Jumat, 11 Juli 2008

Janji di Atas Ingkar, Berjanjilah...

Yovie Widianto banget ya? Tapi ini adalah cerita yang baru saja saya alami. Pagi tadi saya bangun kepagian, jam 9. Saya mandi dan pastinya keramas, terserah Anda mengartikan apa soal keramas ini. Lalu saya mencukur jenggot dan kumis yang mulai tumbuh, mengenakan minytak wangi, body lotion dan tabir surya. Rambut saya minyaki dan dibuat mohawk atau sasakan gaya Artalyta-Rakhee Punjabi menurut pemimpin redaksi saya. Setelah itu saya memakai kaus kaki baru, kaus favorit dan (yang ini nggak penting, sumpah!) celana dalam favorit. Lalu berangkat dengan semangat juang kebangkitan nasional. Mengapa saya tampak necis hari ini? Karena saya akan bertemu narasumber favorit saya habis maghrib nanti.

Menjelang maghrib, si narasumber meng-SMS saya, Wayan, ternyata flash disc-nya ada virusnya ya? Padahal sebelum saya berikan padanya, sudah diformat ulang oleh redaktur fotografer. Barulah saya sadar bahwa selama hampir dua bulan ini flash disc itu baru dibukanya. Jadi salah siapa kalau kena virus? Salah gue? Salah temen-temen gue? Dia hanya bilang, nanti saya kabari lagi. Seperti SMS-nya yang sudah-sudah. Firasat saya makin tak enak. Lalu saya dan driver menembusi macetnya Jakarta menuju kediaman beliau. Saya meng-SMS dia, kalau posisi kami sudah on the way. Ternyata jawabnya pun seperti yang sudah-sudah, wah saya stuck diluar, besok pagi saya titip di resepsionis ya. Saya terdiam. Lalu melihat ke jalanan dari balik kaca mobil. Mulut mengumpat, tapi apalah untungnya bagi saya? Dengan mengumpat pun tak akan membuat flash disc saya pulang sesegera mungkin.

Padahal tadi pagi, saya sudah merangkai banyak kata membuat biografi singkatnya untuk mengisi salah satu rubrik saya. Rontok sudah ide brilian itu. Begini rasanya dipermainkan hanya dengan kata-kata. Rumusnya sama pula. Berjanji besok habis maghrib. Lalu menjelang jam J, dibatalkan dengan sejumlah alasan via SMS. Sebagai pengobat kecewa untuk janji yang dibatalkan, dibuatlah janji baru. Untuk kemudian diingkari dengan cara yang hampir sama. Atau kalau tidak, diberikannya solusi alternatif yang masih sumir, apakah itu cukup solutif? Apakah itu nyaman bagi pihak yang teringkari? Hampir dua bulan saya seperti hamster. Terjebak pada pola perputaran yang sama. Dan ironisnya, saya tak sadar sedang naik komidi putar tanpa terpikir menyudahinya.

  1. Saya teringat dua tahun silam, ketika saya berjanji dengan teman saya yang PNS itu untuk menginap rumah teman saya yang lain, di Mojosongo Solo. Tak dinyana siangnya, saya ketemu gebetan masa SMU dulu. Dia menawarkan nonton The Da Vinci Code, lalu saya mengamininya. Alhasil, PNS murka karena saya lebih mementingkan mantan gebetan ketimbang memenuhi janji. Sebagai tebus dosa, saya mentraktir dia nonton Lentera Merah di studio4. Sementara saya asyik bersama sang gebetan di Studio 1. Apa bedanya saya dengan narasumber saya kini? Begini rasannya diingkari janji. PNS dongkol, sama seperti saya kini mencari pelampiasan kekecewaan.

  2. Menurut saya janji tetaplah utang. Pepatah jaman jebot itu tetap berlaku sekarang. Why? Karena sekarang banyak pengemplang utang yang merasa melupakan utang itu sah-sah saja. Jadi kalau anda suka mewartakan kasus kredit macet dan buron pengemplang utang sementara anda suka mengingkar janji, maka anda sebelas dua belas dengan para pengemplang itu. Saya tegaskan, janji adalah utang. Utang adalah janji. Kalau anda mengemplang janji berarti anda mengemplang utang. Kalau Anda mengemplang utang sekian rupiah sementara anda sudah janji akan membayarnya, maka jelas sudah orang macam apa Anda.

  3. Saya sudah menempati kedua posisi itu, mengingkari janji dan jadi korban ingkaran janji. Keduanya sama-sama nggak mengenakkan. Saat mengingkari janji kita seperti dikejar-kejar sesuatu. Saat jadi korban ingkaran janji rasanya ingin sekali membubuhkan serbuk racun ke dalam gelas yang akan diminum si narasumber.

  4. Kalau anda mengingkari janji tapi tak merasa bersalah saya sangat salut. Salut pada muka tebal anda. Salut pada begitu banyaknya stok malu yang anda punya. Bisa-bisanya berkali-kali ingkar janji, berkali-kali malu, akhirnya kebal malu. Ada lagi yang perlu saya saluti dari orang macam begini?

Tidak ada komentar: