Jumat, 27 Juni 2008

Mengapa Anjing Peliharaan Malah Lebih Galak Dari Majikannya?

Kemarin saya mewawancara seorang artes. Saya janjian dua minggu sebelumnya. Maklum artes yang satu ini baru saja mengundurkan diri dari trio vokal terkenal dan berada dibawah manajemen kondang di negeri ini. Akhirnya saya sampai di studio tempat kami nge-date. Karena si artes belum datang, saya menunggu sembari duduk-duduk dibawah, tak diberi sambutan apapun, meski sudah saya jelaskan siapa saya dan ada kepentingan apa. Lantaran artes belum juga datang, saya naik ke lantai atas, karena wawancara yang dijanjikan berada di lantai atas. Maksudnya, biar nggak usah naik turun dan si artis (yang juga langsung ke lantai atas) bisa langsung diinterview. Lebih ringkas buat saya dan waktu si artis termanfaatkan secara efektif.

Saya mengucap permisi pada dua karyawati yang sedang bergosip di lantai atas. Lalu saya duduk dengan tenang sambil melayangkan pandangan pada puluhan wajah artis yang terpampang di cover majalah dan dipigura di dinding-dinding studio. Salah satu dari dua karyawati penggosip ini menelepon seseorang. Saya tak tahu apa yang digunjingkan di telepon, sampai seorang pria berkaus loreng (entah dia satpam salah kostum, entah preman pasar tanpa identitas) melabrak saya begini:

“Mas! Bisa turun ke bawah nggak mas!”

Saya syok, dengan 'sapaan' pria ini.
“Siapa yang ngijinin mas naik ke atas! Mas tuh harusnya nunggu dibawah! Kalau saya bilang tunggu dibawah ya dibawah! Saya pikir situ masuk ke dalam mau kencing, nggak tahunya naik keatas! Saya sampai ditelepon orang atas, woi ada orang asing masuk ke atas kenapa didiemin!”

Belum sempat saya jelaskan, pria 'santun' ini berdendang lagi.

“Mas ini benar-benar nggak bisa menghormati orang bawah! Sekarang mas turun!”

Saya hanya menuruti 'petunjuk' sang pria sembari mengucap maaf, menahan tensi emosi.

Sampai dibawah, pria itu masih berceloteh sambil meninggalkan saya yang masih syok.

“Gue kirain masuk ke dalam mau ke kamar kecil nggak tahunya nyusup keatas!”

Sungguh, saya syok. Padahal dibawah saya jelaskan saya dari media ini dan sudah janjian dengan sang artis plus manajemennya. Tak sadarkah orang-orang ini bahwa salah satu majikan mereka mendapat kesempatan emas untuk saya publikasikan secara tak langsung? Tak sadarkah bahwa tamu siapa pun itu, entah wartawan atau tidak, berhak mendapat perlakuan yang layak. Tak bisakah mereka mengganti kata-kata mereka dengan begini misalnya, “Maaf mas, karena mbak XXXX dan manajernya berlum datang, silakan mas menunggu dulu di lantai bawah, karena lantai atas khusus untuk ini dan itu.”?

Yang lebih membuat saya syok, ketika sang manajer datang dan saya menyapa, mbak manajer bilang begini, “Oh mas dari tabloid ini ya, naik aja keatas mas kenapa malah dibawah?” Terpercik dalam benak saya untuk mengadukan perbuatan tak menyenangkan yang saya alami beberapa menit silam. Tapi saya sadar akan ada efek buruk yang pastinya menimpa para bawahan tadi. Begitu saya naik ke atas, dua karyawati keparat itu hanya tersenyum menunduk tanpa berucap satu kata pun. Mbak manajer bahkan menawari saya minuman botol, sembari berucap maaf karena artesnya masih di jalan tol. Selang berapa lama, si artes datang dengan senandung suaranya yang khas. Begitu melihat saya, dia langsung meminta maaf atas keterlambatannya dan kami mengobrol dengan hangatnya, bahkan bergosip ini itu dan tukeran nomor HP pribadinya.

Saya jadi teringat saat di Solo dulu, ada rumah orang kaya yang gerbang pintunya diberi warning: Awas Anjing Galak. Kenapa nggak ditulisi: Awas yang punya rumah galak? Saya jadi membandingkan dengan kejadian yang baru saja saya alami. Seandainya dua karyawati comel dan satu pria 'ramah' tadi adalah anjing galak, mengapa majikannya malah tidak lebih galak dari anjingnya? Mengapa peliharaan lebih galak dari yang memelihara? Mengapa karyawati dan si pria yang notabene bukan siapa-siapa malah lebih sadis dari tuan rumahnya? Saya membayangkan, dua karyawati anjing dan si pria anjing 'ramah' ini, belum jadi artes saja tingkahnya sangat 'santun', apa kabarnya kalau mereka jadi artes kaya dan dikenal publik ya?

Tidak ada komentar: