jam pertama, terasa berat apalagi jika anda berharap bisa tertawa lepas. Bisa jadi film ini hanya membuat anda tersenyum atau tertawa kecil saja. Tapi penonton tak akan kecewa melihat totalitas Desta yang tampil ndeso. Muka dan gaya jadulnya, baju-bajunya yang berwarna suram membuat penampilannya terbilang gemilang. Reva memperlihatkan pergerakan akting yang cukup dinamis. Setelah tampil pucat pasi karena diteror Pocong Rudi Soedjarwo, di film ini ia nyaman dengan sosok Tiara. Maia beruntung mendapat karakter ibu cantik tapi judes, entah kenapa juteknya Maia tampak natural di film ini, entah jika mood jutek itu didapat dari kasus berbelitnya di pengadilan agama. Ah, sudahlah! Kami tak ingin berspekulasi dalam hal ini. Scene stealer film ini tentu Inggrid Wijanarko, dialah biang keladi unsur komedi.


Tema yang diangkat sangat sepele, tak jauh dari konsep si cantik dan si buruk rupa. Dalam wacana bule beauty and the beast. Tapi Key Mangunsong dan Radit meramu beberapa jurus yang membuat Oh My God teteup enak diikuti. Adegan komunikasi morse SOS dari balik cermin mempermanis cerita yang terkesan klasik. Oh ya, kapan terakhir kali anda menonton layar tancep dan berkaroke lagu Broery Pesulima? Rako mengajak penonton mengenang memori dengan menghadirkan ornamen 80 dan 90-an itu di pertengahan film, dalam kemasan editing yang rapi.


Kalau anda tak tertarik dengan kisah cinta beda kasta yang dijajakan film ini, coba lihat pesan moral yang ditawarkan. Secara verbal, Ipin mengingatkan kawan-kawannya bahwa diskriminasi di sekolah bukanlah hal yang layak ditoleransi. Mengapa harus ada kelompok populer disekolah yang menguasai lahan kantin? Mengapa pesta ulang tahun siswa berorang tua tajir tak patut dihadiri siswa nontajir? Mengapa sekolah di negeri yang gemah ripah loh jinawi seolah hanya untuk kelompok tajir bin populer sementara si miskin harus memanipulasi umur dan mengais remah rejeki untuk menyekolahkan anak? Lalu anda dan kami akan dibawa pada sebuah perenungan, bahwa jalan mulus tersedia bagi mereka yang memiliki kekuasaan dan pangkat. Dengan mudah, mereka yang mengklaim diri famous bisa menyunat hak si miskin dalam memperoleh pendidikan. Pada fase genting, mereka yang terpingirkan dan dianggap tak populer oleh segelintir kaum populer itu membuat gerakan dan mendobrak dominasi. Dengan bersemangat, mereka yang tak populer berkata: saya adalah mayoritas! Coba renungkan pesan berat yang dikemas ringan Rako Prijanto ini, setelah anda keluar dari bioskop.

narayana's popcorn: dua saja plus soft drink!


Tidak ada komentar: