
Pemain : Ladya Cheryl, Donny Alamsyah, Kinaryosih, Rina Hassim, Soultan Saladin, dan Inong
Skenario : Joko Anwar dan Mouly Surya
Sutradara : Mouly Surya
Produser : Parama Wirasmo, Tia Hasibuan, Sapto Soetarjo
Produksi : Cinesurya Production
Durasi : 90 menit
Alisa (Cheryl), gadis pendiam yang tak pernah dekat pada ayahnya terobsesi pada seorang penulis, Bari (Alamsyah). Ia membuntuti Bari hingga menyewa rumah susun disamping rumah Bari. Cinta Alisa membuatnya kalap. Ia membantu Bari mengakhiri cerita-cerita fiksinya yang tak pernah selesai dengan cara mengejutkan! Setelah berhasil membantu Bari menemukan akhir fiksi-fiksinya, kini giliran Alisa mengakhiri kisah cintanya pada Bari dengan cara yang harus Anda saksikan sendiri.
Semua anggota geng cewek Ada Apa Dengan Cinta? Plus Rangga kini sudah jadi 'orang'. Termasuk Ladya Cheryl yang berwajah sendu disulap menjadi perempuan kalem dengan tabiat yang jauh dari kata kalem. Aktingnya yang sangat depresi begitu memikat. Cheryl berhasil menjadi pusat perhatian sepanjang durasi bergulir. Wajah dan otak Alisa yang berlawanan arah bertemu di gesture Cheryl. Kisah kelam yang dibangun Joko Anwar, berhasil menggairahkan akting para pemain. Lihat bagaimana Donny Alamsyah tampak total, tak kalah dengan penampilan perdananya di 9 Naga. Kinaryosih? Porsinya sebagai supporting actress nyata prima!
Siapkan stamina dan konsentrasi saat 'membaca' adegan demi adegan. Cenderung melelahkan memang, karena Joko bercerita perlahan tapi pasti. Cerita kelam ini makin pekat dengan warna gambar yang tak pernah cerah. Mouly Surya membiarkan penonton ikut 'gila' bersama Alisa. Emosinya begitu negatif. Mengingatkan kita pada kekelaman Million Dollar Baby. Nyaris tanpa harapan. Fiksi mengajak kita berpikir tentang kehidupan yang ternyata sangat dekat dengan kematian. Cinta begitu dekat dengan kegilaan. Semakin kelam Fiksi, dengan musik minimalis Zeke Khaseli yang berulang-ulang dan cenderung monoton. Ini justru jadi kekuatan Fiksi, sangat mewakili kondisi psikologis Alisa. Sangat depresi dan tragis. Terlalu kelam? Biarlah! Inilah bentuk totalitas yang langka di industri film kita.
Sangat riskan, merilis film berat macam Fiksi di tengah hingar bingar summer movie dan liburan movie. Bahwa film harus menghibur? ya! Kami setuju. Tapi jangan lupa, menghibur saja tidak cukup. Harus ada hal baru yang ditawarkan sebuah karya seni. Bagi Anda yang mendamba kesegaran ide ditengah monotonnya tema film Indonesia, Fiksi salah satu jawabannya. Kapan lagi Indonesia punya drama thriller dengan tingkat ketegangan perlahan lalu menukik? Fiksi mempertegas garis regenerasi penulis dan pemain ulung di Indonesia. Masih berkutat pada nama Joko Anwar dan generasi AADC. Jika konsisten menjaga kualitas film yang dihasilkan, Mouly Surya bisa jadi salah satu sutradara muda (wanita) yang kelak patut diperhitungkan. Kita lihat saja kiprah Fiksi di Pusan International Film Festival. Semoga membawa harum nama Indonesia.
Narayana's Pop Corn: 3 dunkz, tambah softdrink oke juga...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar