Minggu, 15 Juni 2008

Vodka!

Baru saja saya menyetrika baju. Lalu ada sms dari teman saya di Solo. Saya tak akan menyebut jenis kelaminnya apa. Di jaman serba susah dan serba gila ini, laki-laki yang manly pun belum tentu hanya doyan pada perempuan. Begitu pula sebaliknya. Dia bercerita tentang kejadian tak mengenakkan sehabis karaoke. Benar-benar karaoke di salah satu klub karoke berkelas, karena buka cabang di beberapa kota, jadi bukan ‘karaoke’. Saat bayar bon, alangkah syoknya teman saya karena di dalam kertas nota tertera pemesanan vodka. Padahal dia dan teman-temannya yang konon bebas alcohol itu, tak pernah pesan vodka. Alasan yang disampaikan para pelayan karoke simple. Mereka sepertinya melihat salah satu dari geng teman saya mengambil vodka. Dari ‘sepertinya melihat’ itu mereka menyimpulkan telah terjadi pemesanan vodka. Padahal teman saya tidak ambil satu botol pun. Mereka bahkan tak tahu bau vodka itu seperti apa. Untung tak jadi ribut, dan teman saya masih bisa menahan emosi. Adilkah ini untuk teman saya? Divonis untuk sesuatu yang masih ‘sepertinya melihat’?

Saya jadi ingat kejadian yang baru saja saya alami dan tulis di sini. Saya dituduh brondong saya kongkalingkong sama some body else demi mengorek informasi soal si brondong. Alasannya pun simple, dia menyimpulkan beberapa indikasi yang masih sumir. Adilkah ini untuk saya? Divonis untuk sesuatu yang masih ‘indikasi’? Sama halnya sewaktu beberapa bulan silam, dua teman saya si X dan si Y bertandang kerumah. Si X memperkenalkan pacarnya pada saya. Lalu saya memandangi pacar teman saya dengan detail dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan rambut lain yang bisa saya lihat pun tak luput dari perhatian saya. Lalu diam-diam si Y mengatakan pada si X bahwa saya mengincar pacarnya. Adilkah ini untuk saya? Divonis hanya gara-gara melihat dengan seksama sesuatu yang belum pernah saya lihat? Jadi bagaimana caranya agar kita bisa menjatuhkan vonis yang valid dan tepat sasaran?
  1. Biasanya kita menghakimi orang karena kita melihat gejala. Perhatikan dengan seksama dulu gejala itu dan berapa banyak gejala yang ada. Kalau cuma satu, itu tak cukup. Apalagi baru gejala, artinya hanya tanda-tanda, perlu bukti yang lebih kuat, misalnya anda melihat sendiri.
  2. Berapa orang yang melihat gejala yang anda lihat. Kalau cuma anda, itu tak cukup. Kalau ada orang lain, satu, dua atau tiga? Dan pastikan orang lain yang itu buta atau bisa melihat beneran. Kalau ternyata bisa melihat dengan jelas, pastikan juga apakah persepsi orang lain itu sama dengan persepsi anda? Kalau beda, itu juga tak cukup kuat untuk menghakimi orang.
  3. Kalau gejala banyak, saksi banyak dan persepsi sama, jangan buru-buru menghakimi. Seandainya karaoke tempat anda bekerja punya sistem delivery, pelanggan tentu tak sampai divonis mengemplang vodka. Setahu saya, masing-masing ruang karaoke punya telepon internal. Jadi kalau tamu yang sedang bernyanyi mau pesansesuatu tinggal telpon, dan pesanan diantar petugas dengan senyum. Dan kejadian seperti salah bon tak perlu terjadi.
  4. Dalam kasus saya, tuduhan kongkalingkong dan merebut pacar orang tak perlu terjadi jika semua dikomunikasikan dengan baik. Tak ada salah paham. Tak ada prasangka buruk pada teman sendiri. Lebih baik ribut didepan daripada kisruh dan membekaskan dendam dibelakang.

Tidak ada komentar: