Jumat, 13 Juni 2008

Lari

Kamis malam saya keluar kantor dalam kondisi lemas.
Bukan karena habis mengoral teman sekantor, tapi saya
capek pikiran. Saya yang dikenal nggak punya otak pun
bisa capek pikiran. Hebat ya? Malam itu saya berpikir
tentang teman sekantor saya yang menganggap
rekan-rekan kerjanya sebagai kompetitor. Saking
kompetitifnya, sampai dia nggak mau kalah dan
mendekati seniornya (atau menjilat?) demi mendapat
link-link jajaran selebritas. Kalau apa yang
diincarnya tak didapat ia curhat termehek-mehek pada
saya (yang juga dianggap rival ini). Kalau masalah itu
yang menimpa saya, it's ok! Memang beginilah yang
namanya kerja.
Tapi kondisi ini diperparah dengan masalah yang
menurut saya konyol! Sehari sebelumnya, dipagi buta
(pagi buta versi saya jam 08.15 WIB-Waktu Indonesia
bagian Banci-). Saya dituduh brondong berkongkalikong
dengan seseorang, dan itu menyakiti hatinya. Dia
memutus pertemanan kami. OMG, tak adakah masalah yang
lebih layak daripada sekadar brondong dengan
tuduhannya yang gak masuk akal? Ini bagi saya gak
penting lagi konyol! Ironisnya, ritme kerja saya jadi
agak ngelantur gara-gara dua persoalan beda kasta ini.
Saat translate gosip Hollywood saya melupakan esensi
dasar dan mendapat koreksi terparah dalam karir 3
bulan saya bekerja.
Hujan deras. Para malaikat 'bermain-main' blitz di
langit sana. Sesaat kemudian langit 'bersendawa'
dengan kerasnya. Jam 22.45. Saya naik taksi. Ndilalah,
seharian ini orang rumah tidak menelepon atau SMS.
Saya duduk di jok belakang. Ingin menangis, tapi malu.
Apa kata pak sopir, kalau ternyata penumpang yang
sepintas pria itu termehek-mehek. Sejatinya, hubungan
saya dengan brondong inipun masih abu-abu, tapi
mengapa ia harus marah? Mengapa saya jadi gundah bila
dia marah.
Hujan berlanjut, intensitasnya tanggung. Saya berada
pada titik paling sentimentil. Saya.ingin curhat pada
teman di tv1 atau PNS BPN, takut merepotkan secara
malam sudah larut. Ingin memutar MP3, koleksi lagu
saya berdarah-darah semua. Tampak dari balik kaca
jalanan melengang. Di jalanan yang saya lihat dengan
keempat mata saya, Tuhan seolah memutar pita seluloid
dosa-dosa termanis yang pernah saya buat. Dengan si
brondong, si arab, pak dosen UGM, si ini dan si itu.
Di bioskop Tuhan XXI itu, saya melihat diri Wayan
berperan sebagai lonte. Saya membuang muka. Lagi-lagi
saya berpikir Tuhan masih enggan membiarkan saya
tenang. Saya sadar, kepergian saya ke ibu kota hanya
untuk menghindari mereka yang wajahnya saya lihat di
'pita seluloid' tadi. Saya rasanya ingin mati di kamar
kos saja. Jakarta ternyata tak cukup menjadi tempat
pelarian saya. Lalu saya harus lari kemana?
1.Untuk mengusir sedih, beberapa hari ini saya lari ke
duania 3G. Di sana saya melihat kenalan saya coli.
Puas? ya. Saya puas. Tapi setelah mani itu tumpah,
perasaan sedih saya tak tumpah sama sekali. Mengendap
sampai pagi tiba. Tuhan tak ada di situ.
2.Keesokkannya, saya lari ke situs-situs biru, meski
warnanya tak sepenuhnya biru. Cokelat malah, dengan
bulu di sana-sini. Saya larut. Tapi apakah masalah ini
larut bersama situs-situs itu? Tak! bahkan sampai
pagi, dan pulsa hampir nol, kekonyolan itu tak pernah
tiba di titik nol.
3.Saya kangen dengan keluarga. Entah mereka sedang
apa. Lalu HP berdering. Seseorang yang entah namanya
siapa mengaku kenal saya dari chatting. Saya
menceritakan masalah konyol itu. Lalu dia bilang: Sini
aku peluk. Cukupkah itu? Setelah satu jam kami ngoceh,
masalah saya tak pernah jatuh dalam pelukannya.
4.Akhirnya saya berada di titik bingung. Antara
kesepian dan tak ingin ditinggalkan. Jakarta yang saya
harapkan bisa menjadi tempat pelarian ternyata masih
terlalu sempit. Karena teror itu masih membutunti saya
dari Nusukan ke Mega Kuningan. Akhirnya saya berpikir,
sudah saatnya berhenti melarikan diri. Dan
menghadapinya dengan segenap hati. Beranikah saya yang
kata mamanya Sofi bermental tempe ini?
“Lurus pak, sebelum apartemen Casablanca belok kiri,”
perintah saya mencoba menepis perasaan tadi.
Telepon berbunyi. Gerimis masih menitik. Dari ujung
sana, Wida teman saya bertanya, “Hey Jeung, udah
nyampai kos? Jij naik apa? Ik masih di bis neh...”
Thank God, i'm never alone.

Tidak ada komentar: