
Pemain : Dewi Perssik, Aldi Taher, Renee The, Baron Hermanto, Deriell Jacqueline, dan Kiwil
Skenario : Nestor Katanya
Sutradara : Emill G. Hamp
Produksi : Maxima Pictures
Produser : Ody Mulya Hidayat
Durasi : 90 menit
Alangkah syoknya Ranti (Dewi Perssik), mendapati Leo (Renee The) pacarnya asyik 'bermain-main' diranjang dengan Maya (Deriell Jacqueline). Tak mau mendengar penjelasan Leo, Ranti lari menuruni tangga dan terpeleset. Pendarahan di wajah dan mulut tak ayal membuat Ranti meregang nyawa. Tak terima dengan perlakuan yang dialami anaknya, Herman (Baron Hermanto) sengaja tak melepas tali pocong jasad Ranti. Niatnya, agar Ranti menuntut balas pada mereka yang telah menyakitinya. Selanjutnya, ada bisa menebak pembalasan macam apa yang dilakukan arwah penasaran Jeung Ranti.
Pocong sudah menjadi 'jodoh' si goyang gergaji. Setelah Tali Pocong Perawan merebut perhatian satu juta penonton lebih. Dewi masih belum bergerak dari keseksian dan suara seraknya yang ah... begitulah. Adegan pembuka dengan gaun terusan mini lagi ketat, dibalut kerudung mengingatkan kita pada hantu sexy Si Manis Jembatan Ancol ala Kiky Fatmala dan Diah Permata Sari. Di beberapa adegan, Tiren terasa sangat Suzzanna! Kalau di era Suzzanna ada tokoh Bokir, Dorman, dan S.Bono yang selalu setia mendampingi si ratu horror dalam Petualangan Cinta Nyi Blorong dan lain-lain. Di Tiren generasi Bokir diteruskan Kiwil, Yadhi Sembako dan Budhi. Mereka jadi bulan-bulanan setan yang tak pernah gagal mengundang tawa penonton. Belum lagi adegan perempuan (dengan kaki tak menginjak tanah) membeli sate, “Beli satenya bang...”. Anda ingat adegan Sundel Bolong Suzzanna naik becak? Adegan seram versi 80-an itu dikemas ulang dengan tensi yang bisa Anda rasakan sendiri.
Dari segi akting, berani adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan adegan Dewi Perssik Cs. Maklum, dari segi kekuatan akting, empat karakter utama film ini tak terlalu kuat namun mampu mencuri perhatian penonton lewat keberaniannya. Apalagi ada amunisi tambahan, Sarah Azhari. Tak bisa dibantah lagi kan? Patut diberi kredit tersendiri, beberapa scene 'hangat' yang mengundang sorak-sorai penonton. Cukup banyak scene hangat dan tak sedikit scene itu berujung pada kengerian. Sutradara Emil G. Hamp tampak terampil 'memainkan' empat pemain itu dalam scene-scene 'hangat'. Sekadar catatan, Hamp memiliki riwayat menyutradari sejumlah 'esek-esek' pada dekade 90-an, menjelang mati surinya film Indonesia. Dialah yang mengarahkan sejumlah ikon bom seks Ibra Azhari, Reynaldi, Febby L. Lawrence, dan Windy Chindyana dalam Hukuman Zinah, Lampiasan Nafsu, dan Selingkuh (yuuukkk...).
Pemunculan hantu dalam Tiren sama seperti film-film lain. Klasik dan tak lagi istimewa. Belum juga bergerak dari kamar tidur dan area kamar mandi. Konon, dua tempat tersebut memang lembab dan jadi tempat favorit para lelembut. Kalau toh anda 'terpaksa' kaget, itu karena dentuman aransemen scoring Andi Rianto yang kelewat 'keras'. Cerita yang dibangun Nestor Katanya memang banyak yang melompat-lompat, logika jadi agak terabaikan. Kalau dari genre-nya saja (horror) sudah tanpa logika, skenario karya Nestor pun terasa sah-sah saja. Yang patut disayangkan, adegan di dalam poster kok nggak muncul di sepanjang durasi ya? Juga ending film yang terkesan bertele-tele, seolah ingin menggenapkan durasi menjadi 90 menit pas. Lucu dan menyegarkan sih, tapi kurang efektif untuk memperkuat citarasa horor.
Secara keseluruhan, Tiren seru dan sangat menghibur. Meski agak bingung juga merunut pesan apa yang Anda dapat sekeluar dari bioskop. Kalau Dewi Perssik mengkhususkan diri dalam genre pop corn renyah macam Tiren, bisa jadi dia akan menjadi the next Suzzana. Yang harus diingat, legenda horror sekelas Suzzana pun bisa bermain serius dan masuk nominasi Piala Citra dalam Pulau Cinta. Inilah PR bagi janda Saipul Jamil untuk terus mengasah kemampuan beraktingnya, agar tak melulu dipandang sebelah mata. Sanggupkah dirimu Dewi?
Narayana's Pop Corn: 2 pop corns, mau 3? Bilang sama penjualnya gini: Bang, beli pop cornnya bang...(Ala sundel bolong Suzzanna) hi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar