Jumat, 27 Juni 2008

Mengapa Anjing Peliharaan Malah Lebih Galak Dari Majikannya?

Kemarin saya mewawancara seorang artes. Saya janjian dua minggu sebelumnya. Maklum artes yang satu ini baru saja mengundurkan diri dari trio vokal terkenal dan berada dibawah manajemen kondang di negeri ini. Akhirnya saya sampai di studio tempat kami nge-date. Karena si artes belum datang, saya menunggu sembari duduk-duduk dibawah, tak diberi sambutan apapun, meski sudah saya jelaskan siapa saya dan ada kepentingan apa. Lantaran artes belum juga datang, saya naik ke lantai atas, karena wawancara yang dijanjikan berada di lantai atas. Maksudnya, biar nggak usah naik turun dan si artis (yang juga langsung ke lantai atas) bisa langsung diinterview. Lebih ringkas buat saya dan waktu si artis termanfaatkan secara efektif.

Saya mengucap permisi pada dua karyawati yang sedang bergosip di lantai atas. Lalu saya duduk dengan tenang sambil melayangkan pandangan pada puluhan wajah artis yang terpampang di cover majalah dan dipigura di dinding-dinding studio. Salah satu dari dua karyawati penggosip ini menelepon seseorang. Saya tak tahu apa yang digunjingkan di telepon, sampai seorang pria berkaus loreng (entah dia satpam salah kostum, entah preman pasar tanpa identitas) melabrak saya begini:

“Mas! Bisa turun ke bawah nggak mas!”

Saya syok, dengan 'sapaan' pria ini.
“Siapa yang ngijinin mas naik ke atas! Mas tuh harusnya nunggu dibawah! Kalau saya bilang tunggu dibawah ya dibawah! Saya pikir situ masuk ke dalam mau kencing, nggak tahunya naik keatas! Saya sampai ditelepon orang atas, woi ada orang asing masuk ke atas kenapa didiemin!”

Belum sempat saya jelaskan, pria 'santun' ini berdendang lagi.

“Mas ini benar-benar nggak bisa menghormati orang bawah! Sekarang mas turun!”

Saya hanya menuruti 'petunjuk' sang pria sembari mengucap maaf, menahan tensi emosi.

Sampai dibawah, pria itu masih berceloteh sambil meninggalkan saya yang masih syok.

“Gue kirain masuk ke dalam mau ke kamar kecil nggak tahunya nyusup keatas!”

Sungguh, saya syok. Padahal dibawah saya jelaskan saya dari media ini dan sudah janjian dengan sang artis plus manajemennya. Tak sadarkah orang-orang ini bahwa salah satu majikan mereka mendapat kesempatan emas untuk saya publikasikan secara tak langsung? Tak sadarkah bahwa tamu siapa pun itu, entah wartawan atau tidak, berhak mendapat perlakuan yang layak. Tak bisakah mereka mengganti kata-kata mereka dengan begini misalnya, “Maaf mas, karena mbak XXXX dan manajernya berlum datang, silakan mas menunggu dulu di lantai bawah, karena lantai atas khusus untuk ini dan itu.”?

Yang lebih membuat saya syok, ketika sang manajer datang dan saya menyapa, mbak manajer bilang begini, “Oh mas dari tabloid ini ya, naik aja keatas mas kenapa malah dibawah?” Terpercik dalam benak saya untuk mengadukan perbuatan tak menyenangkan yang saya alami beberapa menit silam. Tapi saya sadar akan ada efek buruk yang pastinya menimpa para bawahan tadi. Begitu saya naik ke atas, dua karyawati keparat itu hanya tersenyum menunduk tanpa berucap satu kata pun. Mbak manajer bahkan menawari saya minuman botol, sembari berucap maaf karena artesnya masih di jalan tol. Selang berapa lama, si artes datang dengan senandung suaranya yang khas. Begitu melihat saya, dia langsung meminta maaf atas keterlambatannya dan kami mengobrol dengan hangatnya, bahkan bergosip ini itu dan tukeran nomor HP pribadinya.

Saya jadi teringat saat di Solo dulu, ada rumah orang kaya yang gerbang pintunya diberi warning: Awas Anjing Galak. Kenapa nggak ditulisi: Awas yang punya rumah galak? Saya jadi membandingkan dengan kejadian yang baru saja saya alami. Seandainya dua karyawati comel dan satu pria 'ramah' tadi adalah anjing galak, mengapa majikannya malah tidak lebih galak dari anjingnya? Mengapa peliharaan lebih galak dari yang memelihara? Mengapa karyawati dan si pria yang notabene bukan siapa-siapa malah lebih sadis dari tuan rumahnya? Saya membayangkan, dua karyawati anjing dan si pria anjing 'ramah' ini, belum jadi artes saja tingkahnya sangat 'santun', apa kabarnya kalau mereka jadi artes kaya dan dikenal publik ya?

Rabu, 25 Juni 2008

Tiren (Mati Kemaren): Suzzanna Era Milenia!


Pemain : Dewi Perssik, Aldi Taher, Renee The, Baron Hermanto, Deriell Jacqueline, dan Kiwil

Skenario : Nestor Katanya

Sutradara : Emill G. Hamp

Produksi : Maxima Pictures

Produser : Ody Mulya Hidayat

Durasi : 90 menit


Alangkah syoknya Ranti (Dewi Perssik), mendapati Leo (Renee The) pacarnya asyik 'bermain-main' diranjang dengan Maya (Deriell Jacqueline). Tak mau mendengar penjelasan Leo, Ranti lari menuruni tangga dan terpeleset. Pendarahan di wajah dan mulut tak ayal membuat Ranti meregang nyawa. Tak terima dengan perlakuan yang dialami anaknya, Herman (Baron Hermanto) sengaja tak melepas tali pocong jasad Ranti. Niatnya, agar Ranti menuntut balas pada mereka yang telah menyakitinya. Selanjutnya, ada bisa menebak pembalasan macam apa yang dilakukan arwah penasaran Jeung Ranti.


Pocong sudah menjadi 'jodoh' si goyang gergaji. Setelah Tali Pocong Perawan merebut perhatian satu juta penonton lebih. Dewi masih belum bergerak dari keseksian dan suara seraknya yang ah... begitulah. Adegan pembuka dengan gaun terusan mini lagi ketat, dibalut kerudung mengingatkan kita pada hantu sexy Si Manis Jembatan Ancol ala Kiky Fatmala dan Diah Permata Sari. Di beberapa adegan, Tiren terasa sangat Suzzanna! Kalau di era Suzzanna ada tokoh Bokir, Dorman, dan S.Bono yang selalu setia mendampingi si ratu horror dalam Petualangan Cinta Nyi Blorong dan lain-lain. Di Tiren generasi Bokir diteruskan Kiwil, Yadhi Sembako dan Budhi. Mereka jadi bulan-bulanan setan yang tak pernah gagal mengundang tawa penonton. Belum lagi adegan perempuan (dengan kaki tak menginjak tanah) membeli sate, “Beli satenya bang...”. Anda ingat adegan Sundel Bolong Suzzanna naik becak? Adegan seram versi 80-an itu dikemas ulang dengan tensi yang bisa Anda rasakan sendiri.


Dari segi akting, berani adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan adegan Dewi Perssik Cs. Maklum, dari segi kekuatan akting, empat karakter utama film ini tak terlalu kuat namun mampu mencuri perhatian penonton lewat keberaniannya. Apalagi ada amunisi tambahan, Sarah Azhari. Tak bisa dibantah lagi kan? Patut diberi kredit tersendiri, beberapa scene 'hangat' yang mengundang sorak-sorai penonton. Cukup banyak scene hangat dan tak sedikit scene itu berujung pada kengerian. Sutradara Emil G. Hamp tampak terampil 'memainkan' empat pemain itu dalam scene-scene 'hangat'. Sekadar catatan, Hamp memiliki riwayat menyutradari sejumlah 'esek-esek' pada dekade 90-an, menjelang mati surinya film Indonesia. Dialah yang mengarahkan sejumlah ikon bom seks Ibra Azhari, Reynaldi, Febby L. Lawrence, dan Windy Chindyana dalam Hukuman Zinah, Lampiasan Nafsu, dan Selingkuh (yuuukkk...).


Pemunculan hantu dalam Tiren sama seperti film-film lain. Klasik dan tak lagi istimewa. Belum juga bergerak dari kamar tidur dan area kamar mandi. Konon, dua tempat tersebut memang lembab dan jadi tempat favorit para lelembut. Kalau toh anda 'terpaksa' kaget, itu karena dentuman aransemen scoring Andi Rianto yang kelewat 'keras'. Cerita yang dibangun Nestor Katanya memang banyak yang melompat-lompat, logika jadi agak terabaikan. Kalau dari genre-nya saja (horror) sudah tanpa logika, skenario karya Nestor pun terasa sah-sah saja. Yang patut disayangkan, adegan di dalam poster kok nggak muncul di sepanjang durasi ya? Juga ending film yang terkesan bertele-tele, seolah ingin menggenapkan durasi menjadi 90 menit pas. Lucu dan menyegarkan sih, tapi kurang efektif untuk memperkuat citarasa horor.


Secara keseluruhan, Tiren seru dan sangat menghibur. Meski agak bingung juga merunut pesan apa yang Anda dapat sekeluar dari bioskop. Kalau Dewi Perssik mengkhususkan diri dalam genre pop corn renyah macam Tiren, bisa jadi dia akan menjadi the next Suzzana. Yang harus diingat, legenda horror sekelas Suzzana pun bisa bermain serius dan masuk nominasi Piala Citra dalam Pulau Cinta. Inilah PR bagi janda Saipul Jamil untuk terus mengasah kemampuan beraktingnya, agar tak melulu dipandang sebelah mata. Sanggupkah dirimu Dewi?



Narayana's Pop Corn: 2 pop corns, mau 3? Bilang sama penjualnya gini: Bang, beli pop cornnya bang...(Ala sundel bolong Suzzanna) hi...


Kamis, 19 Juni 2008

Dia kan 'yuuukkkk' juga...

Saya mendapat tugas mewawancara artes sinetron yang albumnya diganjar platinum. Yang film-filmnya tak bisa dibilang gagal secara angka penonton. Bungah sekali perasaan saya. Termasuk saat bertatap muka dengan sang artes yang selama ini hanya saya lihat di TV dan bioskop. Sebagai 'bonus', saya juga bertemu dengan sedap-sedapan mata yang lumayan banyak. Salah satunya, ada yang penampilannya tak jelek. Body lumayan cakep, pokoknya termasuk tipe saya. Anda tentu tahu tipe-tipe saya sangat berkelas! Si sedap-sedapan mata ini salah satu kru dari mbak artes sekaligus penyanye ini. Saya mulai belingsatan dan menyentil temen rekan kerja saya.

Jeung yang kaus merah lucyuuuu juga ya,” kilah saya.

“Yang mana sih?” tanya balik teman saya.

“Yang itu tuh...tu, baru saja keluar dari pintu, secara body oke lho bo'!”

“Oh, itu kan si !@#$%^*, dia ininya mbak artes sekaligus penyanyi kita,”

“Duh lucyuuuu deh, biar kata gak perfect body tapi teteup oks lho,”

“Ih...dia kan yuuuukkk juga!”

Nah, itu dia yang bikin saya senang tapi dahi mengernyit. Statement terakhir jeung rekan kerja! “Dia kan 'yuuukkkk' juga”. Maksudnya? Saya jadi teringat dengan salah satu acara gosip yang kini sudah tutup episode. Anchor-nya Jeung Peggy dan 'Jeung' Tata Dado. Jargon acaranya begini, “Ngegos Yuuukkk? Yuuukk ya, yuuukkk”. Apa maksudnya 'Yuuukkkk'?

Kalau 'Yuuukkkk' diartikan pernyataan setuju pada sebuah ajakan? Tidak keliru. Misalnya: ML yuk? Lalu saya menjawab ajakan tersebut: Yuuukkkk.....!

Tapi saya kok memaknai kata 'Yuuukkkk juga' yang meluncur dari mulut Jeung rekan kerja berkonteks negatif ya. Saya hanya mengatakan dia lucyuuu. Tapi teman saya menterjemahkan 'lucyuuu' versi saya sebagai pertanda naksir, berhasrat, dan bernafsu pada si sedap-sedapan mata. Kalaunaksir sih nggak. Berhasrat? Nyaris sih. Bernafsu? Iya banget! Sementara kata 'juga' dibelakang 'yuuukkkk' menandakan si sedap-sedapan mata sama dengan yang menaksir dalam hal ini saya. Bukan sama naksirnya tapi maksudnya lebih kepada sejenis dengan saya.

Saya bertanya lagi. Sejenis saya? Artinya saya juga termasuk kategori 'yuuukkkk' bikinan teman saya dong! Lalu kategori 'yuuukkkk' itu kategori yang bagaimana? Saya ini sejenis apa? Apakah Anda 'yuuukkkk' juga (sama seperti saya)?


Selasa, 17 Juni 2008

Dunia Milik Berdua

Saya tergelak saat teman saya memamerkan cara dia memanaje waktu. Ia mengaku tak pernah pacaran pada malam minggu dan hari Minggu. Saya hampir salut, sampai akhirnya dia bilang pacaran dia 'hanyalah' Senin sampai Jumat. Lumayan basi sih bercanda macam begini. Tapi semakin basi saat saya melihat sekretariat kampus saya dulu dipakai oleh segelintir mahasiswa untuk 'merenda kasih' dengan lawan jenisnya. Itu baru yang siang hari. Itu baru yang kelihatan. Itu baru yang lawan jenis, dan sejumlah catatan lain yang terlalu panjang kalau harus saya tulis.

Beberapa hari yang lalu saya melihat gaya pacaran yang membuat saya ingin muntah. Bukan karena saya iri lantaran sampai sekarang saya tak kunjung laku. Padahal harga diri saya sudah di diskon 50% plus ini dan itu. Sewaktu saya pulang kantor melewati trotoar, saya melihat seorang gadis duduk diatas pot tanaman yang berderet rapi menghiasi trotoar. Area pejalan kaki yang sumpek kalau dilewati dua orang berjajar itu semakin sumpek lantaran dihadapan si gadis (masih gadis nggak ya?) ada seorang jejaka (masih perjaka nggak ya?). Si pemuda berlutut dihadapan sang gadis sambil meletakkan tanggannya di paha pujaan hati, layaknya adegan dua sejoli saling rayu di film India. Gaya dan posisi mereka menghalangi saya yang hendak berjalan menuju pangkalan angkot.

Anehnya, mereka tak peduli pada saya (dan saya-saya yang lain, yang hendak melewati trotoar yang lebarnya tak lebih dari satu meter itu. Dengan dongkol, saya melintasi tanpa permisi. Saya heran. Tak adakah tempat lain untuk memadu kasih selain daripada trotoar? Belum lagi kalau ada pengendara motor yang ogah terjebak macet. Trotoar menjadi juruselamat untuk membebaskan mereka dari antrean panjang. Lalu apa kabarnyapara pejalan kaki? Mereka mungkin berpikir salah sendiri nggak punya motor. Salah sendiri nggak naik taksi. Salah sendiri nggak naik mobil. Bukan tidak mungkin para pejalan kaki sebenarnya punya alat transportasi, hanya saja mereka ingin mengurangi tingkat polusi Jakarta yang makin mencekik. Kalau saya, emang bener-bener nggak punya motor, apalagi mobil!

Saya ingin menyarankan pada dua sejoli yang hobi menjadikan trotoar sebagai taman cinta. Ada beberapa alternatif tempat kencan hemat tanpa harus menyunat hak parapejalan kaki:

  1. Kebun. Bagi orang-orang yang nekat, kebun bisa disulap jadi taman cinta. Apalagi kalau kebun itu terkenal angker sehingga tak ada yang sudi merambahinya. Kebun itu bisa jadi kamar darurat bagi anda yang sudah 'kebelet' banggetsss.

  2. Kios-kios kosong. Pagi hingga sore pemilik kios meraup untung. Malam hari, saat pemilik 'lengah', giliran anda yang meraup untung. Tanpa bermaksud menakut-nakuti, hati-hati pada razia pak polisi di kios-kios kosong. Jangan sampai niat anda mencari 'manfaat' menjadi mudarat gara-gara aparat. Ujung-ujungnya anda hanya bisa bilang: keparat!

  3. Kampus. Nah, buat anda yang mengaku kaum intelek jangan sok naif deh. Jangan hanya menghujat para ayam kampus kalau ternyata anda suka makan dagingnya. Kamar mandi kampus? Ruang kuliah?atau laboratorium? Tapi anda harus menutup telinga, apalagi kalau ada cerita-ceriti mistis seputar lahan kampus. Oh No!

  4. Tepi sungai. Agak maksa sih, tapi kalau menonton film Telaga Angker-nya Jeung Suzzanna anda akan tahu 'seni berpetualang out door'. Tapi jangan tanya kenapa kalau anda terkena azab sama seperti dalam film tersebut, mati gancet. Amit-amit 'kan?

  5. Kamar kos. Oh yessss! Ada segelintir orang berpikir, percuma dong bayar kos mahal tapi tak 'dimanfaatkan' secara optimal? Apa gunanya komputer, TV, dan tape? Mereka bisa mengaburkan desahan dan lenguhan dengan mengeluarkan alunan nada yang menghentak. Bukan begitu? Kalau anda bukan anak kos dan sedang mengencangkan ikat pinggang, anda bisa pinjam kamar kos teman dengan sejumlah 'kompensasi' pastinya.

  6. Pematang sawah. Nah, ini alternatif lain bagi anda yang gemar berpetualang out door. Hantu telaga sudah ada, hantu kebun tebu juga sudah diangkat dalam film Dukun A.S-nya WawanWanisar. Tapi hantu pematang sawah mungkin belum. Mau jadi pemerannya? Atau korbannya?

  7. Tempat piknik, kebun binatang misalnya? Kuburan? Atau ada ide lain yang lebih segar?

Minggu, 15 Juni 2008

Vodka!

Baru saja saya menyetrika baju. Lalu ada sms dari teman saya di Solo. Saya tak akan menyebut jenis kelaminnya apa. Di jaman serba susah dan serba gila ini, laki-laki yang manly pun belum tentu hanya doyan pada perempuan. Begitu pula sebaliknya. Dia bercerita tentang kejadian tak mengenakkan sehabis karaoke. Benar-benar karaoke di salah satu klub karoke berkelas, karena buka cabang di beberapa kota, jadi bukan ‘karaoke’. Saat bayar bon, alangkah syoknya teman saya karena di dalam kertas nota tertera pemesanan vodka. Padahal dia dan teman-temannya yang konon bebas alcohol itu, tak pernah pesan vodka. Alasan yang disampaikan para pelayan karoke simple. Mereka sepertinya melihat salah satu dari geng teman saya mengambil vodka. Dari ‘sepertinya melihat’ itu mereka menyimpulkan telah terjadi pemesanan vodka. Padahal teman saya tidak ambil satu botol pun. Mereka bahkan tak tahu bau vodka itu seperti apa. Untung tak jadi ribut, dan teman saya masih bisa menahan emosi. Adilkah ini untuk teman saya? Divonis untuk sesuatu yang masih ‘sepertinya melihat’?

Saya jadi ingat kejadian yang baru saja saya alami dan tulis di sini. Saya dituduh brondong saya kongkalingkong sama some body else demi mengorek informasi soal si brondong. Alasannya pun simple, dia menyimpulkan beberapa indikasi yang masih sumir. Adilkah ini untuk saya? Divonis untuk sesuatu yang masih ‘indikasi’? Sama halnya sewaktu beberapa bulan silam, dua teman saya si X dan si Y bertandang kerumah. Si X memperkenalkan pacarnya pada saya. Lalu saya memandangi pacar teman saya dengan detail dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan rambut lain yang bisa saya lihat pun tak luput dari perhatian saya. Lalu diam-diam si Y mengatakan pada si X bahwa saya mengincar pacarnya. Adilkah ini untuk saya? Divonis hanya gara-gara melihat dengan seksama sesuatu yang belum pernah saya lihat? Jadi bagaimana caranya agar kita bisa menjatuhkan vonis yang valid dan tepat sasaran?
  1. Biasanya kita menghakimi orang karena kita melihat gejala. Perhatikan dengan seksama dulu gejala itu dan berapa banyak gejala yang ada. Kalau cuma satu, itu tak cukup. Apalagi baru gejala, artinya hanya tanda-tanda, perlu bukti yang lebih kuat, misalnya anda melihat sendiri.
  2. Berapa orang yang melihat gejala yang anda lihat. Kalau cuma anda, itu tak cukup. Kalau ada orang lain, satu, dua atau tiga? Dan pastikan orang lain yang itu buta atau bisa melihat beneran. Kalau ternyata bisa melihat dengan jelas, pastikan juga apakah persepsi orang lain itu sama dengan persepsi anda? Kalau beda, itu juga tak cukup kuat untuk menghakimi orang.
  3. Kalau gejala banyak, saksi banyak dan persepsi sama, jangan buru-buru menghakimi. Seandainya karaoke tempat anda bekerja punya sistem delivery, pelanggan tentu tak sampai divonis mengemplang vodka. Setahu saya, masing-masing ruang karaoke punya telepon internal. Jadi kalau tamu yang sedang bernyanyi mau pesansesuatu tinggal telpon, dan pesanan diantar petugas dengan senyum. Dan kejadian seperti salah bon tak perlu terjadi.
  4. Dalam kasus saya, tuduhan kongkalingkong dan merebut pacar orang tak perlu terjadi jika semua dikomunikasikan dengan baik. Tak ada salah paham. Tak ada prasangka buruk pada teman sendiri. Lebih baik ribut didepan daripada kisruh dan membekaskan dendam dibelakang.

Sabtu, 14 Juni 2008

Sumpah Pocong Di Sekolah: Sumpah, Nothing Special!


Pemain : Marcel Darwin, Fandy Christian, Hardi Fadhillah, Joshua Pandelaki, dan Alex Komang

Skenario : Abe Ac, dan Awi

Sutradara : Awi

Produksi : Maxima Pictures

Produser : Ody Mulya Hidayat

Durasi : 90 Menit


Gara-gara kepergok mengundang penari telanjang di asrama sekolah, Ramon (Marcell Darwin), Evan (Hardi Fadhillah), dan Dimas (Fandy Christian) terancam dikeluarkan dari sekolah. Tiga anak badung ini menolak tuduhan dan berani disumpah pocong demi membuktikan mereka tak bersalah. Sejak itu, teror dari alam lain menghantui mereka dan menyeret ayah Ramon, Pak Heru (Alex Komang).


Dibutuhkan ide original dan masuk akal, agar tema horor dapat diterima penonton. Celakanya, film ini sama sekali tak menawarkan hal baru. Tema hantu di lingkungan akademisi sudah sering diangkat di layar lebar. Hantu Bangku Kosong, Ada Hantu di Sekolah, Mirror sampai 'lawakan' Gotcha. Rumusnya pun sama, sekelompok siswa merencanakan hal konyol (kalau tak mau dibilang bodoh), terjebak masalah gaib, jatuh korban, dan belakangan ada flash back asal muasal hantu itu ternyata... (anda bisa mengisi titik-titik ini dengan tebakan Anda sendiri). Yang membuat film ini beda, kenekatannya mencomot beberapa ide dari horor Jepang! Jangan kaget, kalau ada adegan setan perempuan berambut panjang keluar dari layar TV, atau saat naik lift ada setan mengintai di kaca-kaca lift, dan adegan keramas di kamar mandi. Atau adegan saat tiga anak badung itu bertemu ibu Sonya, dan menunjukkan ruang yang dicari Bu Guru. Tiga telunjuk menunjuk arah yang berbeda, mengingatkan kita pada adegan mencari gunung payudara dalam film Maskot. Belum lagi kontinuitas gambar adegan yang agak kacau. Entah, cerita ini hanya fiktif belaka, dan kalau ada kesamaan adegan dan nama tokoh hanya kebetulan belaka (kebetulan yang berulang-ulang!)


Berakting dalam film horor bukan hal gampang, ini yang perlu dicatat para bintang muda. Asal kaget, asal teriak bukan satu-satunya jalan mengekspresikan rasa takut. Bahkan, Marcell Darwin pun tak bisa menterjemahkan rasa takut tadi dalam teriakan dan tangis ngeri. Begitu juga barisan aktor pendukung Arief-Rahman-Saleh yang memporakporandakan grand design horror menjadi komedi tak masuk akal saat bertemu hantu. Mimpi liar Ramon dengan guru Bahasa Indonesia cantik juga bukan adegan yang penting, karena diujung film tidak ada hubungan afeksi yang kuat antara ramon dan Bu Sonya. Kalau sudah begini, kita hanya bisa berharap dari Alex Komang dan Henidar Amroe. Porsi mereka yang tak banyak, otomatis tak berfungsi banyak menghidupi jalan cerita. Adegan flash back yang diperani pelakon senior cukup menjanjikan.


Gangguan lain datang dari elemen teknis, editor dan sound pantas bertanggung jawab atas terjadinya pengulangan dialog Marcell Darwin di awal film. Andi Rianto juga agak ber-lebay dalam menggarap score. Adegan yang nggak sebenarnya tidak menyeramkan, dipaksakan terlihat seram dengan dentuman musik Andi. Kesan suram berlebihan juga terlihat dari darah yang tumpah ruah bagai saus fast food bernampan lantai. Sementara pemunculan hantu sendiri datang dari arah yang bisa ditebak dengan tepat oleh penonton sebelumnya. Ah, sudahlah! Tak perlu berpanjang kata, biarkan kecerdasan penonton yang menentukan berapa hari film ini bertahan di bioskop-bioskop kita. Catatan untuk para sineas lain yang ingin menjajal peruntungannya di lahan gaib, please...be original!



Narayana's Pop Corn: 1 pop corn saja! Air putih bawa dari rumah, secara beli juga pakai uang...


Tikaman!

Beberapa hari yang lalu saya mendapat semprotan keras dari seorang rekan kerja. Perihal gaya mengetik saya yang lamban. Saya tak terima! Maklum, saya mengettik di program komputer yang sama sekali baru dan belum pernah saya pelajari sebelumnya. Bukan Ms.Word, atau OpenOffice yang kini jadi primadona di kantor. Tapi di InDesign Cs, “Ngetik lu lambat banget, lama!” semprot teman saya. Hari itu hari deadline. Dengan wajah tertekan, saya menjawab pelan, “Ya, maaf...” Disusul serentetatan kejadian tak mengenakkan, dan saya malas menceritakannya pada Anda.

Sehari kemudian, saya ke toilet kantor. Saya tak perlu menjelaskan pada Anda apa yang saya lakukan di toilet cowok bukan? Secara saya juga cowok, yang jelas saya tidak melakukan oral atau hubungan terlarang. Rekan kerja yang kemarin mengkritik tanpa saya minta itu berada di situ. Dia sedang gosok gigi. Kran wastafel di toilet kantor kami menyala dengan sistem ditekan. Jika kita berhenti menekan, air pun berhenti mengucur. Saya yang masih dongkol mencoba mengawali perbincangan.

“Mau nginep kantor mas?”

“Iya,” jawabnya sembari berkumur.

“Tolong dong, tekanin krannya,” pintanya lagi.

Saya membantunya. Sebuah bantuan yang amat sangat kecil dan mudah dilupakan. Dan setelah itu, saya pikir saya tidak sedang membantu. Hanya melakukan yang saya bisa. Tak lebih.

Malam harinya, saya mendapat kabar tentang beberapa orang yang menggunjingkan saya dibelakang saya. Para penggunjing itu, selama ini ramah dan murah senyum pada saya. Mereka menggunjing kebiasaan saya yang nggak bisa melihat cowok manis, atau apapun itu. Kedekatan saya pada sejumlah cowok, dan gaya saya yang sering berlebay pada cowok. Mereka yang didepan saya tampak permisif pada sikap welcome saya pada sesama jenis, ternyata menggunjing dibelakang saya. Hati saya kolaps, lantaran ditikam dari belakang. Kenapa nggak berani ngomong langsung di depan saya? Mengapa mereka yang sering mengomentari saya ini bencong, malah berlaku seperti bencong?

Saya baru sadar. Rekan kerja yang mengkritik ketikan saya lambat, jauh lebih baik daripada mereka yang menggunjing saya dibelakang. Menyuarakan pemikiran dengan lantang, jauh lebih baik daripada memasang wajah yang tak sesuai dengan kata hatinya. Bertopeng? ya. Munafik? Bisa dibilang begitu. Atau bahasa lain yang lebih tepat menurut saya: menikam dari belakang! Lalu saya mulai mencoba mendefinisikan beberapa hal:

  1. Gentle atau jantan. Saya mengartikannya sebagai sikap ksatria. Apa itu ksatria? Berani bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. Misalnya, berani berbuat keliru, berani meminta maaf. Berani bersuara, berani bertanggung jawab atas apa yang telah disuarakan. Apa yang dirasakan, itulah yang diucapkan. Kalau di depan orang, kita berucap: ya! Lalu dibelakang orang itu kita berucap: nggak juga goblok! Artinya kita nggak jantan, menyuarakan satu hal saja tidak berani. Menyeragamkan hati dan mulut saja tak becus.

  2. Jujur juga identik dengan sikap ksatria. Sekali lagi menyuarakan apa yang ada dalam hati. Kalau lain dibibir, lain dihati? Berarti kita menipu diri sendiri. Sesuatu yang sangat tragis, lebih tragis dari koruptor. Menipu kok diri sendiri. Diri sendiri kok di tipu. Kalau jujur pada diri sendiri saja tak bisa, gimana mau jujur pada orang lain?

  3. Kalau bersikap jantan pada diri sendiri saja tak bisa, bagaimana mau menjantani orang lain? Entah itu menjantani lawan jenis atau sesama jenis, itu terserah Anda. Itu urusan Anda. Jangan bisanya cuma menjantani diri sendiri alias onani. Kalau cuma itu, saya juga bisa!

  4. Seringkali kita menghina bencong alias waria. Tapi sadarkah kita bahwa mereka lebih jantan? Mereka berani mengungkap jati diri dan identitas di depan khalayak. Berani mengekpresikan apa yang mereka rasakan. Dengan jujur, apa adanya. Bagaimana dengan mereka yang suka bergunjing di belakang orang lain? Mereka kalah dari waria. Mengungkapkan isi hati di depan satu orang saja impotent. Bagaimana mengungkapkan isi hati di depan orang banyak? Maka sebelum menista waria, cobalah belajar satu sisi positif dari mereka. Menyuarakan apa yang Anda rasakan pada orang lain. Atau kalau masih belum berani juga, masih demen bergunjing juga, silakan anda yang mengaku pria tulen bergunjing sembari memakai gincu!

Jumat, 13 Juni 2008

Fiksi: Bagaimana Mengakhiri Sebuah Kisah?


Pemain : Ladya Cheryl, Donny Alamsyah, Kinaryosih, Rina Hassim, Soultan Saladin, dan Inong

Skenario : Joko Anwar dan Mouly Surya

Sutradara : Mouly Surya

Produser : Parama Wirasmo, Tia Hasibuan, Sapto Soetarjo

Produksi : Cinesurya Production

Durasi : 90 menit


Alisa (Cheryl), gadis pendiam yang tak pernah dekat pada ayahnya terobsesi pada seorang penulis, Bari (Alamsyah). Ia membuntuti Bari hingga menyewa rumah susun disamping rumah Bari. Cinta Alisa membuatnya kalap. Ia membantu Bari mengakhiri cerita-cerita fiksinya yang tak pernah selesai dengan cara mengejutkan! Setelah berhasil membantu Bari menemukan akhir fiksi-fiksinya, kini giliran Alisa mengakhiri kisah cintanya pada Bari dengan cara yang harus Anda saksikan sendiri.


Semua anggota geng cewek Ada Apa Dengan Cinta? Plus Rangga kini sudah jadi 'orang'. Termasuk Ladya Cheryl yang berwajah sendu disulap menjadi perempuan kalem dengan tabiat yang jauh dari kata kalem. Aktingnya yang sangat depresi begitu memikat. Cheryl berhasil menjadi pusat perhatian sepanjang durasi bergulir. Wajah dan otak Alisa yang berlawanan arah bertemu di gesture Cheryl. Kisah kelam yang dibangun Joko Anwar, berhasil menggairahkan akting para pemain. Lihat bagaimana Donny Alamsyah tampak total, tak kalah dengan penampilan perdananya di 9 Naga. Kinaryosih? Porsinya sebagai supporting actress nyata prima!


Siapkan stamina dan konsentrasi saat 'membaca' adegan demi adegan. Cenderung melelahkan memang, karena Joko bercerita perlahan tapi pasti. Cerita kelam ini makin pekat dengan warna gambar yang tak pernah cerah. Mouly Surya membiarkan penonton ikut 'gila' bersama Alisa. Emosinya begitu negatif. Mengingatkan kita pada kekelaman Million Dollar Baby. Nyaris tanpa harapan. Fiksi mengajak kita berpikir tentang kehidupan yang ternyata sangat dekat dengan kematian. Cinta begitu dekat dengan kegilaan. Semakin kelam Fiksi, dengan musik minimalis Zeke Khaseli yang berulang-ulang dan cenderung monoton. Ini justru jadi kekuatan Fiksi, sangat mewakili kondisi psikologis Alisa. Sangat depresi dan tragis. Terlalu kelam? Biarlah! Inilah bentuk totalitas yang langka di industri film kita.


Sangat riskan, merilis film berat macam Fiksi di tengah hingar bingar summer movie dan liburan movie. Bahwa film harus menghibur? ya! Kami setuju. Tapi jangan lupa, menghibur saja tidak cukup. Harus ada hal baru yang ditawarkan sebuah karya seni. Bagi Anda yang mendamba kesegaran ide ditengah monotonnya tema film Indonesia, Fiksi salah satu jawabannya. Kapan lagi Indonesia punya drama thriller dengan tingkat ketegangan perlahan lalu menukik? Fiksi mempertegas garis regenerasi penulis dan pemain ulung di Indonesia. Masih berkutat pada nama Joko Anwar dan generasi AADC. Jika konsisten menjaga kualitas film yang dihasilkan, Mouly Surya bisa jadi salah satu sutradara muda (wanita) yang kelak patut diperhitungkan. Kita lihat saja kiprah Fiksi di Pusan International Film Festival. Semoga membawa harum nama Indonesia.



Narayana's Pop Corn: 3 dunkz, tambah softdrink oke juga...

Lari

Kamis malam saya keluar kantor dalam kondisi lemas.
Bukan karena habis mengoral teman sekantor, tapi saya
capek pikiran. Saya yang dikenal nggak punya otak pun
bisa capek pikiran. Hebat ya? Malam itu saya berpikir
tentang teman sekantor saya yang menganggap
rekan-rekan kerjanya sebagai kompetitor. Saking
kompetitifnya, sampai dia nggak mau kalah dan
mendekati seniornya (atau menjilat?) demi mendapat
link-link jajaran selebritas. Kalau apa yang
diincarnya tak didapat ia curhat termehek-mehek pada
saya (yang juga dianggap rival ini). Kalau masalah itu
yang menimpa saya, it's ok! Memang beginilah yang
namanya kerja.
Tapi kondisi ini diperparah dengan masalah yang
menurut saya konyol! Sehari sebelumnya, dipagi buta
(pagi buta versi saya jam 08.15 WIB-Waktu Indonesia
bagian Banci-). Saya dituduh brondong berkongkalikong
dengan seseorang, dan itu menyakiti hatinya. Dia
memutus pertemanan kami. OMG, tak adakah masalah yang
lebih layak daripada sekadar brondong dengan
tuduhannya yang gak masuk akal? Ini bagi saya gak
penting lagi konyol! Ironisnya, ritme kerja saya jadi
agak ngelantur gara-gara dua persoalan beda kasta ini.
Saat translate gosip Hollywood saya melupakan esensi
dasar dan mendapat koreksi terparah dalam karir 3
bulan saya bekerja.
Hujan deras. Para malaikat 'bermain-main' blitz di
langit sana. Sesaat kemudian langit 'bersendawa'
dengan kerasnya. Jam 22.45. Saya naik taksi. Ndilalah,
seharian ini orang rumah tidak menelepon atau SMS.
Saya duduk di jok belakang. Ingin menangis, tapi malu.
Apa kata pak sopir, kalau ternyata penumpang yang
sepintas pria itu termehek-mehek. Sejatinya, hubungan
saya dengan brondong inipun masih abu-abu, tapi
mengapa ia harus marah? Mengapa saya jadi gundah bila
dia marah.
Hujan berlanjut, intensitasnya tanggung. Saya berada
pada titik paling sentimentil. Saya.ingin curhat pada
teman di tv1 atau PNS BPN, takut merepotkan secara
malam sudah larut. Ingin memutar MP3, koleksi lagu
saya berdarah-darah semua. Tampak dari balik kaca
jalanan melengang. Di jalanan yang saya lihat dengan
keempat mata saya, Tuhan seolah memutar pita seluloid
dosa-dosa termanis yang pernah saya buat. Dengan si
brondong, si arab, pak dosen UGM, si ini dan si itu.
Di bioskop Tuhan XXI itu, saya melihat diri Wayan
berperan sebagai lonte. Saya membuang muka. Lagi-lagi
saya berpikir Tuhan masih enggan membiarkan saya
tenang. Saya sadar, kepergian saya ke ibu kota hanya
untuk menghindari mereka yang wajahnya saya lihat di
'pita seluloid' tadi. Saya rasanya ingin mati di kamar
kos saja. Jakarta ternyata tak cukup menjadi tempat
pelarian saya. Lalu saya harus lari kemana?
1.Untuk mengusir sedih, beberapa hari ini saya lari ke
duania 3G. Di sana saya melihat kenalan saya coli.
Puas? ya. Saya puas. Tapi setelah mani itu tumpah,
perasaan sedih saya tak tumpah sama sekali. Mengendap
sampai pagi tiba. Tuhan tak ada di situ.
2.Keesokkannya, saya lari ke situs-situs biru, meski
warnanya tak sepenuhnya biru. Cokelat malah, dengan
bulu di sana-sini. Saya larut. Tapi apakah masalah ini
larut bersama situs-situs itu? Tak! bahkan sampai
pagi, dan pulsa hampir nol, kekonyolan itu tak pernah
tiba di titik nol.
3.Saya kangen dengan keluarga. Entah mereka sedang
apa. Lalu HP berdering. Seseorang yang entah namanya
siapa mengaku kenal saya dari chatting. Saya
menceritakan masalah konyol itu. Lalu dia bilang: Sini
aku peluk. Cukupkah itu? Setelah satu jam kami ngoceh,
masalah saya tak pernah jatuh dalam pelukannya.
4.Akhirnya saya berada di titik bingung. Antara
kesepian dan tak ingin ditinggalkan. Jakarta yang saya
harapkan bisa menjadi tempat pelarian ternyata masih
terlalu sempit. Karena teror itu masih membutunti saya
dari Nusukan ke Mega Kuningan. Akhirnya saya berpikir,
sudah saatnya berhenti melarikan diri. Dan
menghadapinya dengan segenap hati. Beranikah saya yang
kata mamanya Sofi bermental tempe ini?
“Lurus pak, sebelum apartemen Casablanca belok kiri,”
perintah saya mencoba menepis perasaan tadi.
Telepon berbunyi. Gerimis masih menitik. Dari ujung
sana, Wida teman saya bertanya, “Hey Jeung, udah
nyampai kos? Jij naik apa? Ik masih di bis neh...”
Thank God, i'm never alone.