Sabtu, 19 Juli 2008

B3rtiga

Seharian di depan komputer membuat kepalaku terasa pusing. Kalau sudah begini biasanya aku mulai menjambak-jambak rambutku sendiri pelan-pelan. Setiap remasan kubidikkan di pusat kepeningan. Entah tersugesti atau apa, biasanya pusing itu reda sesaat. Capai juga menyelesaikan dua berita. Seharian ini pun aku tak ingat pada Mas Legawa. Sedang di rumahkah bersama mbak Asta? Atau tengah pelesir ke bioskop? Tak peduli. 10 bulan sudah aku dan Mas tak ketemu. Bertambah kuruskah dia, atau semakin gemuk lantaran istrinya hamil, praktis tak ada lagi yang mengurusnya mendetail. Masa bodoh. Daripada mengurus Mas yang tak lagi mengurusiku, tak lagi mendeteksi apa film terakhir yang aku tonton, lebih baik meng-update berita tentang seorang ibu Noersyaidah yang dijuluki manusia kawat. Kok bisa ya, kawat-kawat sepanjang 10 sampai 12 sentimeter menembus keluar perutnya? Belum juga pertanyaan itu terjawab oleh tim dokter, belum juga hati nuraniku mencoba mencari jawaban. Ponselku menjerit sekuatnya. Sial!

“Hey bo', ngapain lu?”

Tere seperti biasanya. Enaknya, jadi pegawai negeri. Sabtu-Minggu, seperti kata Shandy Cannester menjadi hari untuk pasangan dan diri sendiri. Tak seperti aku yang jadi kuli tinta. Eh, kuli disket. Eh, disket udah nggak jaman ding, kuli flash disc, maksudnya.

“Kenapa Jeung? Jangan bilang kamu nelpon sambil 'ngibadah', ya? tanya balikku.

“Aih, gue yang menjanda gini aku ngibadah sih bo', entar kalau lubang tambah nganga lu mau tanggung jawab? Gini, gue mau ngajakin lu ajojing ntar malam. Mau gak? Kalau mau cap cus jam 9 malam gue jemput. Jangan bilang kamu nggak bisa gara-gara masih ngantor atau lagi pusing mikirin Legawa yang selalu bikin dirimu terpaksa legowo ya? Gue gaplok lu entar, gue jedotin muka lu di monitor komputer di kantor lu. Yuk mariiiii”.

Ya, begitulah Tere. Belum juga mengiyakan atau menidakkan tawaran telepon sudah ditutup. Kelabing? Bukan tipeku. Lebih baik running watch di bioskop ampe goblok daripada ke GX-Club. Tapi apa boleh buat? Kemarin nonton, hari ini nonton rasanya bukan pilihan hiburan yang pas. Baiklah.

“Nah, gitu dong. Begaul makanya. Siapa tahu di GX ada sedap-sedapan mata yang bisa kau cube”.

“Diem lu,” sambarku ketus sambil membanting pintu Feroza-nya yang belakangan makin terlihat jadul.

“Lu tu ye, hari-hari masuk kerja. Minggu habis ketemuan sama Yang Di Atas, teteup aja maksain nyambung ke kantor. Gue kasih tahu ya bo' nggak segitunya kali buat ngelupain si Tai Kucing itu”.

“Legawa,” Jawabku datar.

Whatever-lah Jeung. Yang jelas gue juga sama kayak lu dan Jeung KD. Gue juga menghitung hari hari. Udah sepuluh bulan ini sejak Legawa brengsek itu menikah, dan lu diundang. Dengan berdarah-darah lu datang ke resepsi pernikahannya dan dengan berdarah-darah pula lu mau mangkat dari kehidupan Legawa. Dia bilang ma lu kalau hubungan kalian.....aaaauuuww.....! Anjing! Tai lu ya!!!”

Umpat Tere sambil melongok keluar jendela mobil, yang tak pernah ditutupnya. Sebuah Kijang hampir menubruk mobil kami. Untung si Tere terkenal gesit sejak dulu dalam berkompromi dengan maut.

“Nyetir ya nyetir, ceramahnya entar,” sahutku sambil menutupi rasa deg-degan. Setengah meter lagi kaca depan mobil kami dapat dipastikan rontok, jika Mirza tak banting setir ke kiri.

“Gak bisa berhenti bo' gue mesti lanjut. Dia bilang hubungan kalian akan tetap berjalan, tapi gimana kenyataannya. Kayaknya si Legawa udah ketagihan memek jadi lupa ama kubangan semula.”

“Berapa kali ya gue mesti bilang, itu jalan terbaik Jeung!” jawabku dengan nada meninggi.

“Kalau itu yang terbaik buat kalian berdua. Sekali lagi, berdua! Pipi lu nggak bakalan setirus ini, Cong!” Mirza tak mau kalah.

Aku hanya diam. Apalagi yang harus kubantah. Rasanya tak ada. Adakah gunanya membantah sebuah kebenaran? Bukankah jika sekali lagi kubantah, akan ada bantahan lain yang lebih keras sekaligus mematahkan? Tumben-tumbennan ibu kota tak macet. Tak lebih dari satu jam kami telah sampai di GX. 5 menit untuk gontok-gontokan, 5 menit untuk deg-degan lantaran hampir dijemput maut, dan sisanya kami saling diam.

Bo' gue mau ke toilet dulu ya,” Tere minta ijin.

Suara gemuruh musik dan sorak sorai pengunjung semakin riuh. Entah apa yang dirasakan GX-ers, begitu para pelanggan salah satu kelab malam terkenal di ibu kota ini disebut. Ada laki. Ada perempuan. Ada setengah laki, juga setengah perempuan. Ada yang doyan laki. Ada yang doyan perempuan. Ada yang laki hanya doyan laki. Adapula yang perempuan hanya doyan perempuan. Yang maruk mau dua-duanya juga ada. Begitulah GX menjadi akuarium bagi semua manusia yang menerjemahkan orientasi dan diri mereka secara bebas. Malam ini aku naik ke lantai dua. Di sanalah, para penari mulai merasa busananya terlalu menghalangi gerak tubuhnya. Jadi tak perlu kujelaskan apa yang mereka lakukan terhadap 'para penghalang' tersebut. Yang jelas, aku pribadi merasa solusi yang mereka tempuh maksa banget. Satu persatu para penggemar mulai mengikuti jejak sang 'raja panggung'. Aku sebut raja agar lebih jelas apa kelaminnya. Kelamin? Penting buat para GX-ers? Ck... Seorang penari dengan wajah jalangnya menatapku dari kejauhan. Satu tangannya memegang tiang, sementara yang lain menggosok benda yang masih tertutup kancut. “Do you want to join with me?” Barangkali begitu tanyanya nun jauh di atas panggung. Aku mulai mendekat.

Dugem? Menari? Salah satu kelihaianku. Aku ingat dulu waktu duduk di bangku sekolah. TK, SD, SMP, dan SMA setiap kali ada festival tari, entah itu tradisonal maupun modern semua elemen sekolah yang sering menyebutku banci berubah menjadi sok malaikat. Bersikap ramah, memuji, dan memuja. Maksudnya, agar aku bersedia mewakili sekolah untuk unjuk gigi. Meski pada saat menari tak ada adegan memamerkan barang di dalam mulut yang kadang warnanya kuning itu. Perlahan aku mulai naik diatas panggung. Raja panggung yang 10 menit silam melirikku, melempar ciuman tepat menampar pipiku. Aku jadi seperti kesurupan. Aku menari mengikuti dentuman musik ajep-ajep. Awalnya kaus putihku yang tersingkap.

“Woeeeeee.....” penonton menyambut antusias sensasi kecil yang kubuat, sementara raja panggung berubah mejadi babu dengan memungut kaus ketat putih polos yang baru saja kubeli dengan label sale 50%+20%. Lalu jins biru belel yang ku beli di kota pelajar, dan....

“Whhhoaaaaa......!!!!”

'Pria' mana yang tak menganga melihat barang Indonesia lebih dari 17 senti? Bahkan raja panggung panggung pun mencoba mencuri kesempatan untuk menjamahnya. Aku beringsut ke sayap kiri panggung, secepat kilat menyambar gelas berisi soft drink dan splasssshhh.....wajah sang Raja tersiram sudah. Meski akhirnya kuberi kesempatan memegang tiga detik saja. Saatnya mengakhiri show. Aku menuju belakang panggung. Enam pasang penari pria yang sedianya akan tampil memberi 'sambutan' dengan memilih area penyambutan di tubuhku. Lalu kukenakan jins belel, sementara CD kuselipkan di saku depan. Kaus putih kukenakan sekenanya.

Musik semakin menghentak. Maklum, tiga raja baru memerintah diatas panggung. Penari yang ketiban sampur bir membuntutiku dari belakang. Aku pura pura tak melihat. Aku terus menyusuri lorong menuju toilet pria, menyingkap resleting dan mengeluarkan organ. Pufff...lega sekali rasanya.

“Gaya kamu tadi top banget, sudah sering club to club?”

Suara pria bernada datar menyentak kuping kiriku. Hidungnya menyentuh daun kuping. Aku berusaha melirik, sementara matanya melihat ke arah bawah, tepatnya organ tubuhku yang tengah meluarkan air putih kekuningan.

“Hati-hati kalau bicara,” sahutku setengah berbisik.

“Aku rasa, aku sudah cukup berhati-hati dalam memilih kata,” tangkisnya sembari meletakkan kedua tangannya di kedua pinggangku.

“Sayang sekali, pilihanmu keliru.”

“Oh, ya?”

“Ya, termasuk pilihanmu untuk meletakkan kedua tanganmu di pinggangku Sob...”

Kedua tangan pria ini mulai beringsut. Aku menyalakan air lalu berpindah ke wastafel. Sabun cair kutekan dan membuat busa kecil-kecil di kedua telapak tangan. Dan menyalakan kran air kembali.

“Dharma.”

“Ian,” jawabku sesingkat caranya memperkenalkan namanya.

“Kamu juga sama seperti aku?

“Maksudnya?” tanyaku balik sambil mencomot dua lembar tisu.

“Penari?” sela Dharma.

“Sekali waktu kamu perlu mengikuti perkembangan informasi terkini, Mas Dharma.”

“Maksudmu?”

“Barangkali sebelum kamu berkenalan dengan saya, kamu perlu berkenalan atau setidaknya tahu siapa Artalyta dan mengapa si ratu lobi lulusan SMU itu bisa menghebohkan negerti kita.”

“Peduli setan dengan Artalyta,” sahutnya.

“Barangkali rumus hidup kita berbeda. Buat saya keren tidaknya seseorang bergantung pada besaran isi otaknya. Tapi buat anda keren tidaknya seorang pria bergantung pada besaran isi celana dalamnya?”

“Hati-hati kalau bicara, Ian.” jawabnya perlahan.

“Sekarang anda menempati posisi saya sepuluh menit silam. Sekarang anda tahu rasanya kan?”

Dharma terdiam. Tapi sejenak saja. Tapi matanya tak pernah diam. Sebenarnya dia boleh juga, tapi tak secepat itu aku mengakhiri sebuah penilaian terhadap seseorang. Apalagi belum setengah jam aku mengenalnya. Perlahan dia tersenyum. Entah kagum, entah senyum culas layaknya tante-tante antagonis dalam sinetron stripping yang ceritanya tergantung rating.

“Selamat malam,” pungkasku sembari tersenyum dan keluar dari toilet GX yang sebelas dua belas dengan toilet hotel bintang lima. Aku terus melangkah dan tiba di pintu keluar GX. Duh, Tere kemana lagi ni? Aku mulai celingukan ke beberapa sudut luar GX.

“Gue di sini!”

“Pulang yuk Jeung?” ajakku.

Kami bergegas masuk ke dalam, masuk lift menuju lantai basement. Tak lama kemudian kami masuk mobil yang hampir di terjang Kijang tadi.

“Wajah udah mulai sumringah nih?” sindir Tere dalam perjalanan pulang.

“Udah lu diem aja, jangan sampai ada Kijang kedua dan kamu kurang gesit kayak tadi waktu berangkat ya, Nyet!” kilahku dengan pandangan lurus ke depan.

“Ya sudah, entar kalau kamu ngerasa kangen dan pengen ketemu si Dharma lagi, tinggal tele-tele gue ajah. Atau mau ke GX sendiri?”

“Anjrit, lu masuk ke kamar mandi cowok tadi?” tanyaku. Kali ini aku menoleh ke arah dia.

Seat belt-nya Jeung. Jangan sampai kegaruk polisi lu.”

“Jangan mengalihkan perhatian ya Re,” sembari aku memasang sabuk pengaman.

“Emh...Dharma itu primadona cewek cowok di GX. Lu aja yang nggak tahu. Oh, ya kamu baru kali ini ya ke GX. Gimana? Sebelas dua belas ma Legawa tak?”

“Gue nggak kepikir sampai ngebandingin, Re...”

“It's okey.”

Begitu lancarnya jalanan ibu kota. Labih lancar ketimbang berangkat tadi. Seandainya saja tiap hari begini, tak ada macet tak ada suara klakson menjerit-jerit sepanjang hari. Tere. Dia salah satu cewek penting dalam hidupku. Tanpa dia, mungkin aku tak akan bisa mengalami perubahan fisik sebagus ini. Kegigihannya mengubah aku dari sosok pria feminin menjadi lebih berbentuk, tak akan pernah bisa disilap dengan hal apapun. Meski penampilannya tak lagi selembut dulu. Arion telah mengubah separuh hidupnya menjadi gelap. Perubahan yang tak pernah aku, Flora dan Dara sangka.

“Dah Jeung, sampai ketemu besok ya.”

“Oke, thank you udah bikin mood-ku cheer up!” sahutku sumringah.

Kepalaku terasa agak berat. Mata udah mulai terkatup-katup. Butuh waktu 10 menit untuk mengingat dimana aku menaruh kunci tadi, sebelum akhirnya masuk rumah. Cepat-cepat kubuka sepatu dan menanggalkan jins dan kausku. Beginilah perilakuku di rumah. Tak ada siapa pun kecuali pembantu. Jadi mau ngapain aja itu urusanku, suka-suka aku. Terserah aku. Oh my God, melihat sofa panjang membuat aku berlari kecil, bersiap merebahkan tubuh.

“Darimana kamu?”

Sebuah suara mempertanyakan kepergianku baru saja....


Kamis, 17 Juli 2008

Doraemon The Movie-Nobita's Dinosaur: Indahnya Persahabatan Mereka...


Skenario : Kozo Kusube dan Ayumu Watanabe

Sutradara : Ayumu Watanabe

Produksi : Fujiko-Pro

Produser : Daisuke Yoshikawa, Kumi Ogura dan Tatsuji Yamazaki

Durasi : 92 menit


Hati-hati kalau mau sesumbar! Melihat Suneo pamer fosil kuku Tyrannosaurus, Nobita yang tak mau kalah sesumbar akan menunjukkan fosil dinosaurus utuh. Tanpa disengaja, Nobita menemukan fosil telur. Kain pembungkus waktu milik Doraemon memperlihatkan bahwa fosil terlur itu berisi bayi Futabasuzukisaurus. Setelah menetas, Nobita menamainya Pisuke dan diam-diam memeliharanya di rumah. Pisuke dewasa membuat kehebohan di Jepang. Nobita dan Doraemon berupaya mengembalikan Pisuke ke zaman Cretaceous dengan mesin waktu. Celakanya, ada oknum lain yang membuntuti dan menyerang Nobita Cs saat memasuki mesin waktu. Bersama Giant, Suneo dan Shizuka, dimulailah petualangan Nobita-Doraemon di alam purba yang mahaganas. Belum lagi mesin waktu Doraemon yang rusak memperkecil kemungkinan mereka pulang ke rumah.


Bukan Doraemon kalau tidak aneh-aneh dalam berpetualang. Kali ini formula yang di racik Kozo Kusube dan Ayumu Watanabe benar-benar memutar balik waktu. Dari era Jepang Megapolitan menjadi Jepang purba. Paparan pembuka menuju konflik terkesan detail, kalau tak mau dibilang bertele-tele. Meski sudah mengedarkan lebih dari lima seri film di bioskop Indonesia, Doraemon masih saja setia memainkan ekpresi wajah untuk memancing tawa. Slapstick! Terkesan Basi? Tunggu dulu, pasar yang disasar film ini adalah anak-anak kecil hingga mereka yang masih dibangku SD. Jadi jangan heran mereka akan tetap tertawa lepas. Jangan heran pula, kalau orang dewasa masih saja bisa ketawa. Ingat, amunisi Doraemon terletak pada usia serial kartunnya. Di Indonesia saja, tayangan kartunnya tahun ini memasuki usia 18 tahun. Tentu Doraemon selalu menarik perhatian mereka yang selama ini menjadi penggemar loyal si robot kucing.


Sekedar mengingatkan, menurut penulis komik ini Fumiko Fujio (70) Doraemon lahir pada tanggal 31 September 2112, dengan berat badan 129,3 kg dan tinggi badannya sama 129,3 Cm ini sengaja dikirim oleh cicitnya cicit Nobita, Sewashi untuk membantu Nobita mengatasi sifat malasnya. Pertama kali terbit tahun 1969, dan pada 1973 serial animasinya beredar. Bisa dibayangkan, ikon robot ini sangat 'mendarah daging' dikalangan pemirsa negeri matahari terbit. Setiap akhir pekan, Doraemon masih setia menyambangi pemirsanya. Gaya bertuturnya seolah tak mampu tertembus perubahan jaman. Artinya, Anda pun akan merasa aneh jika kemasan Doraemon mendadak berubah.


Dari segi teknik animasi, Nobita's Dinosaur tak jauh berbeda dengan jilid sebelumnya. Sangat klasik, dan cenderung enggan beranjak dari pakemnya. Termasuk cara Dopraemon mengolah ending film secara dramatis disertai tetes air mata. Petualangan di tempat asing akan selalu disertai moment perpisahan. Semakin mengiris, lantaran musik pengiring ditimpali orkestrasi spesialis penyayat hati. Satu lagi yang khas, Doraemon tak pernah bisa lepas dari pesan moral persahabatan. Saat Suneo tertarik pada tawaran musuh, pulang ke Jepang secara instan, Giant memilih tetap setia pada Nobita yang menyelamatkan nyawanya saat akan jatuh ke jurang. Bahkan seorang Giant yang preman pun masih punya sisi baik yang layak dibanggakan. Begitulah Doraemon! Pintar mengemas sesuatu yang klasik menjadi suguhan yang selalu dinanti dan bisa dinikmati penggemar loyalnya. Tak banyak serial kartun yang selegendaris penggila Dorayaki.


Narayana's PopCorn: 2 cukup beda rasa tapi...sesuai dengan filmnya klasik tapi lain packaging!

Anda Puas, Saya Loyo: Sepertinya, Inilah Sampah Audio Visual!


Pemain : Yeyen Lidya, Andi Soraya, Komeng, Bowby Tince, Sandy Tumiwa&Ryan Syehan

Skenario : KK. Dheeraj

Sutradara : KK Dheeraj

Produksi : K2K Production

Produser : KK Dheeraj

Durasi : 90 menit


Alkisah, Inem (Lidya) yang hobi main sepak bola dipaksa menikah ayahnya (Mastur), namun yang terjadi malah insiden lantaran Inem menyuruh Sisi banci (Tince) menggantikannya sebagai mempelai. Inem akhirnya disuruh merantau ke Jakarta menjadi pembantu Wisnu (Tumiwa). Belakangan sahabat Wisnu, Rendra (Seyhan) menyukai Inem. Jalinan kasih beda kasta pun terajut. Di lain pihak, Kang Cut (Komeng) pulang kampung dan menggaet adiknya Inem, Tarjin (Bedu) dan Bejah (Onshu) untuk bekerja ke Jakarta. Di sanalah Trajin dan Bejah menjadi pegawai Tante Tetty Qadi Pinky (Soraya). Jakarta mempertemukan kakak beradik berlogat Jawa.


Cerita klasik dekade 70-an tentang pembantu yang (kebetulan) bernama Inem pernah diangkat ke layar lebar. Kala itu, generasi bunga Titik Puspa dibawah arahan Nya Abbas Akup menyabet piala Antemas FFI 1977 lewat Inem Pelayan Sexy sampai dibuat trilogy termasuk versi lain bikinan Mochtar Soemodimedjo, Inem Nyonya Besar. Entah apakah KK Dheeraj bisa mengulang sukses yang sama. Tapi dari judulnya saja Anda tentu bisa menebak Anda Puas Saya Loyo akan melawak di area sekwilda (Sekitar Wilayah Dada). Nama-nama yang hendak dijual antara lain aktris sensasional Andi Soraya dan spesialis 'Bisik-Bisik' dini hari Yeyen Lidya. Cukup memprihatinkan melihat para pemain berbakat seperti mereka seolah dibiarkan begitu saja. Tak terarah, begitulah kesan yang membekas saat anda menonton. Nama lama seperti Ryan Seyhan dan Sandy Tumiwa berakting tak ubahnya pendatang baru yang belum terpoles. Entah apa yang terjadi di lokasi syuting.


