Saya jadi ingat kejadian yang baru saja saya alami dan tulis di sini. Saya dituduh brondong saya kongkalingkong sama some body else demi mengorek informasi soal si brondong. Alasannya pun simple, dia menyimpulkan beberapa indikasi yang masih sumir. Adilkah ini untuk saya? Divonis untuk sesuatu yang masih ‘indikasi’? Sama halnya sewaktu beberapa bulan silam, dua teman saya si X dan si Y bertandang kerumah. Si X memperkenalkan pacarnya pada saya. Lalu saya memandangi pacar teman saya dengan detail dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan rambut lain yang bisa saya lihat pun tak luput dari perhatian saya. Lalu diam-diam si Y mengatakan pada si X bahwa saya mengincar pacarnya. Adilkah ini untuk saya? Divonis hanya gara-gara melihat dengan seksama sesuatu yang belum pernah saya lihat? Jadi bagaimana caranya agar kita bisa menjatuhkan vonis yang valid dan tepat sasaran?
- Biasanya kita menghakimi orang karena kita melihat gejala. Perhatikan dengan seksama dulu gejala itu dan berapa banyak gejala yang ada. Kalau cuma satu, itu tak cukup. Apalagi baru gejala, artinya hanya tanda-tanda, perlu bukti yang lebih kuat, misalnya anda melihat sendiri.
- Berapa orang yang melihat gejala yang anda lihat. Kalau cuma anda, itu tak cukup. Kalau ada orang lain, satu, dua atau tiga? Dan pastikan orang lain yang itu buta atau bisa melihat beneran. Kalau ternyata bisa melihat dengan jelas, pastikan juga apakah persepsi orang lain itu sama dengan persepsi anda? Kalau beda, itu juga tak cukup kuat untuk menghakimi orang.
- Kalau gejala banyak, saksi banyak dan persepsi sama, jangan buru-buru menghakimi. Seandainya karaoke tempat anda bekerja punya sistem delivery, pelanggan tentu tak sampai divonis mengemplang vodka. Setahu saya, masing-masing ruang karaoke punya telepon internal. Jadi kalau tamu yang sedang bernyanyi mau pesansesuatu tinggal telpon, dan pesanan diantar petugas dengan senyum. Dan kejadian seperti salah bon tak perlu terjadi.
- Dalam kasus saya, tuduhan kongkalingkong dan merebut pacar orang tak perlu terjadi jika semua dikomunikasikan dengan baik. Tak ada salah paham. Tak ada prasangka buruk pada teman sendiri. Lebih baik ribut didepan daripada kisruh dan membekaskan dendam dibelakang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar