Selasa, 17 Juni 2008

Dunia Milik Berdua

Saya tergelak saat teman saya memamerkan cara dia memanaje waktu. Ia mengaku tak pernah pacaran pada malam minggu dan hari Minggu. Saya hampir salut, sampai akhirnya dia bilang pacaran dia 'hanyalah' Senin sampai Jumat. Lumayan basi sih bercanda macam begini. Tapi semakin basi saat saya melihat sekretariat kampus saya dulu dipakai oleh segelintir mahasiswa untuk 'merenda kasih' dengan lawan jenisnya. Itu baru yang siang hari. Itu baru yang kelihatan. Itu baru yang lawan jenis, dan sejumlah catatan lain yang terlalu panjang kalau harus saya tulis.

Beberapa hari yang lalu saya melihat gaya pacaran yang membuat saya ingin muntah. Bukan karena saya iri lantaran sampai sekarang saya tak kunjung laku. Padahal harga diri saya sudah di diskon 50% plus ini dan itu. Sewaktu saya pulang kantor melewati trotoar, saya melihat seorang gadis duduk diatas pot tanaman yang berderet rapi menghiasi trotoar. Area pejalan kaki yang sumpek kalau dilewati dua orang berjajar itu semakin sumpek lantaran dihadapan si gadis (masih gadis nggak ya?) ada seorang jejaka (masih perjaka nggak ya?). Si pemuda berlutut dihadapan sang gadis sambil meletakkan tanggannya di paha pujaan hati, layaknya adegan dua sejoli saling rayu di film India. Gaya dan posisi mereka menghalangi saya yang hendak berjalan menuju pangkalan angkot.

Anehnya, mereka tak peduli pada saya (dan saya-saya yang lain, yang hendak melewati trotoar yang lebarnya tak lebih dari satu meter itu. Dengan dongkol, saya melintasi tanpa permisi. Saya heran. Tak adakah tempat lain untuk memadu kasih selain daripada trotoar? Belum lagi kalau ada pengendara motor yang ogah terjebak macet. Trotoar menjadi juruselamat untuk membebaskan mereka dari antrean panjang. Lalu apa kabarnyapara pejalan kaki? Mereka mungkin berpikir salah sendiri nggak punya motor. Salah sendiri nggak naik taksi. Salah sendiri nggak naik mobil. Bukan tidak mungkin para pejalan kaki sebenarnya punya alat transportasi, hanya saja mereka ingin mengurangi tingkat polusi Jakarta yang makin mencekik. Kalau saya, emang bener-bener nggak punya motor, apalagi mobil!

Saya ingin menyarankan pada dua sejoli yang hobi menjadikan trotoar sebagai taman cinta. Ada beberapa alternatif tempat kencan hemat tanpa harus menyunat hak parapejalan kaki:

  1. Kebun. Bagi orang-orang yang nekat, kebun bisa disulap jadi taman cinta. Apalagi kalau kebun itu terkenal angker sehingga tak ada yang sudi merambahinya. Kebun itu bisa jadi kamar darurat bagi anda yang sudah 'kebelet' banggetsss.

  2. Kios-kios kosong. Pagi hingga sore pemilik kios meraup untung. Malam hari, saat pemilik 'lengah', giliran anda yang meraup untung. Tanpa bermaksud menakut-nakuti, hati-hati pada razia pak polisi di kios-kios kosong. Jangan sampai niat anda mencari 'manfaat' menjadi mudarat gara-gara aparat. Ujung-ujungnya anda hanya bisa bilang: keparat!

  3. Kampus. Nah, buat anda yang mengaku kaum intelek jangan sok naif deh. Jangan hanya menghujat para ayam kampus kalau ternyata anda suka makan dagingnya. Kamar mandi kampus? Ruang kuliah?atau laboratorium? Tapi anda harus menutup telinga, apalagi kalau ada cerita-ceriti mistis seputar lahan kampus. Oh No!

  4. Tepi sungai. Agak maksa sih, tapi kalau menonton film Telaga Angker-nya Jeung Suzzanna anda akan tahu 'seni berpetualang out door'. Tapi jangan tanya kenapa kalau anda terkena azab sama seperti dalam film tersebut, mati gancet. Amit-amit 'kan?

  5. Kamar kos. Oh yessss! Ada segelintir orang berpikir, percuma dong bayar kos mahal tapi tak 'dimanfaatkan' secara optimal? Apa gunanya komputer, TV, dan tape? Mereka bisa mengaburkan desahan dan lenguhan dengan mengeluarkan alunan nada yang menghentak. Bukan begitu? Kalau anda bukan anak kos dan sedang mengencangkan ikat pinggang, anda bisa pinjam kamar kos teman dengan sejumlah 'kompensasi' pastinya.

  6. Pematang sawah. Nah, ini alternatif lain bagi anda yang gemar berpetualang out door. Hantu telaga sudah ada, hantu kebun tebu juga sudah diangkat dalam film Dukun A.S-nya WawanWanisar. Tapi hantu pematang sawah mungkin belum. Mau jadi pemerannya? Atau korbannya?

  7. Tempat piknik, kebun binatang misalnya? Kuburan? Atau ada ide lain yang lebih segar?

Tidak ada komentar: