
Pemain : Zidni Adam Zawas, Ayu Andhika, Elena Lubis, Ikbal Azhari dan Diah Cempaka Sari
Skenario : Rihanna Prameswari
Sutradara : Ian Jacobs
Produksi : Mitra Pictures
Produser : Evry Wanda
Durasi : 90 menit
Tanpa bermaksud sok tahu, tapi setahu kami kalau mau membuat film apalagi bergenre horor, paling tidak harus punya konsep yang baru. Sekadar informasi, publik Asia saja sudah mulai jenuh dengan pemunculan perempuan berbaju putih dengan rambut tergerai sejak Mbak Sadako alis Samara (versi Amerika) menjadi gunjingan. Atau setan anak kecil ala Ju On, atau Jelangkung versi lokal. Jadi kalau ada film horor dengan setan perempuan berambut panjang atau anak kecil pucat pasi kayaknya bukan hal baru lagi, kecuali didukung dengan promosi yang gila-gilaan. Itulah sebabnya dari puluhan film dedemit made in Indonesia, praktis hanya Jelangkung dan Pocong 2 yang membekas di hati penonton. Sekonyong-konyong hadirlah Sarang Kuntilanak. Figur yang pernah diusung Rizal Mantovani dalam tiga jilid. Tanpa ada press screening dan gembar-gembor sebelumnya. Apakah produser dan sutradara nggak percaya diri dengan karyanya? Takut filmnya mendapat ulasan negatif para kuli flash disc?
Ceritanya sepintas mirip Jelangkung. Norman, Martha, Vero dan Willy, sekelompok mahasiswa yang ingin membuat film dokumenter. Saat menggodok konsep, muncul ide neko-neko mendokumentasikan dusun Kalimati. Sebuah pedesaan yang kini yak lagi berpenghuni lantara semua penduduknya telah tewas. Sebelum bertolak ke dusun angker mereka sudah diperingati Vivian, dosen muda yang diplot miterius dan pendiam. Vivian sebelumnya pernah melakukan penelitian di Kalimati. Imbauan Vivian tak digubris, mereka nekat mengunjungi Kalimati. Endingnya? Anda bisa tebak dengan benar tentunya.
Setelah menuntaskan film ini, kami berpikir tak ada hal baru yang ditawarkan film ini. Kalimati mengingatkan kami pada Ujungsedo, asal muasal Sri Sukma alias Mbah Putri pelantun sekar Durma (Kuntilanak) atau Angkerbatu, sarang Jelangkung. Gaya memunculkan hantu pun sami mawon. Mulai di kamar, rumah kosong, hingga si hantu ikut nonton film di cineplex, yang mengingatkan kami pada Tusuk Jelangkung. Nyaris tak ada yang mengejutkan di sepanjang durasi. Yang baru hanya wajah para pemain, dengan akting yang ya, begitulah. Pada beberapa scene para pemain terlihat panik betulan, panik harus berkating bagaimana. Adegan di air terjun dengan gerimis kecil-kecil kami akui indah. Setting tempat yang dipilih cukup meyakinkan untuk sebuah tema horor. Maaf hanya sebatas itu saja, karena ending film menjadi sebuah boomerang bagi kreator film ini. Tanpa kejutan!
Jelas sudah, Ian Jacobs bertanggung jawab atas beberapa kegagalan dalam film ini. Jelas sudah, menakut-nakuti penonton sama sulitnya dengan membuat penonton tertawa. Ketika banyak film komedi Indonesia malah 'ditertawakan' penonton, ketika banyak penonton mulai 'berani' menonton film horor sendirian, apakah Sarang Kuntilanak mampu membuat nyali para penonton pemberani menciut? Yang jelas, kalau film ini menuai keberuntungan kecil di daerah, kami tidak heran.
Narayana's Popcorn: cukup 1!