Senin, 15 September 2008

Sarang Kuntilanak: Judul Baru, Gaya Lamaaa (Banget!)



Pemain : Zidni Adam Zawas, Ayu Andhika, Elena Lubis, Ikbal Azhari dan Diah Cempaka Sari

Skenario : Rihanna Prameswari

Sutradara : Ian Jacobs

Produksi : Mitra Pictures

Produser : Evry Wanda

Durasi : 90 menit




Tanpa bermaksud sok tahu, tapi setahu kami kalau mau membuat film apalagi bergenre horor, paling tidak harus punya konsep yang baru. Sekadar informasi, publik Asia saja sudah mulai jenuh dengan pemunculan perempuan berbaju putih dengan rambut tergerai sejak Mbak Sadako alis Samara (versi Amerika) menjadi gunjingan. Atau setan anak kecil ala Ju On, atau Jelangkung versi lokal. Jadi kalau ada film horor dengan setan perempuan berambut panjang atau anak kecil pucat pasi kayaknya bukan hal baru lagi, kecuali didukung dengan promosi yang gila-gilaan. Itulah sebabnya dari puluhan film dedemit made in Indonesia, praktis hanya Jelangkung dan Pocong 2 yang membekas di hati penonton. Sekonyong-konyong hadirlah Sarang Kuntilanak. Figur yang pernah diusung Rizal Mantovani dalam tiga jilid. Tanpa ada press screening dan gembar-gembor sebelumnya. Apakah produser dan sutradara nggak percaya diri dengan karyanya? Takut filmnya mendapat ulasan negatif para kuli flash disc?


Ceritanya sepintas mirip Jelangkung. Norman, Martha, Vero dan Willy, sekelompok mahasiswa yang ingin membuat film dokumenter. Saat menggodok konsep, muncul ide neko-neko mendokumentasikan dusun Kalimati. Sebuah pedesaan yang kini yak lagi berpenghuni lantara semua penduduknya telah tewas. Sebelum bertolak ke dusun angker mereka sudah diperingati Vivian, dosen muda yang diplot miterius dan pendiam. Vivian sebelumnya pernah melakukan penelitian di Kalimati. Imbauan Vivian tak digubris, mereka nekat mengunjungi Kalimati. Endingnya? Anda bisa tebak dengan benar tentunya.


Setelah menuntaskan film ini, kami berpikir tak ada hal baru yang ditawarkan film ini. Kalimati mengingatkan kami pada Ujungsedo, asal muasal Sri Sukma alias Mbah Putri pelantun sekar Durma (Kuntilanak) atau Angkerbatu, sarang Jelangkung. Gaya memunculkan hantu pun sami mawon. Mulai di kamar, rumah kosong, hingga si hantu ikut nonton film di cineplex, yang mengingatkan kami pada Tusuk Jelangkung. Nyaris tak ada yang mengejutkan di sepanjang durasi. Yang baru hanya wajah para pemain, dengan akting yang ya, begitulah. Pada beberapa scene para pemain terlihat panik betulan, panik harus berkating bagaimana. Adegan di air terjun dengan gerimis kecil-kecil kami akui indah. Setting tempat yang dipilih cukup meyakinkan untuk sebuah tema horor. Maaf hanya sebatas itu saja, karena ending film menjadi sebuah boomerang bagi kreator film ini. Tanpa kejutan!


Jelas sudah, Ian Jacobs bertanggung jawab atas beberapa kegagalan dalam film ini. Jelas sudah, menakut-nakuti penonton sama sulitnya dengan membuat penonton tertawa. Ketika banyak film komedi Indonesia malah 'ditertawakan' penonton, ketika banyak penonton mulai 'berani' menonton film horor sendirian, apakah Sarang Kuntilanak mampu membuat nyali para penonton pemberani menciut? Yang jelas, kalau film ini menuai keberuntungan kecil di daerah, kami tidak heran.

Narayana's Popcorn: cukup 1!


Kamis, 04 September 2008

Asoy Geboy: Kalau Sekadar Ber-asoy geboy Sih Dapet...


Pemain : Raffi Ahmad, Indah Kalalo, Uli Auliani, Alia Rosa, Rizky Mocil, Argo “aa Jimmy

Skenario : Aviv Elham

Sutradara : Arie Azis

Produksi : MD Pictures

Produser : Manoj dan Dhamoo Punjabi

Durasi : 90 menit




Perpindahan penduduk dari desa ke kota disebut urbanisasi. Itu yang sering Anda dan kami pelajari semasa Sekolah Dasar dulu, arti sederhana itu kemudian menjadi lebih rumit di bangku SMP dan SMU. Sama halnya dengan Asoy Geboy yang dirilis MD Pictures pekan lalu. Dasar ceritanya simpel, tiga sekawan Didi (Ahmad), Asep (Mocil) dan Hilman (Jimmy) berangkat ke Jakarta demi meraih sarjana dan diharapkan, gelar itu bisa memperbaiki nasib desanya. Nah, 15 menit setelah cerita dasar dibangun, muncul trio stripper penghuni asrama Salma (Auliani), Lolyta (Kalalo) dan Memey (Rosa). Di sinilah cerita mulai rumit runyam. Salma mengejar Hilman yang paling alim bak ulama muda. Didi terobsesi pada Lolyta yang maniak lolipop, sementara Memey menuntut pertanggungjawaban Asep.


Kabarnya, sebelum menjadi Asoy Geboy film ini dibanderol Salome kependekan dari nama tiga tokoh stripper Salma, Lolyta, Memey. Perubahan judul ini dipicu gonjang-ganjing judul ML (Mau Lagi) yang tak hanya melibatkan LSF dan Mahasiswa, tapi juga beberapa organisasi Islam. Pertimbangan lain, Salome lantas diidentikan dengan akronim beraroma mesum, Satu Lobang Rame-Rame. Terlepas dari kabar dibalik layar yang beredar, Asoy Geboy hanyalah film yang ingin melucu ala Warkop DKI. Sedikit slapstick disini dan sedikit slapstick di sana. Dibalut racikan musik jadul ala Pancaran Sinar Petromak atau PMR (Pengantar Minum Racun)-nya Bung Jony Iskandar tempo doeloe, ditambah satu lagu pop rancak masa kini yang lagi ini. Sebuah hal yang pernah dilakukan Rako Prijanto lewat Tri Mas Getir. Bedanya, Tri Mas Getir menggaet Makhluk Tuhan Paling Sexy, Mulan Jameela sebagai soundtrack. Sementara Arie Azis memilih Dewi-Dewi feat Mulan, Sakit Bukan Main.


Tak terlalu sakit menyaksikan film ini. Beberapa jurus lawas ala Tessy dan Srimulat kembali muncul dan penonton mau tak mau kembali tertawa. Bisa ditebak sih bagaimana konsep melawaknya. Kalau sudah ada Tessy dan Tarzan. Kalau filmnya saja menggunakan profesi stripper, pasti tak akan jauh-jauh dari area seksual. Asoy Geboy menambah panjang daftar komedi berbumbu esek-esek di negeri ini. Untungnya, trio Raffi-Rizky-aa' Jimmy tampil gila sekaligus mampu menambal beberapa celah garing dan adegan nggak masuk akal lainnya. Hampir tak ada yang baru dari film ini. Masih menjadikan banci sebagai bahan lelucon, masih menjadikan cewek barbaju minim sebagai 'mainan', dan simbol-simbol 'dewasa' untuk bercanda. Masih manjur sih untuk mengundang senyum dan (kalau bisa) tawa penonton. Untungnya, Arie Aziz membuat ending yang cukup variatif. Tiga klarakter utana berada di garis akhir yang berbeda. Surprise!


Tapi jujur, kami masih bisa menangkap pesan moral yang disebar sejak pertengahan hingga akhir film. Kami tergelitik ketika Didi dan Hilman baku hantam habis nonton car wash show. Mereka saling menyalahkan saat menyadari tetangga mereka yang cantik-cantik ternyata punya show eksklusif. Muncul pertanyaan siapa yang salah? Mengapa ada profesi stripper? Mengapa ada yang mau menonton gituan? Kami jadi berpikir soal hukum permintaan dan penawaran. Kalau nggak ada permintaan, nggak mungkin ada cewek yang mau menawarkan. Atau dibalik saja, kalau nggak ada yang menawarkan diri nggak mungkin ada om-om yang mau 'jajan'? Dalem 'kan?

pop corn: dua pop corn ajah, seret nggak pake minum juga tak ape!

The Clone Wars: Gonjang-Ganjing Lintas Galaksi


Pengisi suara : Matt Lanter, Ashley Drane, Tom Kane, Christoper Lee dan Samuel L. Jackson

Skenario : Henry Gilory, Steven Melching Scott

Sutradara : Dave Filoni

Produksi : Warner Bros. Pictures

Produser : George Lucas dan Chaterine Winder

Durasi : 121 menit




Selamat datang di dunia galaksi. Anakin Skywalker (Lanter) mendapat tugas baru meredam konflik antar penghuni galaksi. Konflik yang dipicu oleh konspirasi penculikan bayi. Kubu Ksatria Jedi dituduh sebagai dalang penculikan. Padahal masalah 'sepele' ini hanyalah salah satu tak-tik gerombolan penjahat yang dipimpin Palpatine (Ian Abercrombie), Count Dooku (Lee) dan pengikutnya. Strategi adu domba ini bermuara pada sebuah rencana besar menguasai seluruh galaksi. Anakin Skywalker tak berjuang sendiri. Ia dibantu Ashoka Tano (Ashley Eckstein), cewek amatir yang terobsesi menjadi ksatria Jedi. Sifat Ashoka yang mau belajar dan berkemauan keras sering memunculkan persilisihan dengan Anakin. Namun itulah proses yang harus dilalui dua petarung tangguh itu.


Siapa yang tak kenal film legendaris Star Wars. Film yang pernah menyabet enam Oscar karya Goerge Lucas ini sangat kondang sejak 1977. Dalam kemasan berbeda, Dave Filoni mengarahkan The Clone Wars menjadi petualangan kartun tanpa beranjak jauh dari pakem dasarnya. Karakter-karakter yang ditampilkan sama persis. Teknik animasinya belum menampilkan sesuatu yang mencengangkan. Bagi para penggemar fanatik Star Wars, bisa jadi kekhasan The Clone Wars menjadi daya tarik tersendiri. Tapi bagi mereka yang baru pertama kali iseng-iseng nonton, nggak akan mendapat pengalaman spektakuler. Belum lagi pengisi suara kurang memberi aksen istimewa pada karakter yang mereka bawakan. Standarlah!


Gaya melucu di tengah peperangan sengaja dipusatkan pada dialog dan memang jarang berhasil melucu. Hanya penonton yang fokus pada naskah yang bisa menikmati selera humor para ksatria. Di lain pihak, Dave Filoni tak mau para penonton cilik pusing mengikuti teks. Kalimat-kalimatnya tak banyak yang 'bersayap', cenderung lugas. Selebihnya The Clone Wars menyuguhkan rentetan adegan baku hantam dengan tensi naik turun. Kemelut satu terselesaikan, langsung disusul kemelut lainnya. Politik mengkambinghitamkan dan mengadu domba pihak lain berpotensi rumit, terlalu rumit bagi anak-anak malah. Solusinya? Menyederhanakan dialog dan memperkaya adegan laga dengan pengambilan gambar yang sangat dinamis. Kilauan pedang dan tembak-menembak antara pesawat pastinya memesona mata. Durasi film yang sedikit lama diakali dengan penyusunan konflik yang rapi. Secara keseluruhan, The Clone Wars tidaklah buruk hanya kurang menghentak. Apalagi di Indonesia dirilis berdekatan dengan Wall-E buah karya duo biang animasi, Disney-Pixar. Pilihan di tangan Anda!

Pop Corn: 2,5 saja plus air mineral botol kecil

Tip Mencegah Pemalakan

Saya mau berbagi tips kepada Anda, bukan sok menggurui karena ini berdasarkan pengalaman saya saat antre tiket kereta api tambahan Argo Lawu di Stasiun Gambir, Senin 1 September kemarin. Ceritanya begini. Saya datang ke Gambir jam 12.45. Sesampainya di ruang utama, antrean panjang tiga deret menyambut kedatangan saya. Sekarang saya tahu rasanya, betapa menderitanya ibu-ibu yang antre beras tiga Kilo dan minyak tanah tiga Liter. Menjelang loket, saya baru sadar kalau nggak bawa tunai. Niatnya sih mau beli dengan debit. Secara 21 dan XXI saja melayani pembelian tiket dengan debit, masak PT KAI yang sudah puluhan tahun mengabdi ibu pertiwi masih gaptek? Akhirnya saya menitipkan tas ke orang yang baru saja saya kenal, tapi bisa dipercaya lalu ke ATM BCA.

Baru saja saya mengambil uang dan belum sempat mengambil kartu, tiba-tiba seorang pria merangsek masuk. Saya kaget bukan main, kaget minta ampun! “Mas tolong, saya mau minta uang 50 ribu!” serunya pada saya yang masih terbengong-bengong. Saya bingung, lalu melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mata saya yang sudah empat ini terbelalak. Parahnya, kartu ATM saya nggak mau keluar. Begitulah kalau sudah keenakan masuk, lupa keluar. Lalu saya bilang dengan si Mas tak dikenal ini, “Sebentar dong Mas, ini kartu ATM saya kegigit.” Lalu saya minta tolong pada Pak Polisi untuk menangani ATM saya, berhasil! Tapi saya tak berani bilang pada Pak Polisi kalau pria yang masuk ke ruang ATM saya itu minta duit 50 ribu.

Setelah keluar dari ATM, pria sawo matang ini terus membuntuti saya. “Kalau mas nggak bisa ngasih saya 50 ribu, 30 ribu juga nggak papalah. Tolong, Mas saya mau pulang kampung ke Makasar tapi duit saya kurang Mas,” pintanya dengan wajah sememelas mungkin. Saya tahu, itu ekspresi memelas yang so artificial. Secara saya dijuluki Hillary Swank, hanya dua kali masuk nominasi Oscar dan 'hanya' dua kali menang! Saya menyibukkan diri kesana kemari, tapi si Mas yang tinggi tegap ini terus membututi. Risih, begitulah rasanya. “Kalau begitu 20 ribu saja, Mas. Kalau uang Mas 50 ribuan, sini saya tukarkan. Saya nggak akan lari kok, Mas,” kali ini si Mas yang entah namanya siapa itu merajuk.

Lama-lama saya sebal. Padahal saya hampir saja menaruh iba, tapi perasaan itu pupus begitu melihat si Mas mendapat recehan ribuan dari seorang perempuan. Solusinya sebagai penukar uang kilat membuat saya jadi makin sebal. Saya ingin melawan, tapi takut kalau ternyata dia diam-diam membawa senjata tajam atau apa. Kalau senjata tumpul, pastilah! Lalu saya mulai menantangnya begini.

“Kalau saya kasih kamu duit sekian puluh ribu, kamu mau ngasih saya apa?” tanya balik saya sambil menatap langsung mata si Mas. Saya mengubah air muka saya sedikit garang, segarang wajah Mbak Agnes Monica dalam video klip Godai Aku Lagi.

“Maksud, Mas?” tanya si Mas tak mengerti.

“Saya mau kasih duit 25 ribu, 30 ribu malah. Tapi saya minta sesuatu dari kamu,” jawab saya. Kali ini jantung saya deg-degan. Wajah saya terasa panas.

“Saya mau mengoral kamu!” kata saya lagi. Hasilnya?

Si Mas langsung bengong, dia mundur satu langkah.

“Mas, jangan begitulah. Saya kan lagi puasa, biar Allah yang membalas budi baik Mas,” katanya pelan.

Saya langsung berpikir, mana ada orang puasa kok tingkah lakunya ngompasin orang-orang yang lagi kesusahan nyari tiket pulang kampung?

“Sama saya juga lagi puasa, tapi saya mau ngisep kontolmu, kamu mau apa. Mau nggak? Kalau nggak, jangan harap dapat duit dari saya,” kali ini saya bekata tegas. Si Mas langsung mundur teratur. Saya nggak peduli kalau dimatanya wajah saya jadi mirip dengan wajah Mas Ryan, sehingga si Mas takut malak dan memilih mundur teratur. Lalu saya melenggang keluar stasiun menuju halte busway. Damn! I am beautiful, I am superpower girl! Bagi Anda Mas dan Mbak, juga adik-adikku di Kine, jangan takut dipalak. Gunakan jurus oral saya, dijamin mujarab. Saya buktinya!

Ketika saya menceritakan pengalaman saya ini pada teman saya, Sofie wartawan Metro TV (Saya sebut dia wartawan, bukan wartawati karena saya masih meragukan kewatiannya) , Saya bilang begini, "Makanya jeung, kalau kamyu dipalak preman atau siapapun itu. kamu bilang, aja begini: saya kasih kamu duit tapi saya mau oral kamu dulu. Pasti pria itu mundur teratur!"

Dengan kurang ajar Sofie menajwab begini, "Tapi Njik, kalau nanti si preman malah mau kuoral gimana?"

Saya berpikir, Cuih kok PD banget ya ada preman yang mau kamu oral. Ya Nggak?

Jumat, 22 Agustus 2008

Basahhh... : Jangan Khawatir, Tak 'Sebasah' Judulnya Kok...


Pemain : Kevin Julio, Esa Sigit, Irshadi Bagas, Sakurta Ginting, Yuki Kato, dan Meriam Bellina.

Skenario : Nucke Rahma, S.H

Sutradara : M. Haikal

Produksi : Starvision Pictures

Produser : Chand Parwez Servia

Durasi : 90 menit




Masih ingatkah Anda, kapan pertama kali Anda mengalami mimpi basah? Kami tidak bermaksud jorok lho, karena faktanya setiap pria akan mengalami hal begituan. Inilah yang diributkan Didot (Sigit), Dimas (Bagas), Alvin (Julio) dan Ojan (Ginting). Empat remaja tanggung ini salah kaprah tentang wet dream. Mulai dari mitos terkena kanker prostat, nggak bisa tinggi, kerempeng hingga tak merasakan kenikmatan ML. Mitos-mitos sumir ini membuat Didot yang diawasi superketat oleh omanya (Bellina) sangat cemas. Berbagai cara dicoba Didot and the gank demi mencapai nikmatnya wet dream. Main mata sama cewek, buka situs-situs biru, hingga menyambangi rumah bordil House of Love milik Mama Mia (Ivan Gunawan) dan Mbak Juve (Perez). Demi 'bercengkerama' dengan bunga malam, mereka rela menjual barang-barang berharga milik mereka. Hasilnya? Anda bisa menyaksikan sendiri.


Kalau mau jujur, ide mengangkat mimpi basah dengan menampilkan empat remaja puber jelas masuk akal. Ada banyak hal yang bisa dikembangkan dari empat lakon utama beda latar belakang keluarga ini. Yang patut dikritisi, penampilan empat bintang utamanya. Sakurta 'Kipli' jelas mengundang tawa, gayanya yang asal nyablak seperti yang sudah-sudah memang menjadi cirinya. Masalahnya, Kevin, Esa dan Bagas di beberapa scene kurang bisa menimpali. Ada beberapa adegan dimana mereka tampak saling menunggu ketika dialog seharusnya segera bergulir, jadi terkesan lama dan kurang lincah. Di sinilah durasi proses reading dan keterampilan sutradara dalam mengarahkan pemain dituntut lebih panjang. Dan bukan Meriam Bellina namanya kalau tak becus improvisasi. Kombinasi aksen Belanda-Sunda-nya berkali-kali membasahkan suasana garing. Belum lagi ada Jaja Miharja, Inggrid Wijanarko dan Derry Drajat. Kalau ada Julia Perez, Ivan Gunawan dan Aura Kasih tentu bukan bonus yang mengecewakan. Yang sedikit mengecewakan, barangkali ending bikinan Bung Haikal yang kurang smooth. Kekonyolan demi kekonyolan yang ditebar sepanjang film berakhir begitu saja. Kalau ending dibuat dengan tone yang agak meninggi bisa jadi lebih asik dan mengesankan. Lagu-lagu di sepanjang film agaknya terlalu panjang dan dibawakan dengan kurang meyakinkan.


Lalu apa bedanya Basahhh... dibanding komedi esek-esek sebelumnya? Tema besarnya. Mengangkat mimpi basah di kalangan remaja puber bukanlah mengada-ada. Kalau toh beberapa banyolan menyerempet area sensual, itu pun masih bisa ditolerir mengingat tema logisnya mimpi basah remaja puber. Banyak kelucuan justru muncul dari dialog para pemain, jadi bukan obral slapstick semata. Dialog semakin berisi berkat sisipan pesan moral yang dikemas lugas dan ringan. Sangat cocok untuk pangsa pasar ABG. Dr. Boyke juga bersedia 'turun' ke tingkat pemahaman remaja SMP dalam menyampaikan penjelasan ilmiah seputar seks dan kondisi psikologis remaja puber. Dari segi teknis penggarapan Basahhh... cenderung standar, tak ada yang istimewa. Seandainya saja Bung Haikal mau lebih detail dan sabar, Basahhh... bisa jadi tampil lebih klimaks. Semoga bisa terwujud dalam karya Haikal selanjutnya.

Narayana's popcorn: Cukup dua, titik!

Oh, My God!: Populerkah Anda?


Pemain : Desta, Revalina S. Temat, Ringgo Agus Rahman, Maia Estianty dan Inggrid Wijanarko

Skenario : Raditya dan Key Mangunsong

Sutradara : Rako Prijanto

Produksi : Oreima Films dan Peach Blossom Media

Produser : Reza Hidayat, Indra Birowo, Daniel Rahmad, Vena Annisa

Durasi : 112 menit


Jangan tertipu posternya! Melihat ekspresi empat wajah pemainnya, orang akan berpikir Oh My God film komedi. Anda yang berharap mendapat banyak lawakan di film ini bisa jadi akan kecewa. Rako Prijanto saja menyebut karya teranyarnya ini 80 persen drama, jadi anda bisa bayangkan eksekusinya. Slamet Arifin alias Ipin (Desta) sosok pecundang kelas. Usia boleh 22 tahun, tapi masih saja duduk di bangku kelas dua SMU. Sebagai anak tukang laundry, ia naksir Tiara (Revalina) anak ketua Yayasan sekolah Mutiara Bangsa, yang memberi bea siswa pada Ipin agar bisa melanjutkan sekolah. Selain itu, Ipin harus menghadapi pacar Tiara, Marco (Ringgo) ketua geng D Ningrat, cowok paling populer, model dan dibesarkan dari keluarga tajir. Bagaimana Ipin dengan wajah tuwir-nya merebut hati Tiara?


Mendengar ceritanya, nyaris tak ada ide baru yang ditawarkan. Setengah jam pertama, terasa berat apalagi jika anda berharap bisa tertawa lepas. Bisa jadi film ini hanya membuat anda tersenyum atau tertawa kecil saja. Tapi penonton tak akan kecewa melihat totalitas Desta yang tampil ndeso. Muka dan gaya jadulnya, baju-bajunya yang berwarna suram membuat penampilannya terbilang gemilang. Reva memperlihatkan pergerakan akting yang cukup dinamis. Setelah tampil pucat pasi karena diteror Pocong Rudi Soedjarwo, di film ini ia nyaman dengan sosok Tiara. Maia beruntung mendapat karakter ibu cantik tapi judes, entah kenapa juteknya Maia tampak natural di film ini, entah jika mood jutek itu didapat dari kasus berbelitnya di pengadilan agama. Ah, sudahlah! Kami tak ingin berspekulasi dalam hal ini. Scene stealer film ini tentu Inggrid Wijanarko, dialah biang keladi unsur komedi.


Tema yang diangkat sangat sepele, tak jauh dari konsep si cantik dan si buruk rupa. Dalam wacana bule beauty and the beast. Tapi Key Mangunsong dan Radit meramu beberapa jurus yang membuat Oh My God teteup enak diikuti. Adegan komunikasi morse SOS dari balik cermin mempermanis cerita yang terkesan klasik. Oh ya, kapan terakhir kali anda menonton layar tancep dan berkaroke lagu Broery Pesulima? Rako mengajak penonton mengenang memori dengan menghadirkan ornamen 80 dan 90-an itu di pertengahan film, dalam kemasan editing yang rapi.


Kalau anda tak tertarik dengan kisah cinta beda kasta yang dijajakan film ini, coba lihat pesan moral yang ditawarkan. Secara verbal, Ipin mengingatkan kawan-kawannya bahwa diskriminasi di sekolah bukanlah hal yang layak ditoleransi. Mengapa harus ada kelompok populer disekolah yang menguasai lahan kantin? Mengapa pesta ulang tahun siswa berorang tua tajir tak patut dihadiri siswa nontajir? Mengapa sekolah di negeri yang gemah ripah loh jinawi seolah hanya untuk kelompok tajir bin populer sementara si miskin harus memanipulasi umur dan mengais remah rejeki untuk menyekolahkan anak? Lalu anda dan kami akan dibawa pada sebuah perenungan, bahwa jalan mulus tersedia bagi mereka yang memiliki kekuasaan dan pangkat. Dengan mudah, mereka yang mengklaim diri famous bisa menyunat hak si miskin dalam memperoleh pendidikan. Pada fase genting, mereka yang terpingirkan dan dianggap tak populer oleh segelintir kaum populer itu membuat gerakan dan mendobrak dominasi. Dengan bersemangat, mereka yang tak populer berkata: saya adalah mayoritas! Coba renungkan pesan berat yang dikemas ringan Rako Prijanto ini, setelah anda keluar dari bioskop.

narayana's popcorn: dua saja plus soft drink!


Oh Baby: Membuka Topeng Cinta Laura

Pemain : Cinta Laura Kiehl, Randy Pangalila, Ridwan Ghany, Tio Pakusadewo, dan Andy /Rif

Skenario : Cassandra Massardi

Sutradara : Cassandra Massardi

Produksi : MD Pictures

Produser : Dhamoo Punjabi dan ManojPunjabi

Durasi : 90 menit



Kontes Tari SMA telah memilih tiga besar. Saat itulah gadis bertopeng yang dijuluki Phantom (Kiehl) unjuk gigi di atas panggung dan melengserkan satu kontestan lain. Wizard (Andi) mencium bakat Phantom dan menawari kontestan putus sekolah itu masuk ke SMU Pekerti Luhur. Di sekolah unggulan inilah Phantom alias Baby menjadi loser. Nilai jeblok membuatnya terancam dikeluarkan dari sekolah. Kepala sekolah, PakYudo (Pakusadewo) menyuruh ketua Pengawas Harmoni Pendidikan (PHP) Benny (Ghany) mengawasi Baby selama menjalani bimbingan belajar. Kedekatan Benny membuatnya mengenal sosok Baby lebih dalam. Diam-diam Baby juga dilirik dan didekati Zarro (Pangalila), siswa ganteng, rival Baby di tiga besar. Menjelang grand final, Baby menyadari dirinya dalam bahaya.


Opening film meyakinkan penonton bahwa inilah suguhan musikal dengan latar siswa-siswi SMA yang enerjik dengan pergerakan cinta dinamis. Apalah daya, suguhan musikal yang ditawarkan Massardi terjebak dalam alur drama anak-anak SMA yang sangat sering dijajakan sinetron stripping pencandu rating belakangan ini. Untuk memancing tawa penonton, rumus yang dipakai Massardi sangat slapstick dan (agak) mengabaikan logika. Meracik drama musikal sepertinya tak perlu diembel-embeli gaya slapstick, kalau mau memancing tawa pakai saja kelincahan dialog dan situasi yang sedikit konyol. Belum lagi background Baby yang dilakoni Cinta sebagai orang susah rupanya tak benar-benar hidup susah. Baju-baju yang dipakai masih masuk kategori mewah. Padahal, opanya saja digaji dengan buku, tidak dengan duit. Aksen ojheck bechek belum juga ditinggalkan.


Dari sisi akting, sama saja kedodoran. Ridwan Ghany diplot kaku, dan memang terasa kaku. Sementara Randy juga belum mendapat karakter menantang. Anehnya, aktor sekelas Tio Pakusadewo pun terlihat kurang leluasa membawakan Yudo yang otoriter, sementara Andi /Rif tetap dengan gaya nyentriknya. Cara membangkitkan rasa haru pun terasa kuno, dengan mendatangkan hujan. Mengapa harus hujan? Moment seperti ini terlalu sering dipakai FTV dan lagi-lagi sinetron stripping kita! Yang patut dipuji dari film ini, setting tempatnya bagus, tata cahaya yang lebih bergaya dan nggak monoton, editing-nya rapi, dan tak bertele-tele dari segi durasi. Ringkas saja!


Kami sih membayangkan dan berharap Oh Baby jadi Step Up versi putih abu-abunya Indonesia. Apa daya, ide sebagus ini eksekusinya masih begitu-begitu saja. Tapi setidaknya, pesan moral yang disampaikan film ini jelas. Tentang memaknai betapa beruntungnya mereka yang masih bisa mengenyam pendidikan dan secara verbal karakter Zarro mengingatkan Baby: Selamat datang di dunia sekolah yang penuh topeng. Masalahnya, siap tidak Anda melihat mereka yang bersembunyi dibalik topeng? Bagi yang masih demen pakai topeng, beranikah Anda menunjukkan siapa diri Anda sesungguhnya? Mbak Cinta aja berani lho...


Narayana's Popcorn: dua cukup...

Jumat, 01 Agustus 2008

Kick 'N Love: Tendangan Yang Kurang 'Nendang'!

Pemain : Shareena Gunawan, Oka Antara, dan Ibnu Jamil

Skenario : Nico Hermanu

Sutradara : Heru Effendy dan Dennis Adhiswara

Produksi : Prominent Asia Pictures

Produser : Ika Sastrosoebroto

Durasi : 84 menit


Mendengar kata kick sebagai salah satu elemen judul, anda tentu membayangkan sebuah film dengan paduan sportivitas dan cinta. Ya, Nico Hermanu merancang skenario tim futsal D' Nagas, dengan Tyo (Jamil) sebagai bintang lapangan yang digilai banyak cewek. D' Nagas yang selama ini dikenal sebagai tim tangguh merekrut Budi sebagai pemain bayaran. Bersama Budi, D' Nagas memetik beberapa kemenangan. Gita (Shareena) yang hanya lulusan SMU bekerja di sebuah butik. Budi, mahasiswa dengan IP 1,5 terpacu melihat keuletan pacarnya, Gita dalam menggapai cita-citanya menjadi seorang desainer. Tanpa disengaja, Tyo bertemu Gita di butik saat menjemput ibunya di butik. Gita tampak tak suka, persoalan di masa lalu bergulir. Konflik merumit saat, Budi memergoki Gita diantar pulang Tyo. Amarah Budi berbuntut pada pengkhianatan tim.


Belakangan futsal menjadi tren tak terbantah. Dari anak-anak SMP sampai mahasiswa, futsal begitu diminati dan kerap dikompetisikan. Ide Hermanu melirik futsal boleh juga. Tapi patut dipertanyakan pemilihan Ibnu Jamil dan Oka Antara yang baru menikah. Meski akting mereka tak mengecewakan, imej ketuaan kok belum bisa ditepikan ya? Shareena Gunawan untuk ukuran pendatang baru tampil manis. Jika ditilik seluruh castnya, semua karakter dibawakan secara wajar. Masalahnya, hubungan antar karakter dan konflik yang dimunculkan kurang tajam. Lihat saja, kebencian Gita pada Tyo karena sepupu Gita terjerat narkoba. Rasanya, akan lebih tajam jika ada penjelasan tanpa kata, dengan kata lain gambar yang 'bicara'. Itu kalau kami boleh menyarankan lho. Belum lagi hubungan Tyo dan Gita yang terasa tanggung, cinta segitiga bukan ya?


Citarasa olah raga futsal sepertinya kurang pekat. Penggambaran kompetisinya sih dapet. Maaf kalau kami terlalu banyak kata tapi, unsur dramatisnya masih kurang. Jika berkaca pada film-film Hollywood, di setiap pertandingan dalam film selalu ada tone-tone tertentu yang 'sengaja' dinaikkan untuk kebutuhan film. Di bagian itulah perasaan penonton 'dipermainkan', penonton dibuat gemas lalu berakhir dengan dua kemungkinan, kelegaan kemenangan atau malah sebaliknya. Heru dan Dennis mencoba menjajalnya, dan kurang menukik. Ending film berlalu begitu saja. Cinta dan sportivitas terlalu jauh untuk dikaitkan, bukan berarti takmungkin disatukan. Beberapa sineas luar negeri berhasil mengemasnya. Anda ingat Tin Cup (1996) milik Kevin Costner dan Rene Russo, meski tak terlalu laris berhasil membuat juri-juri Golden Globe angkat topi. Bahkan lawakan para waria dalam drama volly Iron Lady pun tak meninggalkan sesi haru biru dan pesan yang ingin disampaikan. Positifnya, film ini yang sangat drama ini bersih dari unsur seks dan elemen-elemen tak penting lainnya. Gambar-gambar yang ditampilkan cukup efektif dan durasi tak dilama-lamakan. Untuk ukuran produksi pertama, Kick 'n Love tergolong lumayan (dengan sejumlah catatan diatas). J wyn/foto: dokumentasi Prominent

popcorn: 2 saja ah...plus satu botol air mineral



Karma: Adakah Daya Untuk Menghindar?


Pemain : Dominique Diyose, Joe Taslim, Hengky Solaiman, Him Damsyik, dan Jenny Chang

Skenario : Salman Aristo

Sutradara : Allan Lunardi

Produksi : Credo Pictures

Produser : Elvin Kustaman

Durasi : 90 menit


Sandra (Dominique) syok. Betapa tidak, saat bertemu dengan calon mertua ia disambut lemparan gelas Tiong Guan (Damsyik) calon kakek mertuanya. Sandra dan Armand (Taslim) berencana menikah dalam waktu dekat. Sebagai ayah, Phillip (Hengky) menyarankan kedua calon mempelai agar segera pindah rumah setelah menikah, tanpa alasan yang masuk akal. Armand menolak, bisnis keluarga yang sedang kacau menjadi salah satu alasannya. Belakangan, dari gunjingan para pembantu Sandra menyadari sesuatu yang buruk tengah mengancamnya. Belum lagi beberapa sosok wanita terus meneror Sandra selama ditinggal calon suami ke Batam. Melalui tukang foto langganan keluarga Guan, Sandra yang ketakutan mengungkap selubung misteri keluarga mertua. Ternyata tak ada sosok ibu yang hidup di keluarga Guan! Lalu tiba saatnya Sandra melahirkan. Dalam perjuangan antara hidup dan mati itu, wanita bergaun pengantin menyambanginya di rumah sakit...


Semula kami pikir sudah tidak ada yang bisa digali lagi untuk genre i-horror di negeri ini. Ternyata dugaan kami keliru! Kita lupa, bahwa saudara-saudara kita etnis Cina juga punya kepercayaan dan mitos yang belum banyak disentuh sineas negeri ini setelah Ca Bau Kan dan May tempo hari. Itu pun bukan horor. Salman Aristo menjajalnya. Mitos mengumpat saat menyetir mobil, tradisi menikahi mayat Cina kuno dan pertanda jasad yang belum rela pergi tergali cukup rapi. Bagusnya, Salman masih sempat menyisipkan selera humor yang kalem dan sedikit sentilan sosial. Karma menjadi salah satu horor elegan yang tak banyak mengobral teriakan kepanikan dan hantu yang banci tampil.


Melihat daftar cast-nya, Karma masih mengandalkan nama-nama lawas. Mencari wajah oriental yang bisa akting beneran bukan perkara mudah. Him Damsyik tampil total, minim dialog dengan gesture efektif membuat sosok Guan konsisten bikin penasaran. Dominique yang kurang meyakinkan dalam Berbagi Suami kini menunjukkan progress lumayan bagus. Film ini menjajikan sejak awal karena opening grafisnya yang apik, dan alur flash back foto yang tak lazim. Sayang, konsistensi flash back foto ini kurang dipertahankan.


Horor yang cerah untuk jiwa yang lelah pada tema film Indonesia yang belakangan makin seragam. Karma tampil dalam suasana siang yang tak kalah mencekam. Hantunya jarang muncul karena unsur drama yang ditabur Lunardi cukup pekat. Irama film macam begini akan mengingatkan kita pada bidan drama horor Asia, The Ring. Anda yang cermat mengikuti alur film tak akan kelelahan. Pada beberapa scene, Karma terkesan lengang. Semakin lengang lantaran setting rumah yang dipakai terdesain kaku dan tegas. Belum lagi jika Aksan Sjuman sang penata musik 'sengaja malas' membiarkan sebuah scene berlangsung sunyi. Lalu perlahan, suara gemerincing bertalu kuat, maka anda harus menyiapkan perhatian ekstra. Awas, jangan sampai.... J wyn/foto: Publicist Credo Pictures

popcorn: 3 dari 5



Sabtu, 19 Juli 2008

B3rtiga

Seharian di depan komputer membuat kepalaku terasa pusing. Kalau sudah begini biasanya aku mulai menjambak-jambak rambutku sendiri pelan-pelan. Setiap remasan kubidikkan di pusat kepeningan. Entah tersugesti atau apa, biasanya pusing itu reda sesaat. Capai juga menyelesaikan dua berita. Seharian ini pun aku tak ingat pada Mas Legawa. Sedang di rumahkah bersama mbak Asta? Atau tengah pelesir ke bioskop? Tak peduli. 10 bulan sudah aku dan Mas tak ketemu. Bertambah kuruskah dia, atau semakin gemuk lantaran istrinya hamil, praktis tak ada lagi yang mengurusnya mendetail. Masa bodoh. Daripada mengurus Mas yang tak lagi mengurusiku, tak lagi mendeteksi apa film terakhir yang aku tonton, lebih baik meng-update berita tentang seorang ibu Noersyaidah yang dijuluki manusia kawat. Kok bisa ya, kawat-kawat sepanjang 10 sampai 12 sentimeter menembus keluar perutnya? Belum juga pertanyaan itu terjawab oleh tim dokter, belum juga hati nuraniku mencoba mencari jawaban. Ponselku menjerit sekuatnya. Sial!

“Hey bo', ngapain lu?”

Tere seperti biasanya. Enaknya, jadi pegawai negeri. Sabtu-Minggu, seperti kata Shandy Cannester menjadi hari untuk pasangan dan diri sendiri. Tak seperti aku yang jadi kuli tinta. Eh, kuli disket. Eh, disket udah nggak jaman ding, kuli flash disc, maksudnya.

“Kenapa Jeung? Jangan bilang kamu nelpon sambil 'ngibadah', ya? tanya balikku.

“Aih, gue yang menjanda gini aku ngibadah sih bo', entar kalau lubang tambah nganga lu mau tanggung jawab? Gini, gue mau ngajakin lu ajojing ntar malam. Mau gak? Kalau mau cap cus jam 9 malam gue jemput. Jangan bilang kamu nggak bisa gara-gara masih ngantor atau lagi pusing mikirin Legawa yang selalu bikin dirimu terpaksa legowo ya? Gue gaplok lu entar, gue jedotin muka lu di monitor komputer di kantor lu. Yuk mariiiii”.

Ya, begitulah Tere. Belum juga mengiyakan atau menidakkan tawaran telepon sudah ditutup. Kelabing? Bukan tipeku. Lebih baik running watch di bioskop ampe goblok daripada ke GX-Club. Tapi apa boleh buat? Kemarin nonton, hari ini nonton rasanya bukan pilihan hiburan yang pas. Baiklah.

“Nah, gitu dong. Begaul makanya. Siapa tahu di GX ada sedap-sedapan mata yang bisa kau cube”.

“Diem lu,” sambarku ketus sambil membanting pintu Feroza-nya yang belakangan makin terlihat jadul.

“Lu tu ye, hari-hari masuk kerja. Minggu habis ketemuan sama Yang Di Atas, teteup aja maksain nyambung ke kantor. Gue kasih tahu ya bo' nggak segitunya kali buat ngelupain si Tai Kucing itu”.

“Legawa,” Jawabku datar.

Whatever-lah Jeung. Yang jelas gue juga sama kayak lu dan Jeung KD. Gue juga menghitung hari hari. Udah sepuluh bulan ini sejak Legawa brengsek itu menikah, dan lu diundang. Dengan berdarah-darah lu datang ke resepsi pernikahannya dan dengan berdarah-darah pula lu mau mangkat dari kehidupan Legawa. Dia bilang ma lu kalau hubungan kalian.....aaaauuuww.....! Anjing! Tai lu ya!!!”

Umpat Tere sambil melongok keluar jendela mobil, yang tak pernah ditutupnya. Sebuah Kijang hampir menubruk mobil kami. Untung si Tere terkenal gesit sejak dulu dalam berkompromi dengan maut.

“Nyetir ya nyetir, ceramahnya entar,” sahutku sambil menutupi rasa deg-degan. Setengah meter lagi kaca depan mobil kami dapat dipastikan rontok, jika Mirza tak banting setir ke kiri.

“Gak bisa berhenti bo' gue mesti lanjut. Dia bilang hubungan kalian akan tetap berjalan, tapi gimana kenyataannya. Kayaknya si Legawa udah ketagihan memek jadi lupa ama kubangan semula.”

“Berapa kali ya gue mesti bilang, itu jalan terbaik Jeung!” jawabku dengan nada meninggi.

“Kalau itu yang terbaik buat kalian berdua. Sekali lagi, berdua! Pipi lu nggak bakalan setirus ini, Cong!” Mirza tak mau kalah.

Aku hanya diam. Apalagi yang harus kubantah. Rasanya tak ada. Adakah gunanya membantah sebuah kebenaran? Bukankah jika sekali lagi kubantah, akan ada bantahan lain yang lebih keras sekaligus mematahkan? Tumben-tumbennan ibu kota tak macet. Tak lebih dari satu jam kami telah sampai di GX. 5 menit untuk gontok-gontokan, 5 menit untuk deg-degan lantaran hampir dijemput maut, dan sisanya kami saling diam.

Bo' gue mau ke toilet dulu ya,” Tere minta ijin.

Suara gemuruh musik dan sorak sorai pengunjung semakin riuh. Entah apa yang dirasakan GX-ers, begitu para pelanggan salah satu kelab malam terkenal di ibu kota ini disebut. Ada laki. Ada perempuan. Ada setengah laki, juga setengah perempuan. Ada yang doyan laki. Ada yang doyan perempuan. Ada yang laki hanya doyan laki. Adapula yang perempuan hanya doyan perempuan. Yang maruk mau dua-duanya juga ada. Begitulah GX menjadi akuarium bagi semua manusia yang menerjemahkan orientasi dan diri mereka secara bebas. Malam ini aku naik ke lantai dua. Di sanalah, para penari mulai merasa busananya terlalu menghalangi gerak tubuhnya. Jadi tak perlu kujelaskan apa yang mereka lakukan terhadap 'para penghalang' tersebut. Yang jelas, aku pribadi merasa solusi yang mereka tempuh maksa banget. Satu persatu para penggemar mulai mengikuti jejak sang 'raja panggung'. Aku sebut raja agar lebih jelas apa kelaminnya. Kelamin? Penting buat para GX-ers? Ck... Seorang penari dengan wajah jalangnya menatapku dari kejauhan. Satu tangannya memegang tiang, sementara yang lain menggosok benda yang masih tertutup kancut. “Do you want to join with me?” Barangkali begitu tanyanya nun jauh di atas panggung. Aku mulai mendekat.

Dugem? Menari? Salah satu kelihaianku. Aku ingat dulu waktu duduk di bangku sekolah. TK, SD, SMP, dan SMA setiap kali ada festival tari, entah itu tradisonal maupun modern semua elemen sekolah yang sering menyebutku banci berubah menjadi sok malaikat. Bersikap ramah, memuji, dan memuja. Maksudnya, agar aku bersedia mewakili sekolah untuk unjuk gigi. Meski pada saat menari tak ada adegan memamerkan barang di dalam mulut yang kadang warnanya kuning itu. Perlahan aku mulai naik diatas panggung. Raja panggung yang 10 menit silam melirikku, melempar ciuman tepat menampar pipiku. Aku jadi seperti kesurupan. Aku menari mengikuti dentuman musik ajep-ajep. Awalnya kaus putihku yang tersingkap.

“Woeeeeee.....” penonton menyambut antusias sensasi kecil yang kubuat, sementara raja panggung berubah mejadi babu dengan memungut kaus ketat putih polos yang baru saja kubeli dengan label sale 50%+20%. Lalu jins biru belel yang ku beli di kota pelajar, dan....

“Whhhoaaaaa......!!!!”

'Pria' mana yang tak menganga melihat barang Indonesia lebih dari 17 senti? Bahkan raja panggung panggung pun mencoba mencuri kesempatan untuk menjamahnya. Aku beringsut ke sayap kiri panggung, secepat kilat menyambar gelas berisi soft drink dan splasssshhh.....wajah sang Raja tersiram sudah. Meski akhirnya kuberi kesempatan memegang tiga detik saja. Saatnya mengakhiri show. Aku menuju belakang panggung. Enam pasang penari pria yang sedianya akan tampil memberi 'sambutan' dengan memilih area penyambutan di tubuhku. Lalu kukenakan jins belel, sementara CD kuselipkan di saku depan. Kaus putih kukenakan sekenanya.

Musik semakin menghentak. Maklum, tiga raja baru memerintah diatas panggung. Penari yang ketiban sampur bir membuntutiku dari belakang. Aku pura pura tak melihat. Aku terus menyusuri lorong menuju toilet pria, menyingkap resleting dan mengeluarkan organ. Pufff...lega sekali rasanya.

“Gaya kamu tadi top banget, sudah sering club to club?”

Suara pria bernada datar menyentak kuping kiriku. Hidungnya menyentuh daun kuping. Aku berusaha melirik, sementara matanya melihat ke arah bawah, tepatnya organ tubuhku yang tengah meluarkan air putih kekuningan.

“Hati-hati kalau bicara,” sahutku setengah berbisik.

“Aku rasa, aku sudah cukup berhati-hati dalam memilih kata,” tangkisnya sembari meletakkan kedua tangannya di kedua pinggangku.

“Sayang sekali, pilihanmu keliru.”

“Oh, ya?”

“Ya, termasuk pilihanmu untuk meletakkan kedua tanganmu di pinggangku Sob...”

Kedua tangan pria ini mulai beringsut. Aku menyalakan air lalu berpindah ke wastafel. Sabun cair kutekan dan membuat busa kecil-kecil di kedua telapak tangan. Dan menyalakan kran air kembali.

“Dharma.”

“Ian,” jawabku sesingkat caranya memperkenalkan namanya.

“Kamu juga sama seperti aku?

“Maksudnya?” tanyaku balik sambil mencomot dua lembar tisu.

“Penari?” sela Dharma.

“Sekali waktu kamu perlu mengikuti perkembangan informasi terkini, Mas Dharma.”

“Maksudmu?”

“Barangkali sebelum kamu berkenalan dengan saya, kamu perlu berkenalan atau setidaknya tahu siapa Artalyta dan mengapa si ratu lobi lulusan SMU itu bisa menghebohkan negerti kita.”

“Peduli setan dengan Artalyta,” sahutnya.

“Barangkali rumus hidup kita berbeda. Buat saya keren tidaknya seseorang bergantung pada besaran isi otaknya. Tapi buat anda keren tidaknya seorang pria bergantung pada besaran isi celana dalamnya?”

“Hati-hati kalau bicara, Ian.” jawabnya perlahan.

“Sekarang anda menempati posisi saya sepuluh menit silam. Sekarang anda tahu rasanya kan?”

Dharma terdiam. Tapi sejenak saja. Tapi matanya tak pernah diam. Sebenarnya dia boleh juga, tapi tak secepat itu aku mengakhiri sebuah penilaian terhadap seseorang. Apalagi belum setengah jam aku mengenalnya. Perlahan dia tersenyum. Entah kagum, entah senyum culas layaknya tante-tante antagonis dalam sinetron stripping yang ceritanya tergantung rating.

“Selamat malam,” pungkasku sembari tersenyum dan keluar dari toilet GX yang sebelas dua belas dengan toilet hotel bintang lima. Aku terus melangkah dan tiba di pintu keluar GX. Duh, Tere kemana lagi ni? Aku mulai celingukan ke beberapa sudut luar GX.

“Gue di sini!”

“Pulang yuk Jeung?” ajakku.

Kami bergegas masuk ke dalam, masuk lift menuju lantai basement. Tak lama kemudian kami masuk mobil yang hampir di terjang Kijang tadi.

“Wajah udah mulai sumringah nih?” sindir Tere dalam perjalanan pulang.

“Udah lu diem aja, jangan sampai ada Kijang kedua dan kamu kurang gesit kayak tadi waktu berangkat ya, Nyet!” kilahku dengan pandangan lurus ke depan.

“Ya sudah, entar kalau kamu ngerasa kangen dan pengen ketemu si Dharma lagi, tinggal tele-tele gue ajah. Atau mau ke GX sendiri?”

“Anjrit, lu masuk ke kamar mandi cowok tadi?” tanyaku. Kali ini aku menoleh ke arah dia.

Seat belt-nya Jeung. Jangan sampai kegaruk polisi lu.”

“Jangan mengalihkan perhatian ya Re,” sembari aku memasang sabuk pengaman.

“Emh...Dharma itu primadona cewek cowok di GX. Lu aja yang nggak tahu. Oh, ya kamu baru kali ini ya ke GX. Gimana? Sebelas dua belas ma Legawa tak?”

“Gue nggak kepikir sampai ngebandingin, Re...”

“It's okey.”

Begitu lancarnya jalanan ibu kota. Labih lancar ketimbang berangkat tadi. Seandainya saja tiap hari begini, tak ada macet tak ada suara klakson menjerit-jerit sepanjang hari. Tere. Dia salah satu cewek penting dalam hidupku. Tanpa dia, mungkin aku tak akan bisa mengalami perubahan fisik sebagus ini. Kegigihannya mengubah aku dari sosok pria feminin menjadi lebih berbentuk, tak akan pernah bisa disilap dengan hal apapun. Meski penampilannya tak lagi selembut dulu. Arion telah mengubah separuh hidupnya menjadi gelap. Perubahan yang tak pernah aku, Flora dan Dara sangka.

“Dah Jeung, sampai ketemu besok ya.”

“Oke, thank you udah bikin mood-ku cheer up!” sahutku sumringah.

Kepalaku terasa agak berat. Mata udah mulai terkatup-katup. Butuh waktu 10 menit untuk mengingat dimana aku menaruh kunci tadi, sebelum akhirnya masuk rumah. Cepat-cepat kubuka sepatu dan menanggalkan jins dan kausku. Beginilah perilakuku di rumah. Tak ada siapa pun kecuali pembantu. Jadi mau ngapain aja itu urusanku, suka-suka aku. Terserah aku. Oh my God, melihat sofa panjang membuat aku berlari kecil, bersiap merebahkan tubuh.

“Darimana kamu?”

Sebuah suara mempertanyakan kepergianku baru saja....


Kamis, 17 Juli 2008

Doraemon The Movie-Nobita's Dinosaur: Indahnya Persahabatan Mereka...


Skenario : Kozo Kusube dan Ayumu Watanabe

Sutradara : Ayumu Watanabe

Produksi : Fujiko-Pro

Produser : Daisuke Yoshikawa, Kumi Ogura dan Tatsuji Yamazaki

Durasi : 92 menit


Hati-hati kalau mau sesumbar! Melihat Suneo pamer fosil kuku Tyrannosaurus, Nobita yang tak mau kalah sesumbar akan menunjukkan fosil dinosaurus utuh. Tanpa disengaja, Nobita menemukan fosil telur. Kain pembungkus waktu milik Doraemon memperlihatkan bahwa fosil terlur itu berisi bayi Futabasuzukisaurus. Setelah menetas, Nobita menamainya Pisuke dan diam-diam memeliharanya di rumah. Pisuke dewasa membuat kehebohan di Jepang. Nobita dan Doraemon berupaya mengembalikan Pisuke ke zaman Cretaceous dengan mesin waktu. Celakanya, ada oknum lain yang membuntuti dan menyerang Nobita Cs saat memasuki mesin waktu. Bersama Giant, Suneo dan Shizuka, dimulailah petualangan Nobita-Doraemon di alam purba yang mahaganas. Belum lagi mesin waktu Doraemon yang rusak memperkecil kemungkinan mereka pulang ke rumah.


Bukan Doraemon kalau tidak aneh-aneh dalam berpetualang. Kali ini formula yang di racik Kozo Kusube dan Ayumu Watanabe benar-benar memutar balik waktu. Dari era Jepang Megapolitan menjadi Jepang purba. Paparan pembuka menuju konflik terkesan detail, kalau tak mau dibilang bertele-tele. Meski sudah mengedarkan lebih dari lima seri film di bioskop Indonesia, Doraemon masih saja setia memainkan ekpresi wajah untuk memancing tawa. Slapstick! Terkesan Basi? Tunggu dulu, pasar yang disasar film ini adalah anak-anak kecil hingga mereka yang masih dibangku SD. Jadi jangan heran mereka akan tetap tertawa lepas. Jangan heran pula, kalau orang dewasa masih saja bisa ketawa. Ingat, amunisi Doraemon terletak pada usia serial kartunnya. Di Indonesia saja, tayangan kartunnya tahun ini memasuki usia 18 tahun. Tentu Doraemon selalu menarik perhatian mereka yang selama ini menjadi penggemar loyal si robot kucing.


Sekedar mengingatkan, menurut penulis komik ini Fumiko Fujio (70) Doraemon lahir pada tanggal 31 September 2112, dengan berat badan 129,3 kg dan tinggi badannya sama 129,3 Cm ini sengaja dikirim oleh cicitnya cicit Nobita, Sewashi untuk membantu Nobita mengatasi sifat malasnya. Pertama kali terbit tahun 1969, dan pada 1973 serial animasinya beredar. Bisa dibayangkan, ikon robot ini sangat 'mendarah daging' dikalangan pemirsa negeri matahari terbit. Setiap akhir pekan, Doraemon masih setia menyambangi pemirsanya. Gaya bertuturnya seolah tak mampu tertembus perubahan jaman. Artinya, Anda pun akan merasa aneh jika kemasan Doraemon mendadak berubah.


Dari segi teknik animasi, Nobita's Dinosaur tak jauh berbeda dengan jilid sebelumnya. Sangat klasik, dan cenderung enggan beranjak dari pakemnya. Termasuk cara Dopraemon mengolah ending film secara dramatis disertai tetes air mata. Petualangan di tempat asing akan selalu disertai moment perpisahan. Semakin mengiris, lantaran musik pengiring ditimpali orkestrasi spesialis penyayat hati. Satu lagi yang khas, Doraemon tak pernah bisa lepas dari pesan moral persahabatan. Saat Suneo tertarik pada tawaran musuh, pulang ke Jepang secara instan, Giant memilih tetap setia pada Nobita yang menyelamatkan nyawanya saat akan jatuh ke jurang. Bahkan seorang Giant yang preman pun masih punya sisi baik yang layak dibanggakan. Begitulah Doraemon! Pintar mengemas sesuatu yang klasik menjadi suguhan yang selalu dinanti dan bisa dinikmati penggemar loyalnya. Tak banyak serial kartun yang selegendaris penggila Dorayaki.


Narayana's PopCorn: 2 cukup beda rasa tapi...sesuai dengan filmnya klasik tapi lain packaging!

Anda Puas, Saya Loyo: Sepertinya, Inilah Sampah Audio Visual!


Pemain : Yeyen Lidya, Andi Soraya, Komeng, Bowby Tince, Sandy Tumiwa&Ryan Syehan

Skenario : KK. Dheeraj

Sutradara : KK Dheeraj

Produksi : K2K Production

Produser : KK Dheeraj

Durasi : 90 menit


Alkisah, Inem (Lidya) yang hobi main sepak bola dipaksa menikah ayahnya (Mastur), namun yang terjadi malah insiden lantaran Inem menyuruh Sisi banci (Tince) menggantikannya sebagai mempelai. Inem akhirnya disuruh merantau ke Jakarta menjadi pembantu Wisnu (Tumiwa). Belakangan sahabat Wisnu, Rendra (Seyhan) menyukai Inem. Jalinan kasih beda kasta pun terajut. Di lain pihak, Kang Cut (Komeng) pulang kampung dan menggaet adiknya Inem, Tarjin (Bedu) dan Bejah (Onshu) untuk bekerja ke Jakarta. Di sanalah Trajin dan Bejah menjadi pegawai Tante Tetty Qadi Pinky (Soraya). Jakarta mempertemukan kakak beradik berlogat Jawa.


Cerita klasik dekade 70-an tentang pembantu yang (kebetulan) bernama Inem pernah diangkat ke layar lebar. Kala itu, generasi bunga Titik Puspa dibawah arahan Nya Abbas Akup menyabet piala Antemas FFI 1977 lewat Inem Pelayan Sexy sampai dibuat trilogy termasuk versi lain bikinan Mochtar Soemodimedjo, Inem Nyonya Besar. Entah apakah KK Dheeraj bisa mengulang sukses yang sama. Tapi dari judulnya saja Anda tentu bisa menebak Anda Puas Saya Loyo akan melawak di area sekwilda (Sekitar Wilayah Dada). Nama-nama yang hendak dijual antara lain aktris sensasional Andi Soraya dan spesialis 'Bisik-Bisik' dini hari Yeyen Lidya. Cukup memprihatinkan melihat para pemain berbakat seperti mereka seolah dibiarkan begitu saja. Tak terarah, begitulah kesan yang membekas saat anda menonton. Nama lama seperti Ryan Seyhan dan Sandy Tumiwa berakting tak ubahnya pendatang baru yang belum terpoles. Entah apa yang terjadi di lokasi syuting.


Kalau maunya menggarap film komedi, (slapstick pula!) kenapa tak total berkutat pada adegan-adegan konyol sekalian? Pengembangan unsur drama yang maunya menyentuh, dengan memasukkan elemen Ryan Seyhan-Sandy Tumiwa tak memberi hentakan apa pun dan malah mengkhianati unsur komedi. Jika mau berkaca pada Dono-Kasino-Indro, nyaris semua adegan mereka terangkai slapstick. Kadang maksa malah. Tapi jualan kekonyolan dan konsistensi mereka pada adegan salah ini salah itu mentahbiskan mereka sebagai legenda slapstick yang dikenang sepanjang masa. Unsur drama yang dipercikkan tak sampai menggugurkan fondasi slapstick. Musik bikinan Kasino Cs pun memperkuat imej slapstick. Mereka nggak maksain memasukkan unsur pop demi menaikkan kelas dan pamor.


Kami sangat sadar membuat karya seni berjenis film layar lebar tidak gampang. Baiklah, kami berhenti bernyinyir ria dan mencoba berfikir positif (dan menemukan sisi positif) begini, ada nama Komeng, Bedu dan Ruben Onshu di film ini. Merekalah tiga senapan tawa yang bisa dibidik mengocok perut penonton. Bedu dan Ruben cukup leluasa mengembangkan unsur komedi dan bukan Komeng namanya kalau tak becus berimprovisasi. Ia terbukti lihai melucu. Ialah penyelemat muka film ini. Tak terbayang jika tanpa Komeng, apa jadinya film ini? Sepertinya, KK Dheeraj terlalu PD menggarap skenario, film dan merogohkocek untukfilm macam begini! Dengan track record dua film sebelumnya Genderuwo dan Skandal Cinta Babi Ngepet, anda bisa memprediksi sendiri seperti apa eksekusi Anda Puas Saya Loyo. Awas, jangan sampai Anda loyo beneran sekeluar bioskop!


Narayana's Pop Corn: i have no pop corn for this movie!

Minggu, 13 Juli 2008

10 Fresh Hits Nah!: Fresh Jelang Era Millenia!!


Tittle : 10 Fresh Hits Nah!

Format : kompilasi various artist

Label : Aquarius Musikindo, 1999


Anda ingat? Di pengujung dekade 90-an album kompilasi menjadi sebuah tren yang tak bisa dibilang jelek. Sony Music (kini SonyBMG) merilis album Indie Ten pada 1998. Tak disangka, album salah pilih single ini meledak di pasaran. Dengan cover album pas-pasan dan single Tak Ingin dari Wong, album ini melahirkan superband Padi, Sobat. Belum lagi Caffeine dan Cokelat. Lalu album ini dilanjutkan dengan jilid kedua dan tiga yang gagal mengulang sukses penjualan, dan gagal melahirkan band-band penting di Tanah Air.

Setahun kemudian Aquarius seolah mengekor jejak dengan 10 Fresh Hits Nah! Album ini dimata saya sangatlah special. Lebih variatif, tak melulu dalam format band. Mau solois cewek? Ada Ninis dengan Sudahlah, ciptaan Melly Goeslaw. Tak dinyana, empat tahun kemudian, Sudahlah didaur ulang Marcell dalam debut album perdananya, dengan adaptasi lirik maskulin. Jangan lupa, di album ini ada penyanyi bersuara 'aneh' tERe, membawa karya ciamik duo sohib Beby Romeo dan Ahmad Dhani, Sendiri. Di album ini, Sendiri sama sekali 'tidak bunyi'. Uniknya, dua tahun kemudian Sendiri versi panjang (karena durasinya lebih panjang sekian puluh detik) muncul di album Awal Yang Indah. Dan saat dibuat video klip, teteup memakai yang versi Fresh Hits Nah!

Ada lagi duo manis Zoel dan Fenty mengusung Satukan Rasa. Lagu dengan lirik yang jauh lebih pakem dan berkelas ketimbang band cemen yang belakangan menjamur ini diaransemen orang-orang penting negeri ini. Keyboard oleh Erwin Gutawa dan bass by Indro, dua nama yang menghantarkan KD menuju konser tunggalnya! Formasi kelompok vokal diisi oleh Trap's, single Saling Memiliki dikemas apik meski gagal jualan di pasar sebagai first hit. Lalu Elfonda Mekel alias Once (ada yang nggak kenal dengan nama ini? Go to the ocean!) tampil dengan Anggun sebagai second single. Dengan lirik bergaya sastrais torehan Ahmad Dhani (entah kalau dia mencomot barisan kata milik Gibran), dan suara latar ajaib dari Beby membuat penampilan Once dalam lagu pertamanya ini sangat optimal. Side B dibuka dengan lagu upbeat dengan susunan lirik nan apik, Di Sini by Rafael. Karakter vokalnya memang kurang khas namun ialah yang mencipta melodinya. Lima tahun kemudian Sahrul Gunawan mendaur ulang lagu ini di album Sentuhan baru. Hey, kalaukamu dengar track pembuka album ini kok kayaknya ada Padi ya? Mr.Q band asal Surabaya yang mengusung kebebasan pilihan hidup dalam liriknya, adalah band lawas Fadly sebelum akhirnya ia menjadi front man Padi. Keren kan?

Apa lagi yang menarik dari album ini? Suara almarhumah Nita Tilana!!! Ia menjadi backing vocal Inggit di track pamungkas ciptaan Nugie, Lagu Hidup. Semakin menarik, lantaran cover album ini dibuat dua warna! Versi pink, seperti yang saya punya, dan versi biru tua yang kalem maskulin. Seperti di sampul depannya ada gambar cowok dan cewek, begitulah dua warna ini diperuntukkan. Yang pink menyasar para pere, yang biru tua untuk para cowok. Kalau kemudian saya beli yang pink, salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?

Inilah mahakarya Aquarius yang kurang direspon pasar. Secara tahun 1999 pasar musik kita bubruk gara-gara krisis moneter. Belum lagi gaung Bahasa Kalbu, Keliru, dan Dan yang menggamit platinum terlalu sulit untuk dibantah album lain. Untunglah saya membeli kaset berpitanya sebagai dokumentasi pribadi saya. Meski teman-teman saya bilang, “Beli kaset apaan sih?!”

Music meter: 7/10

Jumat, 11 Juli 2008

Janji di Atas Ingkar, Berjanjilah...

Yovie Widianto banget ya? Tapi ini adalah cerita yang baru saja saya alami. Pagi tadi saya bangun kepagian, jam 9. Saya mandi dan pastinya keramas, terserah Anda mengartikan apa soal keramas ini. Lalu saya mencukur jenggot dan kumis yang mulai tumbuh, mengenakan minytak wangi, body lotion dan tabir surya. Rambut saya minyaki dan dibuat mohawk atau sasakan gaya Artalyta-Rakhee Punjabi menurut pemimpin redaksi saya. Setelah itu saya memakai kaus kaki baru, kaus favorit dan (yang ini nggak penting, sumpah!) celana dalam favorit. Lalu berangkat dengan semangat juang kebangkitan nasional. Mengapa saya tampak necis hari ini? Karena saya akan bertemu narasumber favorit saya habis maghrib nanti.

Menjelang maghrib, si narasumber meng-SMS saya, Wayan, ternyata flash disc-nya ada virusnya ya? Padahal sebelum saya berikan padanya, sudah diformat ulang oleh redaktur fotografer. Barulah saya sadar bahwa selama hampir dua bulan ini flash disc itu baru dibukanya. Jadi salah siapa kalau kena virus? Salah gue? Salah temen-temen gue? Dia hanya bilang, nanti saya kabari lagi. Seperti SMS-nya yang sudah-sudah. Firasat saya makin tak enak. Lalu saya dan driver menembusi macetnya Jakarta menuju kediaman beliau. Saya meng-SMS dia, kalau posisi kami sudah on the way. Ternyata jawabnya pun seperti yang sudah-sudah, wah saya stuck diluar, besok pagi saya titip di resepsionis ya. Saya terdiam. Lalu melihat ke jalanan dari balik kaca mobil. Mulut mengumpat, tapi apalah untungnya bagi saya? Dengan mengumpat pun tak akan membuat flash disc saya pulang sesegera mungkin.

Padahal tadi pagi, saya sudah merangkai banyak kata membuat biografi singkatnya untuk mengisi salah satu rubrik saya. Rontok sudah ide brilian itu. Begini rasanya dipermainkan hanya dengan kata-kata. Rumusnya sama pula. Berjanji besok habis maghrib. Lalu menjelang jam J, dibatalkan dengan sejumlah alasan via SMS. Sebagai pengobat kecewa untuk janji yang dibatalkan, dibuatlah janji baru. Untuk kemudian diingkari dengan cara yang hampir sama. Atau kalau tidak, diberikannya solusi alternatif yang masih sumir, apakah itu cukup solutif? Apakah itu nyaman bagi pihak yang teringkari? Hampir dua bulan saya seperti hamster. Terjebak pada pola perputaran yang sama. Dan ironisnya, saya tak sadar sedang naik komidi putar tanpa terpikir menyudahinya.

  1. Saya teringat dua tahun silam, ketika saya berjanji dengan teman saya yang PNS itu untuk menginap rumah teman saya yang lain, di Mojosongo Solo. Tak dinyana siangnya, saya ketemu gebetan masa SMU dulu. Dia menawarkan nonton The Da Vinci Code, lalu saya mengamininya. Alhasil, PNS murka karena saya lebih mementingkan mantan gebetan ketimbang memenuhi janji. Sebagai tebus dosa, saya mentraktir dia nonton Lentera Merah di studio4. Sementara saya asyik bersama sang gebetan di Studio 1. Apa bedanya saya dengan narasumber saya kini? Begini rasannya diingkari janji. PNS dongkol, sama seperti saya kini mencari pelampiasan kekecewaan.

  2. Menurut saya janji tetaplah utang. Pepatah jaman jebot itu tetap berlaku sekarang. Why? Karena sekarang banyak pengemplang utang yang merasa melupakan utang itu sah-sah saja. Jadi kalau anda suka mewartakan kasus kredit macet dan buron pengemplang utang sementara anda suka mengingkar janji, maka anda sebelas dua belas dengan para pengemplang itu. Saya tegaskan, janji adalah utang. Utang adalah janji. Kalau anda mengemplang janji berarti anda mengemplang utang. Kalau Anda mengemplang utang sekian rupiah sementara anda sudah janji akan membayarnya, maka jelas sudah orang macam apa Anda.

  3. Saya sudah menempati kedua posisi itu, mengingkari janji dan jadi korban ingkaran janji. Keduanya sama-sama nggak mengenakkan. Saat mengingkari janji kita seperti dikejar-kejar sesuatu. Saat jadi korban ingkaran janji rasanya ingin sekali membubuhkan serbuk racun ke dalam gelas yang akan diminum si narasumber.

  4. Kalau anda mengingkari janji tapi tak merasa bersalah saya sangat salut. Salut pada muka tebal anda. Salut pada begitu banyaknya stok malu yang anda punya. Bisa-bisanya berkali-kali ingkar janji, berkali-kali malu, akhirnya kebal malu. Ada lagi yang perlu saya saluti dari orang macam begini?

Tri Mas Getir: Sindiran Buat Para Artis Infotainment


Pemain : Tora Sudiro, Indra Birowo, Vincent Club 80's, Titi Kamal, Tino Saroengalo&Cut Mini

Skenario : Rako Prijanto&Monty Tiwa

Sutradara : Rako Prijanto

Produksi : Rapi Films

Produser : Gope T. Samtani&Subagyo S.

Durasi : 97 menit



Ciang Pek (Sudiro) Sugeng (Birowo) dan Ujang (Vincent) tiga bersahabat yang mengidolakan bintang film cantik terkenal, Katrina Katrodipuro (Kamal). Beberapa kali mereka menjajal sebagai figuran di film-film Katrina. Suatu ketika, engkong Ciang Pek meninggal. Di malam pemakamannya, gembong mafia Munar Sapawi (Saroenggalo) menagih hutang Enkong sebesar 200 juta dan mengancam akan menyita perguruan wushu engkong jika gagal melunasinya. Putus asa mencari solusi bayar hutang, Sugeng mengusulkan menculik Katrina. Ia meminjam uang lagi pada Munar untuk membeli peralatan menculik. Sialnya, mereka keliru menculik Fatima (Mini), bintang film yang tak lagi terkenal. Dengan banyak trik Ciang-Ujang-Sugeng ngotot minta uang tebusan pada produser Star Joni (Robby Tumewu).


Kombinasi Tora-Birowo kami khawatirkan membuat Tri Mas Getir menjadi Extravaganza versi layar lebar. Benar saja, setengah jam pertama arah film ini sedikit kabur. Beberapa lawakan terasa kurang nendang. Untungnya, Indra segera menemukan formatnya berkelakar. Ia tampak mengalir hingga pengujung film. Ini tak luput dari lawan mainnya, Emmy Lemu. Vincent yang setia mengenakan kaus bergambar cover album Indonesia klasik tampil polos, beberapa dialog beraksen Padang manjur merilekskan syarat penonton. Scene stealer film ini adalah si mafia utang Tino Saroenggalo yang tampil sok perlente dan nakal. Menjelang akhir film, dengan lincah ia memancing tawa penonton. Patut disayangkan, Titi Kamal yang mejeng di poster film kurang berkontribusi. Ia seolah menjadi bonus bagi mereka yang telah membeli tiket. Malah Cut Mini yang lebih terampil menjaga mood lucu.


Secara cerita, kita bisa berharap dari Monty dan Rako. Duo ini males ribet memikirkan pesan apa yang ingin disampaikan pada penonton. Mereka malah sibuk menyentil tingkah pola artis dan betapa infotainment bergembira saat publik figur mencoba ngeksis. Sentilan yang sebenarnya mampu membuat artis dan wartawan hiburan patut ngilu. Sebagai komedi, Tri Mas Getir belum beranjak dari tradisi menjadikan seks sebagai objek melawak. Adegan macam melempar CD dan BH masih saja jadi jurus andalan, kendati kurang efektif karena trik purba macam begini sudah dirintis sejak zaman Warkop DKI. Dan dilestarikan lagi sejak Quickie Express menangguk sukses. Untunglah, Rako tak berlama-lama bermain di area ini. Selanjutnya dialog dan kekuatan aktinglah yang diandalkan.


Tak banyak hal baru yang dipamerkan Tri Mas Getir selain hiburan konyol dan bahan tertawaan. Sejatinya sebuah film ingin menghibur penikmatnya, Rako pun demikian. Tapi bagi penonton yang merasa menghibur saja tidaklah cukup, barangkali akan mengernyitkan dahi saat keluar bioskop. Sisi dramatis kurang digarap maksimal, meski sengatan kritik sosial menyelip perlahan. Jadi, puas tidaknya Anda pada Tri Mas Getir bergantung pada ekspektasi Anda saat mengantre di loket bioskop. Nah, kami tanya dulu, apa ekspektasi Anda?


Narayana's Pop Corn: 2 pop corns, lumayan buat ngakak-ngakak

Liburan Seruuu...!!: Pakai Sepatu Anak-anak Yuukkk?!


Pemain : Ken Nala Amrytha, Raja Intan Permata, Arsenna Moch. Rahadi&Quinsha Jasmine Haq

Skenario : Tian Pranyoto Gafar

Sutradara : Sofyan D Surza

Produksi : Alenia Pictures

Produser : Ari Sihasale&Nia Sihasale Zulkarnaen

Durasi : 97 menit


Nala (Amrytha) dan Tama (Permata) berlibur bersama kedua sepupu mereka Reno (Arsenna) dan Inka (Jasmine) ke rumah Tante Canda (Cinthya Lamusu). Petualangan mereka dimulai sejak berangkat dari stasiun Gambir, mereka ketinggalan kereta karena keteledoran Momo (Minus C. Karoba). Petualangan mereka semakin seru setelah Nala menerima peta misterius dari Baja dan Inka diculik. Dengan kecerdasan Nala Cs, Inka berhasil dibebaskan dan berupaya melapor polisi. Namun belum sempat niat itu diwujudkan, Nala dan sahabat-sahabatnya terjebak di sarang para penculik. Di sinilah upaya Nala, Baja, Tama, Inka, Reno dan Tante Canda diuji. Peta misterius itu mengantarkan mereka pada sebuah penemuan yang tak terduga.


Rindu juga melihat ayah bunda dan si buah hati nyamil pop corn sembari duduk menghadap ke layar lebar. Sebuah fenomena langka paskasukses Petualangan Sherina. Maklum, semenjak itu nyaris semua tema film diperuntukkan remaja ABG, lajang, hingga kaum berumur. Apalagi mengharap acara sehat di layar kaca. Meski banderol acara menggunakan kata 'cilik', 'junior' dan 'anak', tetap saja lagu yang dibawakan dan kemasan acaranya sekian tahun lebih tua dari elemen pendukungnya. Alenia melirik sempitnya space untuk anak-anak dengan menggelindingkan Denias dan kini Liburan Seruuu...!! Apa senjata yang dimiliki Liburan Seruuu...!! untuk menyaingi summer movie dan film Indonesia lainnya?


Pertama, musik. Elemen ini terasa sangat kuat. Dian HP menjadi 'first lady' dengan menggubah tiga lagu baru I Love U Full, Liburan, dan Holiday. Belum lagi, beberapa lagu karya maestro lagu anak-anak A.T. Mahmud. Terus terang tanpa lagu-lagu tersebut, film ini berpotensi boring. Spirit lagu anak-anak yang riang diterjemahkan dalam gerakan yang sederhana dan lincah oleh Ari Tulang yang juga muncul sebagai cameo. Musik dan tari terasa 'nyatu' banget. Ketika tone film mulai loyo, musik Bu Dian HP menimpali dengan energi positif.


Kedua, casting. Akting anak-anak memang tak bisa dibandingkan dengan lakon senior macam Ira Wibowo dan Berliana Febrianti yang sangat keibuan di film ini. Anak-anak tampak natural, meski cara berdialog mereka di beberapa scene terkesan monoton. Tapi semua kelemahan ini segera tercover nyanyian-nyanyian mereka. Mendengar anak-anak bernyanyi membuat film bersetting Jakarta, Tawang Mangu, Kaliurang, dan Semarang ini sejuk dan teduh. Pesan yang disampaikan Liburan Seruuu...!! nggak ribet, “Yah..dimana-mana orang jahat kan selalu kalah dengan orang baik”. Simple bukan? Dan tak sulit untuk diterima oleh anak-anak. Ketiga, setting tempat. Hampir seluruh lokasi pengambilan gambar berada di alam bebas. Keindahan air terjun Gerojogan Sewu Tawang Mangu dan alam hijau Kaliurang terbingkai menawan. Rupanya film ini hendak mengajak anak-anak kembali ke alam. Tak salah mengajak buah hati ke mal, tapi jangan sampai mereka tak tahu bentuk pohon pinus, buta manfaat hutan, dan suara tetes air dalam gua.


Anggap saja melalui Liburan Seruuu...!! anak-anak mendapatkan kembali 'habitatnya'. Sebuah film yang sangat polos, spontan dan sesuai perkembangan usia mereka. Mengapa kami katakan demikian? Karena film ini tidak mengandung kekerasan, mistis, percintaan dan perilaku seksual. Scene penculikan pun di-design dengan gaya jenaka. Maksudnya, mengajak anak-anak menganalisis masalah, mencari clue dan memperlihatkan pentingnya kerjasama menghadapi persoalan. Film ini sangat anak-anak. Dialognya pun khas dan belum beranjak dari patron kanak-kanak. Anda yang telah dewasa bukan berarti kehilangan hak untuk menyaksikan karya Sofyan D Surza. Tapi Anda diminta untuk menyesuaikan diri dengan mood anak-anak. Bagi orang tua, ending film ini gampang ditebak, tapi bagi buah hati Anda bisa jadi film ini menggemaskan dan sangat dinanti akhir kisahnya. Saatnya Anda memahami dunia anak-anak. Bukankah untuk mengukur seberapa jauh anak Anda melangkah, Anda harus mengetahui dan 'mengenakan' ukuran sepatu mereka?



Narayana's Pop Corn: 2 pop corns, agak ngantuk makanya butuh camilan beneran

Jumat, 27 Juni 2008

Mengapa Anjing Peliharaan Malah Lebih Galak Dari Majikannya?

Kemarin saya mewawancara seorang artes. Saya janjian dua minggu sebelumnya. Maklum artes yang satu ini baru saja mengundurkan diri dari trio vokal terkenal dan berada dibawah manajemen kondang di negeri ini. Akhirnya saya sampai di studio tempat kami nge-date. Karena si artes belum datang, saya menunggu sembari duduk-duduk dibawah, tak diberi sambutan apapun, meski sudah saya jelaskan siapa saya dan ada kepentingan apa. Lantaran artes belum juga datang, saya naik ke lantai atas, karena wawancara yang dijanjikan berada di lantai atas. Maksudnya, biar nggak usah naik turun dan si artis (yang juga langsung ke lantai atas) bisa langsung diinterview. Lebih ringkas buat saya dan waktu si artis termanfaatkan secara efektif.

Saya mengucap permisi pada dua karyawati yang sedang bergosip di lantai atas. Lalu saya duduk dengan tenang sambil melayangkan pandangan pada puluhan wajah artis yang terpampang di cover majalah dan dipigura di dinding-dinding studio. Salah satu dari dua karyawati penggosip ini menelepon seseorang. Saya tak tahu apa yang digunjingkan di telepon, sampai seorang pria berkaus loreng (entah dia satpam salah kostum, entah preman pasar tanpa identitas) melabrak saya begini:

“Mas! Bisa turun ke bawah nggak mas!”

Saya syok, dengan 'sapaan' pria ini.
“Siapa yang ngijinin mas naik ke atas! Mas tuh harusnya nunggu dibawah! Kalau saya bilang tunggu dibawah ya dibawah! Saya pikir situ masuk ke dalam mau kencing, nggak tahunya naik keatas! Saya sampai ditelepon orang atas, woi ada orang asing masuk ke atas kenapa didiemin!”

Belum sempat saya jelaskan, pria 'santun' ini berdendang lagi.

“Mas ini benar-benar nggak bisa menghormati orang bawah! Sekarang mas turun!”

Saya hanya menuruti 'petunjuk' sang pria sembari mengucap maaf, menahan tensi emosi.

Sampai dibawah, pria itu masih berceloteh sambil meninggalkan saya yang masih syok.

“Gue kirain masuk ke dalam mau ke kamar kecil nggak tahunya nyusup keatas!”

Sungguh, saya syok. Padahal dibawah saya jelaskan saya dari media ini dan sudah janjian dengan sang artis plus manajemennya. Tak sadarkah orang-orang ini bahwa salah satu majikan mereka mendapat kesempatan emas untuk saya publikasikan secara tak langsung? Tak sadarkah bahwa tamu siapa pun itu, entah wartawan atau tidak, berhak mendapat perlakuan yang layak. Tak bisakah mereka mengganti kata-kata mereka dengan begini misalnya, “Maaf mas, karena mbak XXXX dan manajernya berlum datang, silakan mas menunggu dulu di lantai bawah, karena lantai atas khusus untuk ini dan itu.”?

Yang lebih membuat saya syok, ketika sang manajer datang dan saya menyapa, mbak manajer bilang begini, “Oh mas dari tabloid ini ya, naik aja keatas mas kenapa malah dibawah?” Terpercik dalam benak saya untuk mengadukan perbuatan tak menyenangkan yang saya alami beberapa menit silam. Tapi saya sadar akan ada efek buruk yang pastinya menimpa para bawahan tadi. Begitu saya naik ke atas, dua karyawati keparat itu hanya tersenyum menunduk tanpa berucap satu kata pun. Mbak manajer bahkan menawari saya minuman botol, sembari berucap maaf karena artesnya masih di jalan tol. Selang berapa lama, si artes datang dengan senandung suaranya yang khas. Begitu melihat saya, dia langsung meminta maaf atas keterlambatannya dan kami mengobrol dengan hangatnya, bahkan bergosip ini itu dan tukeran nomor HP pribadinya.

Saya jadi teringat saat di Solo dulu, ada rumah orang kaya yang gerbang pintunya diberi warning: Awas Anjing Galak. Kenapa nggak ditulisi: Awas yang punya rumah galak? Saya jadi membandingkan dengan kejadian yang baru saja saya alami. Seandainya dua karyawati comel dan satu pria 'ramah' tadi adalah anjing galak, mengapa majikannya malah tidak lebih galak dari anjingnya? Mengapa peliharaan lebih galak dari yang memelihara? Mengapa karyawati dan si pria yang notabene bukan siapa-siapa malah lebih sadis dari tuan rumahnya? Saya membayangkan, dua karyawati anjing dan si pria anjing 'ramah' ini, belum jadi artes saja tingkahnya sangat 'santun', apa kabarnya kalau mereka jadi artes kaya dan dikenal publik ya?