Kalau maunya menggarap film komedi, (slapstick pula!) kenapa tak total berkutat pada adegan-adegan konyol sekalian? Pengembangan unsur drama yang maunya menyentuh, dengan memasukkan elemen Ryan Seyhan-Sandy Tumiwa tak memberi hentakan apa pun dan malah mengkhianati unsur komedi. Jika mau berkaca pada Dono-Kasino-Indro, nyaris semua adegan mereka terangkai slapstick. Kadang maksa malah. Tapi jualan kekonyolan dan konsistensi mereka pada adegan salah ini salah itu mentahbiskan mereka sebagai legenda slapstick yang dikenang sepanjang masa. Unsur drama yang dipercikkan tak sampai menggugurkan fondasi slapstick. Musik bikinan Kasino Cs pun memperkuat imej slapstick. Mereka nggak maksain memasukkan unsur pop demi menaikkan kelas dan pamor.


Kami sangat sadar membuat karya seni berjenis film layar lebar tidak gampang. Baiklah, kami berhenti bernyinyir ria dan mencoba berfikir positif (dan menemukan sisi positif) begini, ada nama Komeng, Bedu dan Ruben Onshu di film ini. Merekalah tiga senapan tawa yang bisa dibidik mengocok perut penonton. Bedu dan Ruben cukup leluasa mengembangkan unsur komedi dan bukan Komeng namanya kalau tak becus berimprovisasi. Ia terbukti lihai melucu. Ialah penyelemat muka film ini. Tak terbayang jika tanpa Komeng, apa jadinya film ini? Sepertinya, KK Dheeraj terlalu PD menggarap skenario, film dan merogohkocek untukfilm macam begini! Dengan track record dua film sebelumnya Genderuwo dan Skandal Cinta Babi Ngepet, anda bisa memprediksi sendiri seperti apa eksekusi Anda Puas Saya Loyo. Awas, jangan sampai Anda loyo beneran sekeluar bioskop!


Narayana's Pop Corn: i have no pop corn for this movie!

Minggu, 13 Juli 2008

10 Fresh Hits Nah!: Fresh Jelang Era Millenia!!


Tittle : 10 Fresh Hits Nah!

Format : kompilasi various artist

Label : Aquarius Musikindo, 1999


Anda ingat? Di pengujung dekade 90-an album kompilasi menjadi sebuah tren yang tak bisa dibilang jelek. Sony Music (kini SonyBMG) merilis album Indie Ten pada 1998. Tak disangka, album salah pilih single ini meledak di pasaran. Dengan cover album pas-pasan dan single Tak Ingin dari Wong, album ini melahirkan superband Padi, Sobat. Belum lagi Caffeine dan Cokelat. Lalu album ini dilanjutkan dengan jilid kedua dan tiga yang gagal mengulang sukses penjualan, dan gagal melahirkan band-band penting di Tanah Air.

Setahun kemudian Aquarius seolah mengekor jejak dengan 10 Fresh Hits Nah! Album ini dimata saya sangatlah special. Lebih variatif, tak melulu dalam format band. Mau solois cewek? Ada Ninis dengan Sudahlah, ciptaan Melly Goeslaw. Tak dinyana, empat tahun kemudian, Sudahlah didaur ulang Marcell dalam debut album perdananya, dengan adaptasi lirik maskulin. Jangan lupa, di album ini ada penyanyi bersuara 'aneh' tERe, membawa karya ciamik duo sohib Beby Romeo dan Ahmad Dhani, Sendiri. Di album ini, Sendiri sama sekali 'tidak bunyi'. Uniknya, dua tahun kemudian Sendiri versi panjang (karena durasinya lebih panjang sekian puluh detik) muncul di album Awal Yang Indah. Dan saat dibuat video klip, teteup memakai yang versi Fresh Hits Nah!

Ada lagi duo manis Zoel dan Fenty mengusung Satukan Rasa. Lagu dengan lirik yang jauh lebih pakem dan berkelas ketimbang band cemen yang belakangan menjamur ini diaransemen orang-orang penting negeri ini. Keyboard oleh Erwin Gutawa dan bass by Indro, dua nama yang menghantarkan KD menuju konser tunggalnya! Formasi kelompok vokal diisi oleh Trap's, single Saling Memiliki dikemas apik meski gagal jualan di pasar sebagai first hit. Lalu Elfonda Mekel alias Once (ada yang nggak kenal dengan nama ini? Go to the ocean!) tampil dengan Anggun sebagai second single. Dengan lirik bergaya sastrais torehan Ahmad Dhani (entah kalau dia mencomot barisan kata milik Gibran), dan suara latar ajaib dari Beby membuat penampilan Once dalam lagu pertamanya ini sangat optimal. Side B dibuka dengan lagu upbeat dengan susunan lirik nan apik, Di Sini by Rafael. Karakter vokalnya memang kurang khas namun ialah yang mencipta melodinya. Lima tahun kemudian Sahrul Gunawan mendaur ulang lagu ini di album Sentuhan baru. Hey, kalaukamu dengar track pembuka album ini kok kayaknya ada Padi ya? Mr.Q band asal Surabaya yang mengusung kebebasan pilihan hidup dalam liriknya, adalah band lawas Fadly sebelum akhirnya ia menjadi front man Padi. Keren kan?

Apa lagi yang menarik dari album ini? Suara almarhumah Nita Tilana!!! Ia menjadi backing vocal Inggit di track pamungkas ciptaan Nugie, Lagu Hidup. Semakin menarik, lantaran cover album ini dibuat dua warna! Versi pink, seperti yang saya punya, dan versi biru tua yang kalem maskulin. Seperti di sampul depannya ada gambar cowok dan cewek, begitulah dua warna ini diperuntukkan. Yang pink menyasar para pere, yang biru tua untuk para cowok. Kalau kemudian saya beli yang pink, salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?

Inilah mahakarya Aquarius yang kurang direspon pasar. Secara tahun 1999 pasar musik kita bubruk gara-gara krisis moneter. Belum lagi gaung Bahasa Kalbu, Keliru, dan Dan yang menggamit platinum terlalu sulit untuk dibantah album lain. Untunglah saya membeli kaset berpitanya sebagai dokumentasi pribadi saya. Meski teman-teman saya bilang, “Beli kaset apaan sih?!”

Music meter: 7/10

Jumat, 11 Juli 2008

Janji di Atas Ingkar, Berjanjilah...

Yovie Widianto banget ya? Tapi ini adalah cerita yang baru saja saya alami. Pagi tadi saya bangun kepagian, jam 9. Saya mandi dan pastinya keramas, terserah Anda mengartikan apa soal keramas ini. Lalu saya mencukur jenggot dan kumis yang mulai tumbuh, mengenakan minytak wangi, body lotion dan tabir surya. Rambut saya minyaki dan dibuat mohawk atau sasakan gaya Artalyta-Rakhee Punjabi menurut pemimpin redaksi saya. Setelah itu saya memakai kaus kaki baru, kaus favorit dan (yang ini nggak penting, sumpah!) celana dalam favorit. Lalu berangkat dengan semangat juang kebangkitan nasional. Mengapa saya tampak necis hari ini? Karena saya akan bertemu narasumber favorit saya habis maghrib nanti.

Menjelang maghrib, si narasumber meng-SMS saya, Wayan, ternyata flash disc-nya ada virusnya ya? Padahal sebelum saya berikan padanya, sudah diformat ulang oleh redaktur fotografer. Barulah saya sadar bahwa selama hampir dua bulan ini flash disc itu baru dibukanya. Jadi salah siapa kalau kena virus? Salah gue? Salah temen-temen gue? Dia hanya bilang, nanti saya kabari lagi. Seperti SMS-nya yang sudah-sudah. Firasat saya makin tak enak. Lalu saya dan driver menembusi macetnya Jakarta menuju kediaman beliau. Saya meng-SMS dia, kalau posisi kami sudah on the way. Ternyata jawabnya pun seperti yang sudah-sudah, wah saya stuck diluar, besok pagi saya titip di resepsionis ya. Saya terdiam. Lalu melihat ke jalanan dari balik kaca mobil. Mulut mengumpat, tapi apalah untungnya bagi saya? Dengan mengumpat pun tak akan membuat flash disc saya pulang sesegera mungkin.

Padahal tadi pagi, saya sudah merangkai banyak kata membuat biografi singkatnya untuk mengisi salah satu rubrik saya. Rontok sudah ide brilian itu. Begini rasanya dipermainkan hanya dengan kata-kata. Rumusnya sama pula. Berjanji besok habis maghrib. Lalu menjelang jam J, dibatalkan dengan sejumlah alasan via SMS. Sebagai pengobat kecewa untuk janji yang dibatalkan, dibuatlah janji baru. Untuk kemudian diingkari dengan cara yang hampir sama. Atau kalau tidak, diberikannya solusi alternatif yang masih sumir, apakah itu cukup solutif? Apakah itu nyaman bagi pihak yang teringkari? Hampir dua bulan saya seperti hamster. Terjebak pada pola perputaran yang sama. Dan ironisnya, saya tak sadar sedang naik komidi putar tanpa terpikir menyudahinya.

  1. Saya teringat dua tahun silam, ketika saya berjanji dengan teman saya yang PNS itu untuk menginap rumah teman saya yang lain, di Mojosongo Solo. Tak dinyana siangnya, saya ketemu gebetan masa SMU dulu. Dia menawarkan nonton The Da Vinci Code, lalu saya mengamininya. Alhasil, PNS murka karena saya lebih mementingkan mantan gebetan ketimbang memenuhi janji. Sebagai tebus dosa, saya mentraktir dia nonton Lentera Merah di studio4. Sementara saya asyik bersama sang gebetan di Studio 1. Apa bedanya saya dengan narasumber saya kini? Begini rasannya diingkari janji. PNS dongkol, sama seperti saya kini mencari pelampiasan kekecewaan.

  2. Menurut saya janji tetaplah utang. Pepatah jaman jebot itu tetap berlaku sekarang. Why? Karena sekarang banyak pengemplang utang yang merasa melupakan utang itu sah-sah saja. Jadi kalau anda suka mewartakan kasus kredit macet dan buron pengemplang utang sementara anda suka mengingkar janji, maka anda sebelas dua belas dengan para pengemplang itu. Saya tegaskan, janji adalah utang. Utang adalah janji. Kalau anda mengemplang janji berarti anda mengemplang utang. Kalau Anda mengemplang utang sekian rupiah sementara anda sudah janji akan membayarnya, maka jelas sudah orang macam apa Anda.

  3. Saya sudah menempati kedua posisi itu, mengingkari janji dan jadi korban ingkaran janji. Keduanya sama-sama nggak mengenakkan. Saat mengingkari janji kita seperti dikejar-kejar sesuatu. Saat jadi korban ingkaran janji rasanya ingin sekali membubuhkan serbuk racun ke dalam gelas yang akan diminum si narasumber.

  4. Kalau anda mengingkari janji tapi tak merasa bersalah saya sangat salut. Salut pada muka tebal anda. Salut pada begitu banyaknya stok malu yang anda punya. Bisa-bisanya berkali-kali ingkar janji, berkali-kali malu, akhirnya kebal malu. Ada lagi yang perlu saya saluti dari orang macam begini?

Tri Mas Getir: Sindiran Buat Para Artis Infotainment


Pemain : Tora Sudiro, Indra Birowo, Vincent Club 80's, Titi Kamal, Tino Saroengalo&Cut Mini

Skenario : Rako Prijanto&Monty Tiwa

Sutradara : Rako Prijanto

Produksi : Rapi Films

Produser : Gope T. Samtani&Subagyo S.

Durasi : 97 menit



Ciang Pek (Sudiro) Sugeng (Birowo) dan Ujang (Vincent) tiga bersahabat yang mengidolakan bintang film cantik terkenal, Katrina Katrodipuro (Kamal). Beberapa kali mereka menjajal sebagai figuran di film-film Katrina. Suatu ketika, engkong Ciang Pek meninggal. Di malam pemakamannya, gembong mafia Munar Sapawi (Saroenggalo) menagih hutang Enkong sebesar 200 juta dan mengancam akan menyita perguruan wushu engkong jika gagal melunasinya. Putus asa mencari solusi bayar hutang, Sugeng mengusulkan menculik Katrina. Ia meminjam uang lagi pada Munar untuk membeli peralatan menculik. Sialnya, mereka keliru menculik Fatima (Mini), bintang film yang tak lagi terkenal. Dengan banyak trik Ciang-Ujang-Sugeng ngotot minta uang tebusan pada produser Star Joni (Robby Tumewu).


Kombinasi Tora-Birowo kami khawatirkan membuat Tri Mas Getir menjadi Extravaganza versi layar lebar. Benar saja, setengah jam pertama arah film ini sedikit kabur. Beberapa lawakan terasa kurang nendang. Untungnya, Indra segera menemukan formatnya berkelakar. Ia tampak mengalir hingga pengujung film. Ini tak luput dari lawan mainnya, Emmy Lemu. Vincent yang setia mengenakan kaus bergambar cover album Indonesia klasik tampil polos, beberapa dialog beraksen Padang manjur merilekskan syarat penonton. Scene stealer film ini adalah si mafia utang Tino Saroenggalo yang tampil sok perlente dan nakal. Menjelang akhir film, dengan lincah ia memancing tawa penonton. Patut disayangkan, Titi Kamal yang mejeng di poster film kurang berkontribusi. Ia seolah menjadi bonus bagi mereka yang telah membeli tiket. Malah Cut Mini yang lebih terampil menjaga mood lucu.


Secara cerita, kita bisa berharap dari Monty dan Rako. Duo ini males ribet memikirkan pesan apa yang ingin disampaikan pada penonton. Mereka malah sibuk menyentil tingkah pola artis dan betapa infotainment bergembira saat publik figur mencoba ngeksis. Sentilan yang sebenarnya mampu membuat artis dan wartawan hiburan patut ngilu. Sebagai komedi, Tri Mas Getir belum beranjak dari tradisi menjadikan seks sebagai objek melawak. Adegan macam melempar CD dan BH masih saja jadi jurus andalan, kendati kurang efektif karena trik purba macam begini sudah dirintis sejak zaman Warkop DKI. Dan dilestarikan lagi sejak Quickie Express menangguk sukses. Untunglah, Rako tak berlama-lama bermain di area ini. Selanjutnya dialog dan kekuatan aktinglah yang diandalkan.


Tak banyak hal baru yang dipamerkan Tri Mas Getir selain hiburan konyol dan bahan tertawaan. Sejatinya sebuah film ingin menghibur penikmatnya, Rako pun demikian. Tapi bagi penonton yang merasa menghibur saja tidaklah cukup, barangkali akan mengernyitkan dahi saat keluar bioskop. Sisi dramatis kurang digarap maksimal, meski sengatan kritik sosial menyelip perlahan. Jadi, puas tidaknya Anda pada Tri Mas Getir bergantung pada ekspektasi Anda saat mengantre di loket bioskop. Nah, kami tanya dulu, apa ekspektasi Anda?


Narayana's Pop Corn: 2 pop corns, lumayan buat ngakak-ngakak

Liburan Seruuu...!!: Pakai Sepatu Anak-anak Yuukkk?!


Pemain : Ken Nala Amrytha, Raja Intan Permata, Arsenna Moch. Rahadi&Quinsha Jasmine Haq

Skenario : Tian Pranyoto Gafar

Sutradara : Sofyan D Surza

Produksi : Alenia Pictures

Produser : Ari Sihasale&Nia Sihasale Zulkarnaen

Durasi : 97 menit


Nala (Amrytha) dan Tama (Permata) berlibur bersama kedua sepupu mereka Reno (Arsenna) dan Inka (Jasmine) ke rumah Tante Canda (Cinthya Lamusu). Petualangan mereka dimulai sejak berangkat dari stasiun Gambir, mereka ketinggalan kereta karena keteledoran Momo (Minus C. Karoba). Petualangan mereka semakin seru setelah Nala menerima peta misterius dari Baja dan Inka diculik. Dengan kecerdasan Nala Cs, Inka berhasil dibebaskan dan berupaya melapor polisi. Namun belum sempat niat itu diwujudkan, Nala dan sahabat-sahabatnya terjebak di sarang para penculik. Di sinilah upaya Nala, Baja, Tama, Inka, Reno dan Tante Canda diuji. Peta misterius itu mengantarkan mereka pada sebuah penemuan yang tak terduga.


Rindu juga melihat ayah bunda dan si buah hati nyamil pop corn sembari duduk menghadap ke layar lebar. Sebuah fenomena langka paskasukses Petualangan Sherina. Maklum, semenjak itu nyaris semua tema film diperuntukkan remaja ABG, lajang, hingga kaum berumur. Apalagi mengharap acara sehat di layar kaca. Meski banderol acara menggunakan kata 'cilik', 'junior' dan 'anak', tetap saja lagu yang dibawakan dan kemasan acaranya sekian tahun lebih tua dari elemen pendukungnya. Alenia melirik sempitnya space untuk anak-anak dengan menggelindingkan Denias dan kini Liburan Seruuu...!! Apa senjata yang dimiliki Liburan Seruuu...!! untuk menyaingi summer movie dan film Indonesia lainnya?


Pertama, musik. Elemen ini terasa sangat kuat. Dian HP menjadi 'first lady' dengan menggubah tiga lagu baru I Love U Full, Liburan, dan Holiday. Belum lagi, beberapa lagu karya maestro lagu anak-anak A.T. Mahmud. Terus terang tanpa lagu-lagu tersebut, film ini berpotensi boring. Spirit lagu anak-anak yang riang diterjemahkan dalam gerakan yang sederhana dan lincah oleh Ari Tulang yang juga muncul sebagai cameo. Musik dan tari terasa 'nyatu' banget. Ketika tone film mulai loyo, musik Bu Dian HP menimpali dengan energi positif.


Kedua, casting. Akting anak-anak memang tak bisa dibandingkan dengan lakon senior macam Ira Wibowo dan Berliana Febrianti yang sangat keibuan di film ini. Anak-anak tampak natural, meski cara berdialog mereka di beberapa scene terkesan monoton. Tapi semua kelemahan ini segera tercover nyanyian-nyanyian mereka. Mendengar anak-anak bernyanyi membuat film bersetting Jakarta, Tawang Mangu, Kaliurang, dan Semarang ini sejuk dan teduh. Pesan yang disampaikan Liburan Seruuu...!! nggak ribet, “Yah..dimana-mana orang jahat kan selalu kalah dengan orang baik”. Simple bukan? Dan tak sulit untuk diterima oleh anak-anak. Ketiga, setting tempat. Hampir seluruh lokasi pengambilan gambar berada di alam bebas. Keindahan air terjun Gerojogan Sewu Tawang Mangu dan alam hijau Kaliurang terbingkai menawan. Rupanya film ini hendak mengajak anak-anak kembali ke alam. Tak salah mengajak buah hati ke mal, tapi jangan sampai mereka tak tahu bentuk pohon pinus, buta manfaat hutan, dan suara tetes air dalam gua.


Anggap saja melalui Liburan Seruuu...!! anak-anak mendapatkan kembali 'habitatnya'. Sebuah film yang sangat polos, spontan dan sesuai perkembangan usia mereka. Mengapa kami katakan demikian? Karena film ini tidak mengandung kekerasan, mistis, percintaan dan perilaku seksual. Scene penculikan pun di-design dengan gaya jenaka. Maksudnya, mengajak anak-anak menganalisis masalah, mencari clue dan memperlihatkan pentingnya kerjasama menghadapi persoalan. Film ini sangat anak-anak. Dialognya pun khas dan belum beranjak dari patron kanak-kanak. Anda yang telah dewasa bukan berarti kehilangan hak untuk menyaksikan karya Sofyan D Surza. Tapi Anda diminta untuk menyesuaikan diri dengan mood anak-anak. Bagi orang tua, ending film ini gampang ditebak, tapi bagi buah hati Anda bisa jadi film ini menggemaskan dan sangat dinanti akhir kisahnya. Saatnya Anda memahami dunia anak-anak. Bukankah untuk mengukur seberapa jauh anak Anda melangkah, Anda harus mengetahui dan 'mengenakan' ukuran sepatu mereka?



Narayana's Pop Corn: 2 pop corns, agak ngantuk makanya butuh camilan beneran