
Pemain : Marcel Darwin, Fandy Christian, Hardi Fadhillah, Joshua Pandelaki, dan Alex Komang
Skenario : Abe Ac, dan Awi
Sutradara : Awi
Produksi : Maxima Pictures
Produser : Ody Mulya Hidayat
Durasi : 90 Menit
Gara-gara kepergok mengundang penari telanjang di asrama sekolah, Ramon (Marcell Darwin), Evan (Hardi Fadhillah), dan Dimas (Fandy Christian) terancam dikeluarkan dari sekolah. Tiga anak badung ini menolak tuduhan dan berani disumpah pocong demi membuktikan mereka tak bersalah. Sejak itu, teror dari alam lain menghantui mereka dan menyeret ayah Ramon, Pak Heru (Alex Komang).
Dibutuhkan ide original dan masuk akal, agar tema horor dapat diterima penonton. Celakanya, film ini sama sekali tak menawarkan hal baru. Tema hantu di lingkungan akademisi sudah sering diangkat di layar lebar. Hantu Bangku Kosong, Ada Hantu di Sekolah, Mirror sampai 'lawakan' Gotcha. Rumusnya pun sama, sekelompok siswa merencanakan hal konyol (kalau tak mau dibilang bodoh), terjebak masalah gaib, jatuh korban, dan belakangan ada flash back asal muasal hantu itu ternyata... (anda bisa mengisi titik-titik ini dengan tebakan Anda sendiri). Yang membuat film ini beda, kenekatannya mencomot beberapa ide dari horor Jepang! Jangan kaget, kalau ada adegan setan perempuan berambut panjang keluar dari layar TV, atau saat naik lift ada setan mengintai di kaca-kaca lift, dan adegan keramas di kamar mandi. Atau adegan saat tiga anak badung itu bertemu ibu Sonya, dan menunjukkan ruang yang dicari Bu Guru. Tiga telunjuk menunjuk arah yang berbeda, mengingatkan kita pada adegan mencari gunung payudara dalam film Maskot. Belum lagi kontinuitas gambar adegan yang agak kacau. Entah, cerita ini hanya fiktif belaka, dan kalau ada kesamaan adegan dan nama tokoh hanya kebetulan belaka (kebetulan yang berulang-ulang!)
Berakting dalam film horor bukan hal gampang, ini yang perlu dicatat para bintang muda. Asal kaget, asal teriak bukan satu-satunya jalan mengekspresikan rasa takut. Bahkan, Marcell Darwin pun tak bisa menterjemahkan rasa takut tadi dalam teriakan dan tangis ngeri. Begitu juga barisan aktor pendukung Arief-Rahman-Saleh yang memporakporandakan grand design horror menjadi komedi tak masuk akal saat bertemu hantu. Mimpi liar Ramon dengan guru Bahasa Indonesia cantik juga bukan adegan yang penting, karena diujung film tidak ada hubungan afeksi yang kuat antara ramon dan Bu Sonya. Kalau sudah begini, kita hanya bisa berharap dari Alex Komang dan Henidar Amroe. Porsi mereka yang tak banyak, otomatis tak berfungsi banyak menghidupi jalan cerita. Adegan flash back yang diperani pelakon senior cukup menjanjikan.
Gangguan lain datang dari elemen teknis, editor dan sound pantas bertanggung jawab atas terjadinya pengulangan dialog Marcell Darwin di awal film. Andi Rianto juga agak ber-lebay dalam menggarap score. Adegan yang nggak sebenarnya tidak menyeramkan, dipaksakan terlihat seram dengan dentuman musik Andi. Kesan suram berlebihan juga terlihat dari darah yang tumpah ruah bagai saus fast food bernampan lantai. Sementara pemunculan hantu sendiri datang dari arah yang bisa ditebak dengan tepat oleh penonton sebelumnya. Ah, sudahlah! Tak perlu berpanjang kata, biarkan kecerdasan penonton yang menentukan berapa hari film ini bertahan di bioskop-bioskop kita. Catatan untuk para sineas lain yang ingin menjajal peruntungannya di lahan gaib, please...be original!
Narayana's Pop Corn: 1 pop corn saja! Air putih bawa dari rumah, secara beli juga pakai uang...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar